+ Kejari sudah Kantongi Tersangka
- Asal tak dikantongi terus...

+ Pengawasan Penggunaan Dana BOS Minim
- Termasuk yang masuk kantong bos...
Jumat, 30-07-2010
Share |
"Demi Uang, Aku Rela Digandeng Bule"
Tia (samaran) tak mampu bertahan dengan kehidupan yang serba pas-pasan. Karena itu ia nekat nyambi jadi 'pekerja malam'. Sasaran Tia adalah para bule yang berlibur di Makassar.
Di awal pernikahannya dengan Aldi (samaran), kehidupan Tia cukup mapan. Waktu itu suaminya masih memegang posisi penting di sebuah perusahaan.
Tapi dua tahun belakangan, semua berubah saat Aldi dirumahkan. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan perampingan dan mem-PHK ratusan karyawan.
Posisi Aldi goyang karena sengitnya persaingan di perusahaan. Jabatannya diambil alih oleh seorang karyawan baru yang didatangkan dari Jawa.
Aldi sebenarnya masih diberi posisi di perusahaan, tapi tak lebih dari sekadar karyawan biasa. Gajinyapun dipangkas habis-habisan. Akhirnya ia memilih mundur.
Persoalan makin rumit, karena rupanya Tia ikut terpukul dengan masalah yang dialami suaminya. Bukannya menyupor, justru mencaci makin Aldi dengan berbagai alasan.
Bahkan Tia sempat minggat ke rumah orangtuanya di Maros, dan meninggalkan dua anaknya yang masih kecil. Untunglah, Aldi masih bisa bersabar menghadapi semua itu.
Sebulan kemudian Tia kembali setelah Aldi berjanji mengembalikan kehidupan ekonomi mereka. Tapi hampir dua tahun berjuang dan mencoba merintis bisnis kecil-kecilan, hasilnya selalu nihil.
Gara-gara usahanya yang selalu, Tia beberapa kali minta cerai. Tapi lagi-lagi mampu bertahan dan meyakinkan istrinya.
Belakangan, sikap Tia makin menjadi-jadi. Ia mulai sibuk dengan urusan di luar rumah. Katanya ini dan itulah, tapi tidak jelas apa yang dilakukannya di sana.
Setiap pagi ia pergi dengan dandanan menor, dan baru pulang menjelang tengah malam. Tia juga pernah menghilang sepekan.
Tak tahu ia ke mana, tapi begitu pulang, ia membawa uang jutaan rupiah. Ketika ditanya ia justru menjawab dengan entengnya. "Sudahlah, nikmati saja. Toh kamu juga tidak bisa dapat uang sebanyak itukan," ucapnya kepada Aldi.
Kata-kata Tia benar-benar telah menjatuhkan harga diri Aldi, tapi kemudian ia kembali menghadapinya dengan sabar. Anak-anaklah yang membuatnya tegar menghadapi semua itu.
Aldi mulai penasaran, apa sebenarnya yang dilakukan Tia di luar sana. Sampai ia begitu mudah mendapatkan uang. Jujur saja, Aldi mulai berprasangka buruk.
Akhirnya, diam-diam ia menyelidiki aktivitas istrinya.
Rupanya benar kecurigaan Aldi, Tia nyambi menemani para hidung belang di hotel-hotel dan di bar-bar elite. Ia belum menyaksikannya langsung, tapi dari informasi beberapa orang sangat meyakinkannya.
Aldi seperti ditampar menghadapi kenyataan itu. Tapi rahasia itu berusaha ia sembunyikan. Seolah-olah ia belum tahu siapa sebenarnya Tia.
Aldi juga mendapat informasi dari beberapa rekannya bahwa Tia sering menggandeng bule-bule yang berlibur di Makassar.
Beberapa kali ia membuntuti Tia ke hotel, namun belum pernah ia temukan istrinya itu bersama bule. Pernah suatu hari ia dapati Tia berduaan dengan seorang pengusaha muda, tapi itupun hanya di lobi hotel.
Barulah pekan lalu ia membuktikan semuanya. Tanpa sengaja ia melihat Tia menuju ke sebuah hotel berbintang di Makassar. Tiba di sana, ia langsung disambut seorang bule, yang kira-kira usainya 40 tahun.
Mereka tampak berbincang sejenak sebelum menuju restoran.
Mereka bergandengan sangat mesra. Dada Aldi bergemuruh. Selanjutnya, di depan matanya ia menyaksikan sang istri dicumbu oleh bule itu.
Karena tak tahan melihat pemandangan itu, Aldi langsung melabrak dan menyeret istrinya keluar dari hotel. Esoknya barulah Aldi melapor ke Polrestabes Makassar.
Saat diperiksa, Tia mengaku hanya menemani para bule itu duduk-duduk. "Saya tidak mungkin bertindak jauh. Kami hanya duduk-duduk, tidak sampai ke kamar hotel," tutur Tia.
Tia mengaku terpaksa melakukan semua ini karena Aldi tidak punya penghasilan tetap. Karenanya itu ia terpaksa nyambi seperti ini demi keluarga.

KOMENTAR