GOJENTAKMAPAN

Terpaku Saat Dipasangi Tope, Ponto Jangang-jangang dan Sudanga

BKM/SAR
PENOBATAN--Rangkaian prosesi penobatan I Kumala Idjo sebagai Raja Gowa ke-37 dengan gelar Sultan Kumala Idjo Batara Gowa III.

-Penobatan I Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang sebagai Raja Gowa ke-37

SEBUAH sejarah baru dibuka I Kumala Idjo. Putra mahkota atau Patimataranna Gowa yang juga putra bungsu Raja Gowa ke-36 (Kepala Daerah Gowa yang pertama), Andi Idjo Karaeng Lalolang, ini resmi dinobatkan menjadi penerus kebangsawanan Kerajaan Gowa dengan nama I Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang dengan gelar Sultan Kumala Idjo Batara Gowa III.

Laporan: SARIBULAN

Pukul 10.00 Wita, Selasa, 2 September 2014, di kaki Istana Museum Balla Lompoa, upacara sakral Kerajaan Gowa dihelat. Andi Kumala Andi Idjo yang kini bergelar Bangsawan I Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lembang Parang, ini menitikkan air mata ketika sejumlah tamu kerajaan yang berasal dari sejumlah kerajaan yang menjadi anggota Forum Silaturahim Keraton Nusantara (FSKN) se Indonesia, satu persatu memberikan ucapan selamat atas penobatannya sebagai raja Gowa. Hal sama diperlihatkan oleh Andi Hikmawati I Kumala Idjo, istrinya yang kini bergelar sebagai permaisurinya.
Banyak pihak yang tidak menyangka jika penobatan ini bisa terlaksana lancar dan sukses, meski tidak dilakukan di prasasti Batu Pallantikang sebagaimana pelantikan Raja-raja Gowa terdahulu. Namun begitu, Dewan Hadat Bate Salapang (DHBS) yang menjadi pelaksana penobatan ini dengan kesepakatan bersama menyatakan penobatan ini sah sebagaimana adanya diatur dalam tata upacara pelantikan dan penobatan raja-raja yang telah dilakukan turun temurun di masa lampau.
I Kumala Idjo sendiri hanya terdiam, terenyuh menjalani prosesi yang dulu hanya dialami ayahandanya saat penobatan sebagai Raja Gowa ke-36. I Kumala Idjo lebih terlihat trenyuh, namun tetap memperlihatkan wibawa seorang Batara Gowa saat songkok guru yang dikenakan sebelumnya dilepas oleh DHBS yang dilakukan oleh Sekretaris DHBS, Haji JA Paramma Daeng 'Jaga Daengta Gallarrang Mangasa.
Kemudian disusul oleh Ketua DHBS, Ir H Abd Razak Tate Daeng Jarung Gallarrang Tombolo yang menyematkan ponto jangang-jangang dan sudanga yang merupakan simbol keagungan penobatan seorang raja di Butta Gowa ini. Menyusul kemudian pemasangan sulepe oleh DHBS lainnya yang makin membuat perhelatan penobatan I Kumala Idjo menjadi lebih sakral lagi.
Haji Sirajuddin Ardan Gallarrang Parigi yang tampil membacakan pidato penobatan dengan durasi kurang lebih hampir satu jam itu membuat para raja dari luar dan dalam Sulawesi terpukau.
Raja Aceh dari Kesultanan Aceh, Haji Muhammad Guntur Gempar Alam, menilai, penobatan ini sangat luar biasa. Sebab, di zaman merdeka ini dirinya pun masih dapat menyaksikan prosesi sakral penobatan seorang raja di tanah Sulawesi, yakni di Kerajaan Gowa, kendati di Gowa ini sendiri sudah tidak ada lagi kekuasaan raja, melainkan telah menjadi bagian dari wilayah pemerintahan era masa kini.
"Ini sangat luar biasa dan saya sangat yakin bila kegiatan ini merupakan bagian dari pelestarian budaya kita di Indonesia yang beragam suku, etnis dan kerajaan," ungkap Raja Aceh yang hadir dengan pakaian kebesaran Bangsawan Aceh. (sar/ams/b)

 

