Metro Kriminal

Misteri Mayat Dalam Ember Belum Terungkap

MAKASSAR,  BKM--Teka teki motif pembunuhan Staf Bagian Administrasi RSUD Wahidin Soedirohosodo, Daud  masih misterius.
Pihak kepolisian sejauh ini mengaku masih terus menyelidiki motif kematian pria berusia 35 tahun ini/
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes  Endi Sutendi yang dikonfirmasi BKM mengaku belum dapat menyampaikan hasil penyilidikan karena proses penyelidikan masih sedang berjalan di Polsek Tamalanrea.
"Masih lidik dan pemeriksaan saksi. Jasad  sudah diotopsi dan sudah diambil pihak keluarga, tapi hasilnya masih," kata Endi, Jum'at (25/7).
Endi menguraikan, Daud ditemukan  tewas meninggal dalam kondisi tertungkuk dalam sebuah ember besar namun tak ada bagian dari tubuh dari Daud yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan.
"Kondisi jenazah tak ada luka lebam atau sayatan benda tajam. Tapi ini masih dalam pemeriksaan pihak forensi, dan kita tunggu saja perkembangannya," tukas Endi.
Jenazah Daud Kamis malam telah dibawa pihak keluarga setelah melalui proses otopsi pihak Rumah Sakit Bhayangkara. Jenazah Daud dikebumikan di Desa Batualu Kalinduang, Kecamatan Sangalla, Tana Toraja.
Misteri kematian Daud masih menjadi pertanyaan besar oleh pihak keluarga. Sejumlah spekulasi muncul menyusul kematian almarhum yang dinilai tidak wajar.
Masdi sepupu korban kepada BKM, Jumat kemarin mengaku kalau almarhum sempat menceritakan kepada keluarga terkait persoalannya kepada tetangga kamar yang tak lain rekan kerjanya.
"Alamarhum pernah cerita kalau ada masalah sampai tidak saling bicara sama teman kerjanya yang bersebalahan kamar. Tapi dia tidak cerita banyak soal masalahnya itu," kata Masdi, sesaat sebelum melepas jenazah Daud menuju Toraja.
Masdi mengaku, almarhum belum  berkeluarga dan sudah lebih dari lima tahun memilih tinggal di RS Wahidin. Ia membenarkan,  almarhum telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) setelah sebelumnya sebagai tenaga honorer. Daud  dikenal sebagai sosok ramah dan bersahabat. Selama ini Daud sering melakukan komunikasi dengan keluarga pamannya yang tinggal di Panaikang Makassar.
"Beliau sering datang ke rumah pamannya di Panaikang. Kita mengenal dia sebagai sosok yang ramah. Makanya kami sangat syok mendengar peristiwa ini," kata Masdi.(ril/cha/B)

 

Kasus Korupsi BPPKT Masuk Pengadilan

MAKASSAR, BKM--Tim penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Makassar, telah menerima hasil audit kerugian negara dari BPKP terkait kasus  korupsi proyek revitalisasi pengadaan peralatan bengkel di SMKN Balai Pendidikan dan Pelatihan Kejuruan Teknologi (BPPKT) Makassar. Kasus ini akan segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Makassar usai lebaran.
Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) Kejari Makassar, Joko Budi Darmawan, Kamis (24/7) mengatakan, pihaknya sudah menerima hasil audit BPKP kasus korupsi BPPKT.
Jumlah kerugian negara dalam kasus ini Rp 400 juta dari total anggaran proyek Rp 5 miliar.
Kerugian negara timbul, akibat adanya beberapa item yang diduga tidak sesuai bestek.
Dalam kasus tersebut ini, Tim penyidik Kejari Makassar telah menetapkan tiga orang  sebagai tersangka.
Joko mengatakan, tiga orang yang ditetapkan sebagai tersangka yakni mantan Kepala Sekolah SMK BPPKT, Surya Patu, Pelaksana Kegiatan, Husain dan Pelaksana Rehabilitasi, Ahmad Zulfikar.
Dari hasil laporan penyidikan, ada delapan item barang yang diadakan diduga kuat fiktif. Indikasinya, tidak satu pun laporan hasil kegiatan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh pengelola proyek. Jumlah kerugian negara dalam kasus ini ditaksir mencapai Rp 400 juta, Diketahui, tahun 2010 SMKN BPPKT kini SMK 1 Sulsel, telah menerima kucuran dana dari Kementerian Pendidikan Nasional untuk membangun fisik sekolah senilai Rp 5 miliar. Pengucuran dana cukup janggal karena proyek tersebut dilakukan pada november 2010 saat akhir-akhir pertanggungjawaban.(mat/cha/C)

 

