BARRU, BKM — Universitas Negeri Makassar(UNM) menggandeng perusahaan biogas untuk menggarap industri kolong rumah di Kampung Cilellang, Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Barru. Biogas yang dikembangkan PT Bionas ini akan memanfaatkan biji buah dari tanaman pohon jarak menjadi bahan bakar nabati yang bisa dicampur dengan berbagai jenis bahan bakar seperti bensin, solar hingga oli.
Industri kolong rumah yang memproduksi bahan bakar nabati (BBN) ini disoftlaunching baru-baru ini. Hadir Rektor UNM Prof DR Arismunandar, PR II Prof DR Nurdin Noni, PR III Prof DR Hery Tahir, CEO PT Bionas Indonesia Hendry H Wijaya, Kadis UMKM Perindagkop Barru Andi Takdir dan beberapa pimpinan PT Biogas Indonesia.
Perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan biogas dari nabati ini, akan melibatkan masyarakat lokal di Kampung Cilellang untuk menanam jarak.
Menurut Penasihat CV Barru Terbarukan Prof DR Nurdin Noni, pengembangan industri ini karena berdasar dari tiga pilar, yakni pilar pertama berawal dari pemanfaatan kolong rumah kolong rumah milik warga. Kemudian pilar kedua bahwa produk ini akan berbasis pada efisiensi energi dan ketiga akan menurunkan tingkat emisi sehingga ramah lingkungan.
“Makanya, pihak UNM telah menggandeng perusahaan biogas, kemudian membawa sarana pabrik ke kolong rumah milik warga di Barru,” kata Nurdin Noni.
Rektor UNM Prof DR Arismunandar menilai MoU antara UNM dengan PT Bionas Indonesia tidak terlepas dari posisi UNM sebagai perguruan tinggi yang berkaitan dengan penelitian. Apa yang ditawarkan pihak bionas untuk mengembangkan energi yang terbarukan merupakan langkah inovatif dalam produk industri bahan bakar. Terlebih lagi karena bekerja sama dengan masyarakat untuk membangun perekonomian.
Sementara CEO PT Bionas Indonesia Hendry H Wijaya, menyatakan bahan bakar nabati berdampak kepada masyarakat karena akan berkontribusi secara ekonomi. Buah jarak kering yang akan ditanam masyarakat nantinya dibeli dengan Rp 2.000 per kilogram, dan sudah membawa mesin pengolah buah jarak dengan nilai Rp 500 juta hingga Rp 600 juta. Buah jarak itu mengadung field aditif yang bisa dicampur ke dalam bensin, solar dan oli.
Bukan hanya tersedia produk dari buah jarak ini dalam bentuk cairan. Tetapi sudah ada yang berbentuk tablet dan bisa langsung dicampur dengan bahan bakar kendaraan. Produksi dari industri kolong rumah ini bisa mencapai 3 ton per hari. Berarti dalam satu bulan dapat mencapai 100 ton. (udi/rus/c)