Kecanduan Rani terhadap narkoba kian tidak terbendung. Dia rela melakukan apa saja agar tetap bisa mengonsumsi barang haram tersebut. Termasuk menjajakan diri kepada lelaki hidung belang. Itu dilakukannya tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Soal kecanduan terhadap narkobanya, ketika berusia 23 tahun, Rani ditemukan sakaw oleh ibunya di kamar. Wanita itu mengamuk dan menghancurkan apapun yang ditemukannya di kamar. Ibunya saat itu baru sadar jika sang anak sudah bersentuhan terlalu jauh dengan barang haram tersebut. Akhirnya, diputuskan untuk memasukkan Rani ke panti rehabilitasi. Tak sampai sebulan, dia berhasil melarikan diri karena tak tahan dengan kondisi di sana. Tentu saja dia tidak kembali ke rumah orang tuanya takut jika dimasukkan kembali ke panti rehabilitasi.
Dia memutuskan kos-kos an sembari mengadu hidup dengan menjadi PSK di tempat hiburan malam. Hubungannya dengan sang pacar, Dodi sudah renggang sejak Rani dimasukkan ke panti. Perempuan itupun tidak mau peduli lagi dengan lelaki yang telah memperkenalkannya dengan dunia kelam.
Bekerja di salah satu tempat hiburan malam, akses Rani untuk mendapatkan narkoba, khususnya sabu yang sudah menjadi favoritnya semakin mudah. Dia malah bisa mendapatkan dengan gampang dari para tamu yang dilayani dengan mudah. Malah, untuk memenuhi rasa ketergantungannya terhadap barang haram tersebut, dia kadang rela untuk tidak dibayar.
Terkadang, dalam hati kecilnya yang terdalam, Rani menangis dan menyesali jalan hidup yang telah dipilihnya. Namun dia merasa terbelenggu, tak dapat lepas dari jeratan narkoba. Ada rasa ingin meninggalkan konsumsi zat adiktif tersebut. Secara perlahan porsinya dikurangi. Dia ingin kembali menata hidupnya. Dia ingin mencari uang sebanyak-banyaknya untuk dijadikan modal jila suatu saat sudah meninggalkan dunia malam. Namun di usianya yang ke-27 petaka datang menghampiri. Dia divonis oleh dokter menderita penyakit hepatitis. Kondisi tubuhnya semakin drop. Uang tabungannya kian hari semakin menipis. Diapun tidak diperbolehkan lagi bekerja oleh pengelola tempat hiburan malam. Hidupnya terlunta-lunta. Dia numpang tinggal di rumah salah seorang temannya yang berbaik hati memberi tumpangan. Mengandalkan kartu bebas berobat yang diurus, Rani agak ringan jika mau memeriksakan diri ke dokter atau rumah sakit. Saat ini, hanya sesal yang terpatri dalam benaknya. Tidak ada lagi keangkuhan dan kesombongan dalam diri rentanya. Dia berharap bisa kembali pulang ke pelukan keluarganya. Namun takut jika mereka tidak bersedia menerima dirinya lagi. Penyesalan demi penyesalan tak mampu merubah nasibnya yang semakin kelam. Hanya kematian yang saat ini ditunggu untuk menghilangkan segala penderitaannya di dunia. (b)