SOPPENG, BKM — Musim kemarau yang bakal datang lebih awal pada tahun ini akan berdampak luas pada tanaman padi petani di Kabupaten Soppeng. Jika kondisi tersebut terjadi, hampir dipastikan akan terjadi penurunan produksi tahun ini.
Berdasarkan data yang dirilis Koordinator Balai Penyuluh Kecamatan Liliriaja Syarifuddin, di wilayah kerjanya terdapat sekita 900 hektare tanaman padi yang terancam kekeringan bilamana pekan ini tidak turun hujan.
”Kalau tidak ada air yang mengalir dalam waktu dekat, luas lahan tersebut berpotensi mengalami gagal panen dan puso,” jelas Syarifuddin, kemarin.
Yang lebih parah lagi, diperkirakan 50 persen luas lahan di Kabupaten Soppeng akan mengalami kekeringan dan gagal panen. Saat ini, kondisi air untuk pengairan irigasi Langkemme berada di bawah normal, yakni hanya 1,2 meter kubik. Padahal posisi normal untuk bisa mengairi areal persawahan adalah di atas 3 meter kubik.
Kondisi ini sangat rawan menimbulkan gesekan di kalangan masyarakat petani, khususnya kelompok pengguna air. Bisa saja mereka saling ngotot untuk mendapatkan air, sehingga saling berebutan.
Menyikapi hal tersebut, Kapolsek Liliriaja AKP Andi Ikbal mengumpulkan seluruh ketua kelompok tani dan kelompok pengguna air di wilayahnya. Pertemuan berlangsung di Aula Kantor Desa Timusu.
Dalam arahannya, Kapolsek meminta kepada masyarakat untuk menahan diri dan tidak mudah terpancing emosi yang bisa merugikan diri sendiri. Selanjutnya, ia meminta kepada petani untuk menyerahkan sepenuhnya kepada petugas pengatur air dalam pendistribusiannya.
”Jadi tidak diperkenankan petani yang langsung mengatur, yakni membuka atau menutup pintu air karena sudah ada petugas terkait hal itu. Kalau ada warga yang melakukannya, silakan dilaporkan dan kita akan proses hukum,” tegas Ikbal. (fir/rus/c)