Metro Makassar

Tak Punya Pilihan Lain, Anto Terpaksa Jadi Pemulung

DI SIANG yang begitu cerah, langit begitu terang dan matahari menyinari hamparan bumi. Dari kejauhan, tampak sesosok pemulung yang sedang mengais-ngais sampah di sebuah tong sampah warga. Bau aroma sampah yang begitu menyengat, tidak mengendorkan semangatnya untuk mengais sampah yang dianggap berharga.

Laporan: ILHAM RAIS

Bermodalkan sendal jepit, celana pendek yang compang-camping dan setangkai besi pengais. Itulah modal yang dimiliki Anto.
Sehari-hari, Anto menyusuri jalan-jalan di Kelurahan Antang, Kecamataan Manggala, Makassar. Dia memburu botol-botol bekas dan besi tua dari tong-tong sampah warga.
Keseharian hidupnya, Anto menghabiskan waktunya untuk menyusuri jalan dan lorong sepanjang hari. Dia memburu rezeki dari pekerjaan halal yang dinilai oleh sebagian orang sangat terhina.
Tapi, bagi Anto, sehinaan apapun dalam pandangan manusia, pekerjaan yang dilakukannya saat ini dipastikannya hal.
"Saya hanya mencari buat makan adek-adekku dan mamaku yang sedang sakit," ujar Anto ketika ditanyai soal pilihannya menjadi pemulung.
Anto memang tak memiliki pilihan lain. Selain tidak memiliki pendidikan, umurnya pun masih cukup belia untuk bekerja di sektor formal.
Saat ini, Anto mengaku, masih berumur 14 tahun. Sulung dari tiga bersaudara ini menjadi tulang punggung keluarganya, sepeninggal ayahnya yang meninggal dunia. Apalagi, saat ini, ibunya, Daeng Rani, sedang menderita sakit.
"Mama ku sedang sakit. Saya harus bekerja keras untuk mencari uang. Saya hanya bisa menjadi pemulung. Adekku juga menjadi pemulung. Kami bekerja untuk membantu orang tua yang sakit," ujar Anto.
Anak kelahiran Kabupaten Jeneponto ini, setiap harinya berkeliling mencari plastik minuman bekas yang dibuang orang di tempat sampah yang banyak terletak di depan rumah warga dan pinggir jalan.
Setiap pagi buta, Anto meninggalkan kontrakanya untuk bisa mengais rezeki yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya.
Setiap hari, Anto berjalan kaki sekitar 8 kiometer bersama kedua saudaranya yang masi berumur 8 dan 10 tahun, untuk mendapatkan barang bekas.
Bagi Anto, memulung merupakan gerbang untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin membahagiakan orang tuanya yang  sedang sakit di rumah.
"Hasil yang didapatkan itu nantinya dijual ke pengepul yang ada di Antang, Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala," ungkapnya.
Meski masih banyak orang menilai pemulung adalah pekerjaan hina dan kotor, Anto bangga akan profesinya yang sejak umur lima tahun sudah dilakoninya.
"Pekerjaan ini (pemulung) halal dan saya dapat pahala bisa menjaga kebersihan dari pada saya meminta-minta atau menjadi pencuri. Sekali lagi, mending saya menjadi pemulung. Saya ingin membahagiakan orang tua dengan mencari nafkah dari kerjaanku," kata Anto.
Ketika ditanya soal sekolah, Anto mengaku, sebenarnya dirinya mau sekali masuk sekolah. "Mau sekalika sekolah, tapi orang tuaku tidak bisa karena tidak punya uang. Bapakku meninggal waktu saya umur 5 tahun," ujar Anto dengan logat Makassarnya. (ilo/ams/b)

 

