SENGKANG, BKM — Kisah kebiadaban seorang ayah kandung terjadi di Kabupaten Wajo. Hasyruddin alias Conding (50) diringkus aparat Polres Wajo karena diduga kuat sebagai pria yang memperkosa serta membunuh wanita berinisial MAP, anak gadisnya yang masih berusia 19 tahun.
Kasus yang menghebohkan warga ini terkuak setelah penemuan mayat wanita di Desa Assorajang, Kecamatan Tanasitolo Kabupaten Wajo, Selasa (18/8) lalu. Seorang murid SD 265 Assorajang bernama Ari terkejut melihat sosok tubuh perempuan tergeletak dengan posisi tengkurap di semak belukar. Hampir sebagian tubuhnya tertutup semak belukar. Penasaran dengan sosok tersebut, Ari menghampiri. Ternyata tubuh seorang perempuan yang sudah tak bernyawa.
“Awalnya penasaranka, saya lihat seperti ada cewek tengkurap. Pas kudekati, ternyata mayat perempuan,” ujarnya polos.
Ari yang baru saja pulang dari sekolah, saat itu juga menyampaikan kepada warga untuk dilaporkan ke pihak kepolisian.
Tidak lama kemudian lokasi penemuan mayat wanita tanpa identitas tersebut menjadi ramai dikerumuni warga. Termasuk pengendara yang lewat.
Aparat Polres Wajo yang menerima laporan langsung turun ke lokasi. Dari hasil pemeriksaan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Identitas korban pun berhasil diungkap.
Penyelidkan polisi mengarah ke Hasyruddin warga Jalan Andi Ninnong, Kecamatan Tempe, Sengkang. Setelah sehari melakukan pengejaran, polisi akhirnya meringkus tersangka di Kabupaten Bone. Untuk kepentingan penyidikan, tersangka dibawa ke sel Polres Wajo.
“Tersangka kami tangkap di Kabupaten Bone,” kata Kapolres Wajo, AKBP Guntur, Rabu (19/8).
Di depan polisi, tersangka Hasyruddin mengaku mencekik leher anak gadisnya hingga tewas. Itu dia lakukan karena kesal dengan ulah korban yang menyetel volume televisi terlalu keras.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wajo, AKP Fiat Dedawanto masih meragukan pengakuan tersangka Hasyruddin. Makanya polisi terus mengembangkan dan hasilnya ada fakta baru yang terungkap di balik kasus pembunuhan MAP.
Dari hasil visum yang dilakukan, ditemukan ada selaput darah di kemaluan korban yang robek serta luka. Ini mengindikasikan kalau korban diduga lebih dulu diperkosa lalu dibunuh.
Fiat menambahkan, tim penyidik telah memeriksa empat saksi diantaranya, Syamsuddin, paman korban yang tinggal di Kabupaten Soppeng, Asdar, Juwandi dan Supriadi.
Hasil pemeriksaan saksi serta alat bukti yang ditemukan akhirnya menguak fakta baru. Tersangka Hasyruddin, kata Fiat, mengaku telah menyetubuhi anaknya sebanyak sembilan kali sebelum kemudian membunuhnya.
Menurut Fiat, sebelum kejadian, Jumat malam pekan lalu, Hasyruddin datang menjemput MAP di rumah neneknya di Jalan Kayangan, Kelurahan Botto, Kabupaten Soppeng untuk dibawa ke Sengkang. Di Sengkang, korban kemudian tinggal bersama ayahnya serta ibu tirinya hingga akhirnya ditemukan tewas.
Dimakamkan di Soppeng
Rabu siang, jenazah korban dikebumikan keluarganya di pekuburan Islam Lappa Cabbu Soppeng. Kejadian ini sontak membuat keluarga MAP terpukul. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau korban akan meninggal secara tragis di tangan ayah kandung sendiri.
Muslimim, paman korban mengungkapkan, beberapa bulan ini MAP yang bermukim bersama ibu kandungnya di Samarinda datang ke Soppeng dan tinggal bersama neneknya. Menurut rencana, MAP akan menetap di Soppeng untuk melanjutkan kuliah.
Menurut Muslimin, orangtua korban sudah lama bercerai. Ibu MAP bernama Umi, tinggal di Samarinda. Sedangkan ayahnya menetap di Sengkang. Korban sendiri tumbuh besar di Samarinda. Dan setelah lulus SMA, korban balik ke Soppeng.
Muslimin mengisahkan, sebelum kejadian, ibu korban, Umi pernah menelpon untuk mengabarkan kalau ayah MAP datang ke Soppeng untuk menjemput putrinya untuk dibawa jalan-jalan ke Sengkang.
Jumat malam pekan lalu, tersangka pun datang menjemput putrinya. Hingga beberapa hari berselang, keluarga korban di Soppeng mendengar kabar MAP ditemukan tewas secara tragis. ”Kami minta pelaku segera dihukum mati,” kata Muslimin. (ilo-fir/cha/B)