Eksistensi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Rajawali yang kerap disebut “Lelong” Makassar kini mulai terancam. Dengan dalih, lokasi yang sudah tidak cocok untuk transaksi hasil laut, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar berencana memindahkan TPI ke lokasi lain.
Laporan: Arief Qadri-Rahman
Pemindahan TPI Rajawali akan dilakukan dalam bentuk tukar guling (ruislag). Tentu sejumlah pengusaha banyak yang berminat atas lahan yang strategis yang terletak di tepi laut ini.
Rencana pemindahan TPI Rajawali ini dibenarkan Kepala Dinas Kelautan, Perikanan Pertanian dan Peternakan (DKPPP) Kota Makassar, Rahman Bando.
Kepada BKM, Selasa (18/8), adik kandung Bupati Enrekang ini mengaku jika Pemkot saat ini sementara menjajaki lokasi TPI baru yang strategis.
Menurut Rahman, Pemkot memindahkan TPI Rajawali karena saat ini TPI tersebut sudah tidak layak dan mulai sepi. Makanya, pemindahan ini dilakukan untuk menghidupkan atau meramaikan kembali TPI Rajawali sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Kita sementara jajaki lokasi yang memungkinkan untuk TPI,” kata Rahman Bando.
Menurutnya, TPI Rajawali kini sepi pengunjung akibat akses jalan masuk yang sempit karena penimbunan laut. DKPPP telah menggali sedimentasi untuk memperluas akses masuk TPI, tapi tetap belum maksimal.
“Kita lakukan pengerukan untuk memperluas jalur masuk,” tambahnya.
Meski demikian, lanjut Rahman Bando, persoalan tersebut tidak mungkin selesai jika hanya mengandalkan pengerukan sedimentasi.
Sepinya pengunjung TPI Rajawali telah mengundang perhatian pengusaha Makassar, bahkan dikabarkan beberapa pengusaha mengincarnya dan ingin mengambil alih TPI Rajawali guna menghidupkan atau meramaikan kembali transaksi jual beli ikan.
Menganggapi persoalan tersebut, Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rijal MI mengatakan bahwa belum ada ruislag ke pengusaha. “ Belum ada tukar guling ke pengusaha”, tegas Deng Ical.
Sementara itu, sejumlah penjual ikan di TPI Rajawali menolak TPI itu dipindahkan. “Apa anjo ruislag, saya tidak mengerti. Yang jelas kalau Lelong pindah dan kami tidak bisa lagi jual ikan, kami mau makan apa?,” tanya Gading (35), warga Jalan Rajawali yang sudah 25 tahun menjual ikan di Lelong Rajawali. Gading berharap agar pemerintah lebih arif serta bijaksana. Soalnya, ada ratusan kepala keluarga yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di lelong yang selama ini telah menjadi ikon transaksi ikan di Makassar.
“Kami justru berharap pemerintah lebih memperhatikan kami yang menggantungkan hidup di pasar ikan tradisional pertama di Makassar ini,” kata Gading, Selasa (18/8) siang.
Menurut Gading, sejak kecil dia hidup di lelong. Hingga usianya 35 tahun, dia tetap mengais rezeki di lelong.
Hal senada juga dikatakan Anjas Dg Ngunjung (80) warga yang mengaku sudah 60 tahun berjualan di lelong. Menurut dia, seharusnya pengelolaan lelong diperbaiki oleh pemerintah, bukan malah memindahkannya ke lokasi lain.
“Kami berharap pemerintah dapat mempertahankan kami atau setidaknya memberikan titik temu yang terbaik untuk kami semua,” ucapnya.(b)