Pimpin Upacara Tujuhbelasan

TANGGAL 17 setiap bulan, Pegawai Negeri Sipil (PNS) di seluruh Indonesia, memiliki agenda apel pagi di kantornya masing-masing. Apel pagi ini biasanya dipimpin langsung oleh kepala daerah, jika pelaksanaannya di kantor bupati atau walikota dan gubernur.
Begitu pula di Pemkot Makassar. Pada hari Kamis, 17 April 2014 lalu, Walikota, Ilham Arief Sirajuddin, memimpin langsung apel pagi bagi para pegawai Pemkot di Kompleks Gadis (Gabungan Dinas-dinas) di Jalan Urip Sumoharjo.
Usai menghadiri upacara sekitar pukul 09.00 Wita, Ilham menuju Hotel Yasmin di Jalan Jampea untuk membuka kegiatan sosialisasi Peraturan Mendagri No 1 tahun 2014 tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah.
Sebenarnya, pada saat bersamaan, Ilham juga harus menghadiri bimbingan teknik (bimtek) peraturan perundang-undanghan kerjasama daerah tahun 2014 di salah satu hotel di Jalan Pengayoman. Ilham akhirnya diwakili Plt Sekkot Makassar, Burhanuddin.
Ilham juga sebenarnya juga harus menghadiri pembukaan kegiatan sosialisasi dan pelatihan mental dan rohani yang digelar anggota Korpri lingkup Pemkot di Jalan Maipa.  Namun, Ilham tak bisa hadir karena bersamaan dengan kegiatan lain. Ilham pun diwakili oleh Asisten IV, Ruslan Abu.
Usai menghadiri kegiatan di Hotel Yasmin Ilham, kembali ke ruang kerjanya untuk melayani tamu yang menunggunya.
Pada pukul 13.30, usai menerima tamu, Ilham Lansung menuju Hotel Santika menghadiri pemberian anugerah baksyacaraka 2014 dan penilaian tahap dua persentase dan wawancara tetang pengembangan budaya kreatif.
Usai magrib, Ilham kembali ke rumah jabatannya. Kemudian menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk menghadiri undangan di Jakarta. (ish/ams/b)

 

Sari Laut Mas Joko, RM Apong dan Pak Raden Langgar Amdal

MAKASSAR, BKM -- Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Makassar menyebut sejumlah rumah makan di daerah ini melanggar amdal (analisis mengenai dampak lingkungan).

Berdasarkan data dari BLHD Kota Makassar, diantara rumah makan yang dinilai melanggar amdal adalah Rumah Makan (RM) Apong di Jalan Boulevard, Sari Laut Mas Joko dan RM Pak Raden, keduanya di Pantai Losari, Jalan Penghibur.
Kepala BLHD Kota Makassar, Jamaing, pihaknya sangat menyesalkan para pelaku usaha yang belum tahu juga yang namanya aturan tentang amdal.
"Hal yang sangat mengherankan lagi, mereka juga akal-akalan sampai membuang limbahnya di laut dengan menggunakan pipa yang langsung ke laut dan drainase," ujar Jamaing, kemarin.
Menurut Jamaing, bukan saja ketiga rumah makan ini yang melanggar amdal. Sejumlah hotel juga disinyalir melanggar amdal. "Cukup banyak juga hotel yang melanggar amadal," katanya.
Jika perbuatan pelanggaran amdal berupa pembuangan limbah sembarang tempat ini terus dibiarkan, akan sangat membahayakan generasi ke depan. Sebab, bisa mengakibatkan penyakit kronis, khususnya pada kulit manusia.
Lalu apa tindakan terhadap para pengusaha? Menurut Jamaing, pihaknya telah mengundang para pelaku usaha industri hotel dan restoran. Pihaknya menyampaikan undang-undang tentang lingkungan hidup agar tidak mencemari alam yang bisa mengakibatkan manusia menjadi sakit.
"Saya juga heran mengapa pelaku usaha industri masih saja mendirikan usaha, lantas tidak mengurus izin amdal. Padahal, inilah yang pertama kali harus ada dalam UU No 32 tahun 2009," jelasnya.
Dijelaskan Jamaing, pasal 22 dan 34 undang-undang tersebut sudah mengatakan bahwa setiap usaha ataupun kegiatan yang berdampak terhadap lingkungan hidup, wajib untuk dilengkapi Amdal atau UKL (Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup) dan UPL (Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).
Sebenarnya, lanjut dia, dalam aturan, pada pasal 40 ayat 1, dikatakan, izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha. "Jadi, tidak boleh izin usaha dulu, baru izin amdal. Ini sudah jelas undang-undang telah mengatur," terangnya.
Ia menambahkan, pihak BLDH Makassar selama ini telah melakukan upaya dalam menegakkan aturan undang-undang dengan berbagai sosialisasi, seperti memasang reklame di berbagai titik di kecamatan dan mengeluarkan surat edaran walikota tentang lingkungan hidup.
"Jadi, kami sudah melakukan upaya-upaya dalam menegakkan aturan tersebut. Saya akan memberikan sanksi apabila ada pelaku usaha yang langgar aturan itu. Ketika didapati, kami akan memberikan teguran keras. Kami juga akan mencabut izin usahanya," tegasnya.
Sementara itu, pemilik RM Apong, ketika hendak dikonfirmasi, tidak berada di tempat. "Tidak ada yang masuk," ujar salah seorang karyawan RM Apong, kemarin.(ish/ams/b)

   

