Site icon Berita Kota Makassar

BEGAL MOTOR SETELAH IDUL FITRI

MAKASSAR, BKM–Warga Kota Makassar makin resah dengan aksi begal motor yang hampir sepekan ini merajalela secara beringas. Namun, tidak ada tanda-tanda aparat kepolisian melakukan tindakan antisipasi. Polisi baru bertindak setelah ada kejadian.
Kondisi keamanan Makassar yang makin rawan mulai memantik tanda tanya warga. “Mana Kapolda dan Kapolrestabes. Kok, pelaku begal semakin bebas beraksi dan tak ada kapok-kapoknya,” tegas Rahmat, warga Jalan Perintis Kemerdekaan, kemarin.
Pakar Hukum Universitas Bosowa 45, Prof. Marwan Mas juga menyayangkan institusi polisi yang belum mampu menjawab keinginan publik. Kepada BKM, Selasa (18/8) menegaskan, aksi begal yang marak terjadi di Makssar merupakan tanggung jawab utama kepolisian. Tapi, menurutnya, ini butuh keterlibatan seluruh masyarakat.
“Saya kira wajar jika banyak yang menilai Makassar tidak aman. Indikasinya karena sebagian warga masyarakat, terutama kaum wanita merasa tidak aman untuk keluar rumah, karena takut jadi korban begal dan penjambretan,” tegas Marwan.
Merwan berharap, polisi tidak memberi ruang serta kesempatan bagi pelaku untuk melakukan aksi di jalan raya.
Menurutnya, ukuran tidak aman itu bukan hanya semua warga merasa terancam, tetapi juga bisa diukur dari intensitas kejahatan jalanan yang mulai hampir terjadi setiap hari.
Kondisi ini semakin bertambah dengan dengan ketidakmampuan kepolisian, selaku penanggung jawab kamtibmas, dalam mengantisipasi aksi begal di jalanan.
“Ini perang panjang terhadap anak-anak remaja yang banyak terlibat aksi begal, lantaran tidak ada pembinaan dan tidak punya penghasilan, ” ujar Marwan.
Marwan mengatakan, para pelaku, akan terus beregenerasi karena aksi begal sudah dijadikan alat untuk mendapatkan uang dengan cara cepat. Polisi harus kuat staminanya melakukan pencegahan dan penindakan.
Hal senada diungkapkan Peneliti Anti Corruption Committee (ACC) Sulawesi, Wiwin Suwandi. Menurut Wiwin, polisi seakan tidak berkutik menangani kasus begal yang marak terjadi. Kapolda Sulsel Irjen Pon Anton Setiadji maupun Kapolrestabes Makassar Kombes Ferry Abraham tidak pernah tampil di publik untuk menjamin rasa aman warga Makassar.
“Saya anggap, kepolisian hingga kini belum mampu menuntaskan persoalan aksi begal yang semakin marak terjadi di jalanan. Mana Kapolda dan Kapolrestabes, ” ujar Wiwin.
Wiwin mengatakan, sejauh ini, pihak kepolisian hanya menunggu laporan saja. Seharusnya, kepolisian bisa lebih giat melakukan patroli, utamanya di sejumlah titik jalan yang dianggap rawan aksi begal.
“Aparat TNI juga kalau bisa turut membantu kepolisian untuk memerangi aksi begal yang meresahkan masyarakat,” katanya.
Terpisah, Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Abdul Azis mengatakan, pihak kepolisian harus bisa melindungi masyarakat terhadap aksi begal yang semakin meresahkan.
”Polisi kan tugasnya mengayomi serta melindungi masyarakat, jadi harus berperan aktif dalam mengantisipasi aksi begal, ” tegas Azis.
Menurutnya, polisi jangan hanya bersikap diam, seolah-seolah menganggap remeh persoalan ini. Kepolisian harus segera mengambil langkah dan sikap tegas, guna menekan angka kekerasan di jalan raya yang saban hari semakin bertambah.
Sebelumnya, setelah Hari Raya Idul Fitri, aksi begal motor makin marak di Makassar. Setelah pembusuran anggota kepolisian serta pembacokan pejabat Pemerintah Kota Makassar, Jumat (14/8) lalu, pelaku begal bukannya ciut nyali. Aksi mereka semakin nekat dan tak lagi mengenal waktu. Di siang hari, saat arus lalulintas sedang macet, pelaku begal nekat merampok serta membacok korbannya.
Senin (17/8) malam, giliran minimarket di Jalan Borong Raya, Antang yang dirampok. Pelaku mengancam karyawan dengan busur lalu menggasak uang tunai dan Handphone milik karyawan. (mat/cha/b)

Exit mobile version