+ Kejari sudah Kantongi Tersangka
- Asal tak dikantongi terus...

+ Pengawasan Penggunaan Dana BOS Minim
- Termasuk yang masuk kantong bos...
Rabu, 28-07-2010
Share |
Harga Gabah Anjlok, Petani Menjerit
SIDRAP, BKM -- Petani di Sidrap kini menjerit. Di tengah tingginya biaya operasional pertanian, produksi gabah yang mereka panen sangat merosot dan harganya relatif murah alias anjlok.
Belum lagi musibah banjir yang melanda 3 ribu lahan sawah siap panen dari 7 kecamatan dua pekan lalu, seakan melengkapi kerugian petani.
Anjloknya harga gabah itu, juga diperparah dengan ulah passangki (buruh panen,red) yang cenderung memilih-milih lokasi panen. Alasannya, untuk menghindari tanah becek akibat endapan lumpur di tengah tingginya curah hujan sejak sebulan terakhir. Sehingga padi yang mendesak untuk dipanen justru tertunda.
Harga gabah yang berlaku di tingkat pedagang saat ini hanya mencapai Rp 2.200 per kilogram. Harga ini berlaku untuk gabah yang dianggap berkualitas. Sebaliknya, gabah yang mutunya di bawah standar hanya dihargai Rp 2.000 per kilogram. Bahkan tidak sedikit gabah petani yang dipanen pertengahan Juli ini, enggan dibeli pedagang akibat mutunya yang rendah.
Salle, salah seorang petani asal Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, mengaku sangat resah dengan anjloknya harga gabah di tingkat pedagang. Biasanya, kata dia, harga gabah bisa mencapai Rp3.000 per kilogram. Namun kali ini merosot tajam.
"Bayangkan, dalam sekarungnya berisi 80 kilogram, harganya hanya Rp 176 ribu,'' ujarnya.
Kondisi ini, menurut La Salle, akan membuat petani seperti dirinya merugi. "Biasanya dalam kondisi normal untuk satu kali musin panen, hasil pertanian kami mencapai 28 karung. Setiap satu karung dihargai Rp270 ribu. Jadi total pendapatan untuk satu kali musim tanam bisa mencapai Rp 7,5 juta. Itu pada saat harga gabah normal. Sedangkan saat ini, hasil panen hanya 16 karung saja. Kalau itu dijual dengan harga rendah, pendapatan hanya sampai Rp 2,8 juta,'' jelasnya.
La Salle diamini petani lainnya di Amparita ini, mengaku masih bingung mencari buruh untuk memanen padinya. Pasalnya, saat ini kebanyakan buruh enggan turun ke sawah.
Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Sidrap, A Yahya yang ditemui di kantornya, kemarin tak menampik turunnya kualitas gabah petani saat ini. Salah satu pemicunya adalah serangan hama kutu loncat. Jenis Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ini, kata dia, tak hanya memakan biji tanaman. Tapi juga menyerang dengan cara mengencingi buah padi.
Akibatnya, gabah yang telah digiling menjadi beras, sedikit terasa pahit untuk dikonsumsi. Selain itu warna beras agak kemerah-merahan.
Pemerintah saat ini, kata A Yahya, masih mencoba mencari solusi untuk membantu petani terhindar dari kesulitan. Terutama dalam memasarkan hasil pertaniannya.

KOMENTAR