243 KK Miskin di Pattallassang tak Terima Lagi Raskin

GOWA, BKM -- Entah apa yang menjadi landasan kebijakan pemerintah, sehingga dari 300 KK penerima awal beras miskin (raskin) di Desa Pattallassang, kini tersisa 57 KK saja yang masuk daftar penerima. Sekitar 243 KK lainnya sudah dipangkas dan tidak masuk lagi dalam daftar penerima.
Dominan warga yang hilang dari daftar penerima raskin itu adalah keluarga yang berkehidupan serba kekurangan yang berdiam pada enam dusun di wilayah Desa Pattallassang, Kecamatan Pattallasang, Kabupaten Gowa.
Mereka itu antara lain Kecamatan Pattallassang terdiri dari 8 desa dengan jumlah pemilih kurang lebih 19.000 jiwa. Untuk Desa Pattallassang terdiri dari 6 dusun yaitu Dusun Sawagi, Bu'rung-bu'rung, Sangnging-sangnging, Marannu, Tassilli, Bontolebang.
Sekretaris Desan Pattallassang, Alimuddin Tarang,  mengatakan, untuk data penerima beras raskin awalnya 300 KK. Namun, pada April 2012, ada pengurangan data dari statistik, dari 300 menjadi 57 KK.
Pengurangan penerima beras raskin untuk Desa Pattallassang, menurut dia, pihaknya sama sekali tidak tahu. Sebab, pihak yang mendata langsung adalah statistik Kabupaten Gowa.
Seperi di Dusun Sawagi, hanya satu KK yang mendapatkan raskin (beras miskin), yaitu Sapa Daeng Rewa' dari 100 KK lebih. Sementara masih banyak warga Desa Pattallassang, khususnya Dusun Sawagi yang sangat layak untuk mendapatkan beras rakin.
Mereka yang telah tercoret itu antara lain Dewi Dg Bau (70), Baco Dg Nuru (70), Bacce Dg So'na (50), Basse Dg De'nang (60), Baso Dg Ruppa (50), Tallasa Dg Kuling (50), Rudding Dg Nai (45), Jumakari Dg Ngunjung (45), Ali Dg Nompo (55), Darwis Dg Rola (30), Kadir Dg Situju (35), Teni Dg Nurung (45), Rahim Dg Limpo (55), Kamisa Dg Siang (45).
Nurbaya Dg Nurung (40), Cacce Dg Tasa (50), Bakri Dg Mangung (35), Rahman Dg Kulle (25), Bio Dg Tommi (60), Nurdin Dg Siama (45), Baneng Dg Tiro (40), Asse Dg Romba (40), Zulkarnain Dg Bunga (35), Ruma Dg Ngeppe (60), Mangnyu Dg Tobo (65), Sarimina Dg Ti'no (60). Sampari Dg Lanti (35), Jamaluddin Dg Sijaya (35), Azis Dg Tola (30). Aminah Dg Bau (45), Jamaung Dg Ngati (55), Bali Dg Tutu (35), Hanaping Dg Bombong (35). Adam Dg Pata (55), Darusi Dg Lurang (45), Hasanuddin Dg Saleng (35).
Sejumlah warga Dusun Sawagi yang ditemui di rumahnya, termasuk Dewi Dg Bau dan Basse Dg De'nang, mengaku, mereka pernah menerima raskin, tapi sekarang tidak lagi, bahkan sudah tidak ada lagi namanya.
"Riolo le'ba'ja anggappa tapi anne salloma tena naku nggappa berasa miskinga (dulu saya pernah dapat tapi sekarang tidak lagi mendapat beras miskin)," kata dua janda tua ini.
Menyikapi hal itu, Nurdiansyah, salah seorang pemuda Pattallassang, berharap Pemkab Gowa dalam hal ini Badan Pusat Statistik mendata dengan sebenarnya sesuai apa yang ditemukan di lapangan.
"Kami menduga apa yang dilakukan pihak Statistik hanya sebuah pencitraan bahwa di Gowa pada umumnya dan khususnya di Kecamatan Pattallassang, taraf hidup masyarakat sudah sejahtera. Padahal, buktinya tidak demikian. Untuk membuktikan, pihak terkait dalam hal ini statistik harus turun ke lapangan mensurvei kembali warga di sejumlah dusun agar kenyataannya bisa diketahui bersama," kata Nurdiansyah.
Terpisah, Camat Pattallassang, Andi Sura Suaib, mengatakan, seharusnya statistik data yang dibuat menginformasikan kepada pemerintah setempat mulai dari kepala dusun, kepala desa hingga camat, sehingga betul-betul keakuratan data penerima raskin diperoleh.
"Misalnya, kalau ada pengurangan data warga penerima raskin, seharusnya dibuatkan skala prioritas dan diambil mulai dari termiskin. Saya menilai pasti hal ini tidak dilakukan, buktinya masih ada warga prasejahtera yang tidak menerima," kata Camat. (sar/ams/b)

