RANTEPAO, BKM — Perhelatan Toraja Intenational Festival (TIF) ke-3 di Ke`te Kesu` resmi dibuka, Jumat (14/8) pukul 20.30 Wita. Peserta seni dari lima negara berpartisipasi dalam even tahunan ini.
Masing-masing Gotrasawala Ensemble dan Ana Alcaide (Spanyol), Boy Akih (Belanda), Roon Reevers (Australia), Helga Seldi (Hongaria), dan Yzbegim Yoshlari (Uzbekistan). Termasuk grup anak muda Kunokini asal Jakarta.
Bupati Toraja Utara Frederik Batti Sorring sehari sebelum pembukaan TIF, Kamis (13/8) dalam keterangan persnya menjelaskan, pelaksanaan TIF tahun 2015 ini bertepatan dengan musim pesta adat. Momentumnya sangat tepat, karena antara bulan Juni hingga Agustus setiap tahun perantau Toraja berbondong-bondong pulang kampung merayakan pesta adat dan budaya, sekaligus merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-70.
Menurut Sorring, pemkab dan masyarakat merespon positif pelaksanaan kegiatan yang bertaraf intrnasional ini. Tidak heran jika masyarakat berpartisipasi secara bersama-sama menyukseskan acara ini.
Salah satu bentuk dukungan tersebut, masyarakat setempat bersedia meminjamkan sawahnya untuk dijadikan tempat parkir selama pelaksanaan TIF berlangsung.
”Yang tidak kalah menariknya, TIF tahun ini dikolaborasikan antara kesenian tradisonal Toraja dengan budaya luar dalam bentuk kolosal sehingga menjadi tontonan yang unik,” kata Sorring.
Ketua Yayasan Ke’te Kesu Ne’ Layuk memberi apresiasi yang mendalam terharap pelaksanaan TIF. Menurutnya, sejak even ini digelar, terjadi peningkatan kunjungan wisatawan. Untuk wisatawan domestik meningkat sebesar 250 persen, sementara dari mancanegara melonjak tajam mencapai 700 persen.
”Pada tahun-tahun sebelumnya, selama pelaksanaan TIF, setiap hari pengunjung dari luar dan dalam negeri mencapai 5.000 orang,” ujar Ne’ Layuk.
Direktur TIF Frengky Raden mengatakan, pelaksanaan TIF sebelumnya mengusung tema Mabua, yang menempatkan posisi kaum perempuan pada setiap acara spiritual. Sementara tahun ini temanya adalah Ma’bugi, tarian tradisional teatrikal yang dikemas dalam bentuk kolosal. Tarian tradisional ini hanya ada di Toraja. Pertunjukan kesenian Ma’bugi merupakan pelengkap dari suatu pesta adat.
Kesenian tradisional Toraja lainnya melengkapi TIF di Ke`te Kesu`, sambung Frengky Raden, diantaranya karombi, manganda, manimbong, pagelu dan pompang. Ditambah grup musik non tradisional seperti Toraja Choir dan Tibean Ballo. (gus/rus/c)