MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menjamin dampak El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang di Sulsel tidak akan mempengaruhi produksi pangan.
Syahrul menyatakan, secara nasional, memang cuaca sedang ekstrem. Sehingga untuk kepentingan impor pangan, tidak diharamkan.
Syahrul menjamin stok beras Sulsel aman, apalagi saat ini daerah di bagian utara Sulsel akan segera panen. Masih ada sisa-sisa hujan di sana, kendati kekeringannya agak lebih kuat kalau dibandingkan
musim-musim sebelumnya.
Ia juga menuturkan belum menangkap adanya kekhawatiran yang berlebihan terkait hal itu di Sulsel, meski sebenarnya sebagai gubernur ia sempat
mengkhawatirkan hal itu.
“Sampai saat ini masih cukup bagus, kendalinya juga bagus dan mudah-mudahan kita bisa kendalikan sampai November,” paparnya.
Dia mengaku Sulsel tidak banyak terpengaruh karena menghadapi El Nino, pihaknya sudah mempersiapkan sejak tiga bulan lalu.
Syahrul mengatakan, sejak pulang dari London beberapa bulan lalu, pihaknya sudah mempersiapkan langkah antisipatif menghadapi kekeringan.
“Termasuk saya sudah buatkan desknya dan melakukan pemetaan dimana saja daerah yang terkena dampak kekeringan paling parah,” kata Syahrul di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (6/7).
Dia melanjutkan, ada sejumlah langkah dipersiapkan. Untuk sektor perkebunan, diinstruksikan untuk membuat sumur kedalaman 12-30 meter serta menggunakan sistem infus menggunakan botol air mineral. Selain itu, sistem irigasi harus diatur secara ketat. Air tidak boleh dibiarkan mengalir begitu saja.
Syahrul menginstruksikan, jerami bekas panen padi jangan cepat diambil. Itu berguna untuk menutupi lahan sehingga tetap lembab.
“Saya juga sudah menginstruksikan untuk memperbaiki irigasi primer.
Sebelumnya, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulsel, Muhammad Aris, menjelaskan hal
yang sama. Pihaknya optimistis produksi pertanian pangan tidak akan banyak terpengaruh oleh El Nino.
Apalagi menurutnya, mayoritas petani di Sulsel tidak bergantung pada curah hujan untuk mengairi sawahnya, tetapi menggunakan saluran irigasi yang ada.
Dia menegaskan, petani yang menggunakan tadah hujan cuma sekitar 35 persen, itupun untuk tanaman yang memang tidak terlalu membutuhkan air. “Kalau untuk padi, petani menggunakan air dari saluran irigasi,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tetap akan menindaklanjuti himbauan dari BMKG tersebut dengan sistem tudang sipulung yang disebutnya sebagai BMKG tradisional. (rhm/war/c)