 

Presiden Pecinta Kembang Dunia Berkunjung ke Jeneponto

JENEPONTO, BKM -- Sebanyak 26 orang anggota rombongan pecinta tanaman kembang dari 26 negara mengunjungi Kabupaten Jeneponto, Senin (1/9). Rombongan dipimpin Presiden Pecinta Kembang Dunia (Heleconia International Convention) Ny Clara dari Australia.
Rombongan ini diantar pengusaha asal Bali, Tun Bruno. Mereka disambut oleh Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, Ny Hj Hamsiah Iksan, Wakil Bupati Mulyadi Mustamu, Ny Hj Yaisa, Ketua PN Heriyanto, Kajari Mustaming, Kapolres AKBP Sigit Waluya, Sekkab Muh Syarif, Pasiter Kodim 1425 Kapt Muh Amin, para Kadis, asisten staf ahli Kaban, Kakan dan lainnya.
Tarian oleh gadis-gadis dari SMA Negeri 1 Jeneponto di gedung Kalabbirang rujab Bupati menyambut kedatangan anggota rombongan.
Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, dalam sambutannya, mengatakan, kedatangan Presiden Pecinta Kembang Dunia atau President Heleconia International Convention, Ny Clara dan anggota merupakan bentuk penghargaan kepada Pemkab dan rakyat Jeneponto.
"Kami belum banyak memerlihatkan jenis kembang-kembang yang tumbuh subur yang ada di daerah ini. Sebab, saya baru menata taman-taman ruang terbuka hijau (RTH) dan juga baru menjabat beberapa bulan memimpin daerah bersama Wakil Bupati Mulyadi. Jadi, belum banyak jenis kembang khususnya kembang anggrek yang banyak peminatnya," katanya.
Sementara itu, President Heleconia Internatonal Convention, Ny Clara, dalam sambutannya berbahasa Inggris, mengatakan, pihkanya baru saja melakukan rapat dengan seluruh anggota di Bali.
"Dari situlah, teman Mr Tun Bruno meminta kami semua untuk datang ke Jeneponto. Saat ini kami disambut penuh kekeluargaan dengan sambutan meriah. Kami ucapkan terima kasih," katanya.
Menurut dia, kedatangannya untuk melihat langsung kembang apa yang ada di daerah ini, sehingga teman-teman bisa sering bertukar pengalaman dan bisa bertukar kembang antar anggota pencinta kembang dunia.
"Kami mendapat kabar bahwa bupati dan wakil bupati Jeneponto bersama nyonya adalah pecinta kembang. Tentunya, sebagaai hobi bisa dijadikan sarana untuk saling mengenal kembang yang tumbuh di dunia. Kami dan anggota siap membantu jenis kembang yang dibutuhkan," jelas Ny Clara. (krk/ams/b)

   

Polisi Tahan Penambang Ilegal Pasir di Tanralili

MAROS, BKM -- Pemilik  tambang galian C yang selama ini diduga melakukan aktifitas secara  ilegal  di Sungai Bontotangnga Desa Allaeere,  Kecamatan Tantalili, Dg Ralla (45), warga Desa Bonto Tallasa, Kecamatan Bantimurung, terpaksa digelandang ke Mapolres Maros, Selasa (2/9).
Kasubag Humas Polres Maros, Iptu Jumahir, mengatakan, penutupan tambang galian C yang dilakukan petugas berdasarkan laporan dari  masyarakat yang menyatakan  sering melakukan tambang. Caranya, menyedot pasir di sungai dengan cara tidak sah alias ilegal. "Aktifitas yang dilakukan tersangka tidak dilengkapi surat izin yang sah," kata Iptu Jumahir.
Ditambahkan Jumahir, berdasarkan laporan itu, pihaknya menindaklanjuti dengan melakukan pengecekan di lokasi tambang C sambil mengecek kelengkapan administrasi izin operasionalnya.
Hasil pengecekan, tidak ditemukan administrasi yang sah hingga kegiatan tambang di atas sungai langsung ditutup. Mesin peralatan tambang yang masih ada di atas perahu telah dipasangkan police line. "Aktifitas tambang galian C dengan cara menyedot pasir di atas sungai dihentikan sementara sambil menjalani proses hukum," kata Jumahir.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Maros, AKP Imran, mengatakan, kasus penutupan tambang galian c di Tanralili masih dalam proses pemeriksaan petugas.
Dg Ralla yang diduga otak kegiatan tambang secara ilegal ini sudah diamankan petugas Polres Maros. "Aktifitas tambang galian C bersama perahunya di pasangkan police line," kata Kasat.
Ditambahkan Kasat, Dg Rala untuk sementara dalam proses pemeriksaan.  Akibat perbuatanya, Dg Rala dijerat pasal 158 UU Pertambangan tahun 2009 dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.
"Kita tunggu hasil penyelidikan petugas. Jika terbukti bersalah, kami proses hukum," tutup  Kasat. (ari/ams/b)

