Site icon Berita Kota Makassar

Selangkah Lagi Perahu Phinisi Jadi Warisan Budaya Unesco

Ini kabar gembira bagi pemerintah dan masyarakat Bulukumba secara khusus, dan Sulawesi Selatan secara umum. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal (Dirjen) mengusulkan perahu Phinisi sebagai warisan budaya Unesco.
?Pengusulan tersebut sebenarnya sudah dilakukan tahun lalu, dan diharapkan bisa dibahas oleh Unesco tahun ini. Namun hal itu belum bisa terealisasi, karena Unesco memendingnya karena banyaknya usulan yang masuk dari negara lain.
Direktur Direktorat Jenderal Kemendikbud Kacung Marijan menyampaikan hal itu ketika menjadi narasumber dalam Temu Redaktur Kebudayaan hari kedua, Sabtu (8/8) di Hotel Horison, Semarang, Jawa Tengah. Ia disandingkan dengan Endah Wahyu Sulistianti, Deputi Hubungan Antarlembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF). Kedua institusi ini memang dianggap relevan dalam upaya mengembangkan kebudayaan di Indonesia saat ini.
?Selama ini perahu Phinisi yang tercipta dari tangan-tangan perajin asal Butta Panrita Lopi sangat dikenal dunia. Ditambah lagi keberanian para pelautnya mengarungi samudera hingga berkeliling dunia menggunakan phinisi.
Langkah Dirjen Kebudayaan Kemendikbud ini sangat membanggakan di satu sisi, namun menimbulkan kekhawatiran di lain pihak. Kenapa? Karena kegiatan pembuatan perahu phinisi di Kabupaten Bulukumba saat ini tidaklah seperti jauh sebelumnya.
Salah satu faktor penyebabnya adalah makin berkurangnya bahan baku kayu untuk pembuatan perahu. Bahkan untuk membuat perahu phinisi sekarang ini, kayu harus didatangkan dari luar Bulukumba, bahkan dari luar Sulsel.
Namun Kacung Marijan sdh punya agenda khusus untuk melestarikan perahu Phinisi. “Iya, memang bahan baku kayu menjadi kendala dalam pembuatan perahu Phinisi saat ini. Untuk mengatasinya, kita bekerja sama dengan Perhutani. Karena Perhutani itu kan yang punya kayu,” kata Dirjen Kebudayaan.
?Dia berharap, dengan ketersediaan bahan baku ini bisa melestarikan perahu Phinisi. Selain itu, juga mengajak masyarakat setempat untuk mempertahankan budaya adiluhung peninggalan nenek moyang.
Di bagian lain penjelasannya, Dirjen juga menyinggung rencana Kemendikbud untuk membangun museum Sultan Hasanuddin di Kabupaten Gowa. Diharapkan program ini bisa direspon pemerintah setempat, sehingga dapat terealisasi secepatnya.
Untuk merealisasikan program Kemendikbud, Kacung berharap kerja sama dari masing-masing pemerintah daerah. Sebab jika tidak ditanggapi dengan baik, pelaksanaannya akan dialihkan ke daerah lain yang pemerintahnya memberi respon positif.
?Sementara Endah dari BERKRAF menyampaikan komitmennya untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif yang disinergikan dengan pengembangan kebudayaan di Indonesia. Misalnya mendukung lahirnya budaya perfilman yang semakin baik, ataupun kegiatan ekonomi kreatif lainnya di daerah.
Endah juga meminta masukan dari peserta TRK 2015 terkait kegiatan budaya dan ekonomi kreatif di Indonesia. Misalnya Lovely Desember yang setiap akhir tahun dilaksanakan di ?Toraja, serta Takabonerate Island yang digelar di Kabupaten Kepulauan Selayar.
BERKRAF sebagai lembaga baru di pemerintahan Jokowi-JK, diakui Endah belum bisa berbuat banyak. Selain kantor yang belum ada, juga pegawai untuk mendukung pelaksanaan program. Karenanya, antara BERKRAF dan Kemendikbud sepakat untuk bersinergi dalam pelaksanaan program yang saling terkait. (*)

Exit mobile version