MAKASSAR, BKM–Setiap musim kemarau tiba, warga dibeberapa wilayah di Kota Makassar sulit mendapatkan air. Keran yang mengalirkan air bersih dari PDAM Kota Makassar, tak tentu keluarnya.
Padahal warga kerap memanfaatkan air bersih tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hasma warga Jalan Inspeksi PAM, Kampung Manggala, Kecamatan Manggala mengatakan, keran PDAM yang tepat berada disamping rumahnya hanya mengalir pada waktu-waktu tertentu saja seperti tengah malam. Bahkan ketika air mengalir, banyak warga yang mengantre untuk mendapatkannya.
“Beberapa bulan ini, kita susah mendapatkan air bersih apalagi kalau musim kemarau seperti sekarang. Ini juga airnya mengalirnya tidak pasti. Biasanya tengah malam baru mengalir itupun menetes,” ungkap dia, kepada BKM, Rabu (12/8).
Seringkali, kata Hasma, warga terpaksa mengantre untuk mendapatkan air bersih ketika malam hari.
“Kadang setengah hari mati lagi, kalau malam jam 10 ke atas mengalir sampai subuh, jam enam mati lagi. Ya kami malam-malam antre air daripada tidak dapat,” terang dia.
Setiap hari, setidaknya keluarga Hasma membutuhkan lima jeriken air yang diambil dari keran itu. Ia memanfaatkannya untuk keperluan memasak dan mencuci.
Sementara untuk mandi, ia menggunakan bantuan air sumur. Air itupun ia sempat jual ke warga yang membutuhkan. “Banyak orang beli air di saya, orang dari dalam, saya jual Rp.10.000 /jergen, tetapi malam baru bisa saya isikan.”
Sementara itu, Dinas Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kota Makassar mengantisipasi krisis air bersih untuk warga dengan menyiapkan tangki air. ” kita siapkan tangki air”, tegas Kepala BPBD Kota Makassar, Syahruddin.
selain itu, jelas dia, BPBD sudah membuat program dengan membuat kolam dengan ukuran kecil disekitar rumah warga. ” Kita buat juga kolam ukuran kecil untuk penampungan air,” lanjutnya.
Menurutnya, kolam persedian penampungan air tersebut merupakan imbauan GMKG.
Terpisah, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar memastikan selama Agustus hingga September mendatang tidak akan turun hujan. Terkhusus di wilayah Sulawesi Selatan bagian barat.
Menurut Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pelayanan Jasa BMKG IV, Sujarwo, sejumlah daerah
“Dua bulan ini, Agustus dan September tidak ada hujan sama sekali,” katanya kepada BKM, kemarin.
Kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah di Sulsel itu, merupakan dampak dari badai el nino yang menghembuskan suhu panas.
Menurut Sujarwo, daerah yang sangat merasakan dampak el nino adalah kabupaten yang berada di wilayah barat.
Mulai dari Kabupaten Takalar, Jenepoto, Gowa bagian barat, Kota Makassar, Maros, Pangkep, Barru, dan Kota Parepare.
“Daerah yang saya sebutkan diatas sudah dua bulan tidak turun hujan,” kata Sujarwo.
Sementara sebagian Kabupaten Sidrap, Luwu, dan Wajo, sudah sebulan terakhir tidak merasakan hujan. Sementara Kabupaten Luwi Timur, Tana Toraja, dan Enrekang, diperkirakan masih akan turun hujan namun dengan intensitas sangat rendah.
Sujarwo memprediksi kemarau akan berlangsung hingga Oktober mendatang. Pertengahan November, sejumlah wilayah sudah akan merasakan hujan.
Karena kemarau diperkirakan masih panjang, Sujarwo mengimbau masyarakat untuk menghemat air. Selain itu, jika memungkinkan, petani menghindari menanam tanaman yang membutuhkan banyak air.
Disinggung apakah bisa membuat hujan buatan, Sujarwo mengatakan hal itu tidak bisa dilakukan.
Hujan buatan hanya bisa terjadi jika ada awan.
“Hujan buatan itu sebenarnya aktifitas untuk mempercepat proses awan jadi hujan,” kata Sujarwo.
Suhu udara karena dampak El Nino diperkirakan berada pada kisaran 35 hingga 36 derajat celcius. Sementara suhu normal di Sulsel berada di kisaran 32-34 derajar celcius.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Sulsel, Syamsibar, mengatakan kekeringan akibat kemarau panjang atau El Nino merata diseluruh daerah di Indonesia, dan Sulsel juga masuk dalam daerah yang dilanda kekeringan. Namun ia mengaku belum mengetahui adanya rencana BNPB untuk membuat hujan buatan demi mengatasi kekeringan tersebut.
Syamsibar menjelaskan, hujan buatan hanya bisa dilakukan di daerah yang memiliki beberapa syarat tertentu, salah satunya adalah harus terdapat jenis awan khusus, karena nantinya awan tersebutlah yang menghasilkan titik air setelah disemprot dengan zat tertentu.
Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, juga menyatakan hal yang sama. Ia mengaku baru mengetahui rencana pembuatan hujan buatan tersebut dari media massa. Namun ia menyatakan kekeringan di Sulsel tidak separah kekeringan dibeberapa provinsi lain di Indonesia.
Ia menuturkan, pihaknya akan melakukan rapat koordinasi dengan pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sulsel untuk melihat di daerah mana saja yang membutuhkan hujan buatan.
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Sulsel, Abdul Latif, menyatakan atas perintah gubernur, pemprov sudah melakukan sejumlah antisipasi.
Ia menuturkan, Sulsel sedikit berbeda dengan daerah lain di Indonesia, karena beberapa daerah di Sulsel sudah panen, sehingga mungkin tidak terlalu banyak membutuhkan air.
Beberapa daerah yang disebutnya sudah panen dan segera panen adalah Kabupaten Soppeng, Pinrang, dan Bone, sedangkan untuk daerah lain di Indonesia baru memasuki musim tanam. (rhm-man-kardina-rhyrin/war/b)