Wisnu Sandjaja Puji Warga Makassar

MAKASSAR, BKM -- Mantan Kapolrestabes Makassar, Kombes Wisnu Sandjaja, baru saja menyerahkan jabatannya kepada Kombes Pol Ferry Abraham sebagai penggantinya.
Acara serah terima jabatan dilakukan di aula Mapolda Sulsel di Jalan Perintis Kemerdekaan, Rabu (16/4). Kemudian ramah tamah dilakukan di Hotel Grand Clarion, Rabu malam.
Pada kesempatan itulah, Wishnu menyampaikan pujiannya untuk warga Kota Makassar. Menurut dia, dirinya sangat sulit untuk melupakan kearifan masyarakat Kota Makassar.
"Betapa mengikatnya diri saya dengan berbagai golongan yang ada di Kota Makassar. Masih berat rasanya untuk melangkah. Namun, apa boleh buat waktu yang memisahkan dengan tugas yang saya emban ini penuh keterbatasan," katanya.
Selama menjabat Kapolrestabes Makassar, Wishnu mengaku, banyak kesan yang sulit terlupakan. "Meski saya selama ini melakukan pengamanan di Kota Makassar yang mungkin kalangan masyarakat menilai kepolisian ditanggapi negatif, namun juga banyak masyarakat yang menyikapi secara positif," jelasnya.
Menurutnya, hal yang wajar-wajar saja dalam dinamika kehidupan, tentunya bersinonim. "Kita hanya pengendali pengamanan. Tentunya yang kita harapkan adalah penekanan angka kriminalitas yang setiap tahunnya bisa menurun," katanya.
"Itulah dunia kehidupan terkadang kita hadapi bermacam-macam karakter masyarakat. Namun, semuanya itu perlu kita ketahui juga psikologi masyarakat yang kami hadapi," papar Wisnu.
Ia berharap dengan hadirnya Kombes Ferry Abraham mampu meminimalisir geng motor yang anarkis. (ish/ams/b)

 

Dewan Fokus Pelantikan DIA LKPJ Ilham Terabaikan

MAKASSAR, BKM -- Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar lebih memprioritaskan agenda pelantikan walikota-wakil walikota Makassar terpilih ketimbang menetapkan jadwal rapat paripurna Laporan Kerja Pertanggungjawaban (LKPj) Walikota Makassar periode 2009-2014.
Hingga kini, Dewan melalui Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Makassar hanya menetapkan agenda pelaksanaan pelantikan walikota-wakil walikota periode 2014-2019, Muh Ramdhan Pomanto-Syamsu Rizal MI (DIA) yang ditetapkan pada 8 Mei 2014 berlangsung di pelataran anjungan Bugis-Makassar dalam rapat Bamus yang dihadiri Pjs Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar, Burhanuddin, di kantor DPRD Makassar, beberapa pekan lalu.
Ketua Panitia Khusus (Pansus) LKPj Wakikota-Wakil Walikota Makassar periode 2009-2014, Yusuf Gunco, membenarkan, dalam rapat Bamus Rabu lalu, hanya membahas tentang penetapan jadwal pelantikan DIA. Sementara untuk penetapan jadwal paripurna LKPj Walikota-Wakil Walikota priode ini, Ilham Arief Sirajuddin-Supomo Guntur (IASmo), belum masuk agenda pembahasan Bamus.
"Iya, Bamus belum bahas soal jadwal paripurna LKPj Walikota. Padahal, pansus sudah selesai melakukan proses pembahasan dan sudah mengajukan ke pimpinan untuk dijadwalkan paripurnanya," kata Yugo, sapaan akrab Legislator Golkar Makassar ini.
Terpisah, Koordinator Banmus DPRD Kota Makassar, Busrah Abdullah, menilai, kerja-kerja rekannya sudah sedikit menyimpang dari tugas pokok di alat kelengkapan dewan yang sedianya mengatur waktu, tempat dan materi apa saja untuk agenda paripurna laporan pertanggungjawaban walikota Makassar periode tahun 2009-2014.
"Sudah mau diapalagi, kalau kehendak teman-teman mendahulukan rapat Banmus untuk pelantikan kepala daerah terpilih. Padahal, LPJ Walikota Makassar itu sangat penting karena dari hal itu menggambarkan apa saja yang masih menjadi kendala pemerintah dalam menjalankan fungsinya," kata Busrah Abdullah saat ditemui dilantai dua kantor DPRD Makassar.
Sementara itu, Kasubag Humas DPRD Makassar, Ilyas Said, mengatakan, secara bertahap agenda kerja Banmus sudah terpogram. "Kalau rapat Banmus mengenai LPJ Walikota Makassar  akan digelar 21 April mendatang," kata Ilyas Said. (ril/ams/b)

   

Halaman 1 dari 100

Group BKM | JAWA POS | FAJAR | RADAR | PARE POS | PALOPO POS | KENDARI POS | AMBON EKSPRES | PALU EKSPRES | BUTON POS | UJUNG PANDANG EKSPRES | RAKYAT SULSEL | RAKYAT SULTRA