 

Uang Ganti Rugi Dititip di Pengadilan

PANGKEP, BKM -- Sikap keras Haji Herman, pemilik rumah yang masuk dalam area pembebasan lahan pelebaran jalan di jalan poros Pangkep, memaksa petugas menitipkan uang ganti rugi lahan di pengadilan. Uang sebesar Rp 300 juta itu akan dititipkan di Pengadilan Negeri (PN) Pangkep dalam satu dua hari ini.
Tim pembebasan lahan dari Pemkab Pangkep tidak menemukan titik temu dengan Haji Herman, pemilik lahan, terkait nilai pembebasan lahan. Pemilik lahan menghendaki harga Rp 700 juta, sementara tim pembebasan hanya menyiapkan Rp 300 juta.
Menurut Camat Segeri, Abd Rajab, kasus pembebasan
lahan pelebaran jembatan Segeri hingga ini kini tidak ada titik temu. "Kami sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan pemilik lahan, namun dia bertahan. Awalnya, dia menghendaki harga Rp500 juta, tapi kini malah naik menjadi Rp700 juta," katanya.
Kabag Pemerintahan Pemkab Pangkep, Ahmar Hisbulwatan Mone, menjelaskan, dalam pembebasan rumah Haji Herman ini, pihaknya belum menemukan titik temu terkait harga. "Dia meminta harga tinggi atas rumahnya yang terkena pelebaran jalan, yakni Rp 700 juta. Padahal, luasnya hanya 4x6,5 meter. Mahal sekali. Tidak ada harga tanah di Pangkep di atas Rp 1 juta per meter," jelasnya.
Kalau dihitung rumah Haji Herman yang terkena pelebaran
jembatan dengan mematok harga Rp 700 juta, jelas dia,  nilainya per meter di atas 25 Juta. "Kami membebasakan disesuikan dengan kondisi bangunan, seperti permanen dan setengah permanen. Nilainya berbeda," katanya.
Dalam pembebasan, jelas dia, pihaknya melibatkan tim penaksir dari PU. Soalnya, pihak kontraktor mendesak agar jembatan harus selesai Desember 2014.
"Tentu kami membayar dengan menitipkan uang di PN Pangkep. Harganya berdasarkan NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak). Nilainya hanya Rp 100 juta lebih. Jalan ini kami tempuh mengingat pemiliknya bertahan dengan harga tadi. Apalagi hanya satu rumah yang menghalangi pembangunan, sementara yang lainnya sudah ada kesepakatan harga dan tidak ada masalah," paparnya.
Sementara itu, Asisten I Pemkab Pangkep, Andi Nadir Ratu, mengatakan, pihaknya sudah bherkoordinasi dengan Ketua PN Pangkep, Rusdiyanto Loleh, untuk penitipan uang ganti rugi atau konsinyasi ini. "Panitia tinggal menyiapkan berkasnya untuk dikonsinyasi," jelasnya.
Ketua Pengadilan Negeri Pangkep, Rusdiyanto Loleh, mengaku, pihaknya siap menerima uang konsinyasi ganti rugi tanah tersebut. "Tergantung panitia, kami siap menerima uang konsinyasi tersebut," ungkapnya. (leo/ams/b)

   

Halaman 1 dari 54

Group BKM | JAWA POS | FAJAR | RADAR | PARE POS | PALOPO POS | KENDARI POS | AMBON EKSPRES | PALU EKSPRES | BUTON POS | UJUNG PANDANG EKSPRES | RAKYAT SULSEL | RAKYAT SULTRA

Login / Registrasi