Belanja Baju Lebaran, IRT Dijambret

MAKASSAR, BKM--Hamida (48), warga Jalan Malengkeri, Jumat (25/7) sekitar pukul 11.10 Wita dijambret di Jalan Tentara Pelajar saat berjalan kaki pulang dari Pasar Butung belanja baju lebaran. Dua pria  berboncengan sepeda motor dari belakang merampas tas jinjing berisi sejumlah uang milik korban.
Warga yang mengetahui ada dua pelaku jambret dengan cepat bereaksi.
Warga melakukan pengejaran, namun kedua pelaku berhasil tancap gas dan menghilang di keramaian lalu lintas.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Pelabuhan, AKP Edi Purwanto mengatakan, pihak Polees belum menerima laporan jambret di Jalan Tentara Pelajar. Menurut Edi, ada kemungkinan korban jambret melapor di Polsek Wajo.
Kapores Pelabuhan AKBP Wishnu Buddhaya menghimbau kepada masyarakat yang belanja kebutuhan lebaran agar berhati-hati dan jangan memakai perhisan menyolok di tempat umum.  (jul/cha/C)

   

Perang Kelompok Marak, FORMAB Minta Kapolsek Makassar Dievaluasi

MAKASSAR, BKM-- Sekjen Forum Pemuda dan Mahasiswa bersatu (FOPMAB), Sofyan Azali dan Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Mahasiswa (PPM), Amin Rais mendesak Kapolda Sulsel  segera mengevaluasi Kapolsek Makassar. Kapolsek Makassar dianggap tidak mampu menyelesaikan dan menuntaskan sejumlah kasus  perang kelompok yang terjadi di wialayah Kecamatan Makassar. Hal ini ditegaskan Sofyan saat berkunjung ke redaksi BKM,  Jum'at (24/7).
Sofyan Azali menilai, Kapolsek Makassar gagal dalam menuntaskan sejumlah kasus perang kelompok.
"Kami mendesak Kapolda untuk segera mencopot Kapolsek Makassar dari jabatannya", tegas Sofyan.
Terkait maraknya perang kelompok yang terjadi di Kecamatan Makassar menurutnya, Kapolsek tidak mampu mengatasi kerawanan konflik yang terjadi. Sofyan juga mengatakan akan menyurat ke Mabes Polri dalam waktu dekat ini, jika Kapolda tidak bisa mengambil sikap dalam menuntaskan persoalan ini.
Ketua PPM Sulsel, Amin Raiz juga menganggap, Bimmas tidak bekerja secara maksimal dalam mencari solusi penyelesaian kasus ini.
"Harusnya aparat  bisa memediasi kasus ini dengan merangkul tokoh-tokoh masyarakat yang warganya sedang konflik", jelas Amin.
Amin juga mengatakan, pihaknya akan melakukan aksi unjuk rasa jika tidak ada upaya Kapolda dalam menuntaskan desakan ini.
Menurut dia, masyarakat yang tinggal di Makassar sudah merasa resah dengan adanya aksi perang kelompok tersebut. (mat/cha/C)

 

Hakim Tolak Eksepsi Dokter Zaenab

MAKASSAR, BKM--Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) menolak eksepsi yang diajukan Dokter Zaenab, mantan Dirut Rumah Sakit Daya yang terbelit kasus korupsi alat kesehatan RSUD Daya tahun 2012. Majelis Hakim Makmur dengan hakim anggota Frangky Tambuwun dan Andi Sukri Syahrir dalam putusan selanya mumutuskan agar sidang perkara dilanjutkan dan segera memasuki tahap pemeriksaan saksi-saksi.
Salasah Alber selaku kuasa hukum Dokter Zaenab menolak dakwaan jaksa
yang mereka nilai  tidak cermat. Kerugian negara yang dipaparkan dalam dakwaan JPU dinilai tidak Relevan atau tidak mendasar. Namun pembelaan yang diajukan ini ditolak oleh hakim.
Majelis Hakim menilai, proses persidangan harus terus dilanjutkan demi mengungkap fakta-fakta atas kerugian negara yang dimaksud pada proyek pengadaan Alat Kesehatan (Alkes) RSUD Daya tahun 2012. Hakim berkesimpulan, materi eksepsi penasehat hukum terdakwa tidak dapat diterima.
"Sidang perkara ini tetap dilanjutkan hingga putusan terakhir,'' tegas Makmur.
Terpisah, JPU, Muhammad Idham Syam saat ditemui BKM usai sidang mengatakan, pada gelaran sidang mendatang rencana akan menghadirkan 2 orang saksi, Drs. Muhammad darwis,mantan kabag keuangan pada RSUD kota Makassar, DR.dr. Warsinggih, SP.B-KBD, ketua komite Medik pada RSUD kota Makassar. Idham juga mengatakan " untuk mengungkap kerugian-kerugian negara yang ditimbulkan dalam perkara ini memang harus melalui proses sidang", jelas Idham. (mat/cha/B)

   

Halaman 1 dari 26

Group BKM | JAWA POS | FAJAR | RADAR | PARE POS | PALOPO POS | KENDARI POS | AMBON EKSPRES | PALU EKSPRES | BUTON POS | UJUNG PANDANG EKSPRES | RAKYAT SULSEL | RAKYAT SULTRA

Login / Registrasi