Site icon Berita Kota Makassar

Busway Terus Merugi

MAKASSAR, BKM — Kenyamanan dalam menggunakan transportasi umum Bus Rapid Transit (BRT) atau kenal Busway dengan harga terjangkau, menjadi salah satu harapan masyarakat di Kota Makassar.

Namun kenyataannya, harapan tersebut belum bisa terwujud karena faktor sarana dan prasarana yang kurang memadai, seperti masih kurangnya tempat persinggahan atau halte. Sementara pihak Perusahaan Umum Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (Perum Damri), belum mampu melengkapi sarana tersebut.
Alhasil, pengoperasian lima unit BRT yang dimulai 1 Juli lalu bukan menjadi untung tapi sebaliknya merugi, karena pengoperasian BRT membutuhkan biaya operasional yang tinggi, sementara peminat BRT masih sepi.
Pihak Perum Damri, sebagai operator pelaksana BRT membenarkan hal tersebut. General Menager (GM) Perum Damri Kota Makassar, M Ilyas HR, Kamis (20/8) mengemukakan dalam waktu hampir dua bulan berjalan, pihak Perum Damri selalu merugi. Bahkan Pemasukan yang diterima jauh dari yang diharapkan.
“BRT yang beroperasi saat ini ada lima unit. Dalam pengoperasian tersebut, BRT kurang mendapatkan pemasukan dari penumpang, sementara biaya operasional hingga ratusan ribu per hari setiap satu unit BRT, ” ungkap M Ilyas yang baru menjabat GM Perum Damri awal Agustus ini.
Ilyas juga menegaskan, bagaimana mungkin 30 unit BRT yang ada di Perum Damri bisa dioperasikan seluruhnya, sementara kondisi BRT yang telah beroperasi saat ini masih minim penumpang.
” Kurangnya BRT yang beroperasi disebabkan kurangnya dana operasional untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), sehingga yang dioperasikan masih sedikit,”jelasnya.
Selain itu, ujar Ilyas, kurangnya masyarakat meminati BRT disebabkan masih minimnya titik halte yang disediakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, termasuk belum adanya jadwal kedatangan penumpang sehingga masyarakat merasa jenuh menunggu didalam halte atau dipinggir jalan tempat pemberhentian BRT,” ucap Ilyas.
Dia juga menjelaskan, pemasukan perhari dari lima unit BRT itu tidak menentu, kadang hanya Rp300 ribu, ada juga Rp500 ribu per hari. “Walau terus merugi, kita tetap berusaha agar BRT ini tetap beroperasi setiap hari,” ujarnya.
Untuk itu, tegas Ilyas, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan berupaya menarik minat mereka agar BRT dapatdifungsikan dengan baik, disamping murah juga menjadi solusi mengurangi kemacetan.
“Jika masyarakat sudah banyak menggunakan BRT, tentunya dana operasional kami juga akan bertambah, sehingga 30 unit BRT bisa difungsikan seluruhnya,” tandasnya.
Ia juga berharap pemerintah kota dan provinsi dapat membantu memberikan subsidi dana operasional agar 30 unit BRT dapat dioperasikan untuk melayani masyarakat di Kota Makassar.
Terpisah, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sulsel, Nur Ali menjelaskan, pada dasarnya pengoperasian BRT tidak dilakukan kajian secara mendalam, khususnya dampak yang muncul seperti dampak sosial, ekonomi maupun penyediaan infrastruktur.
“Keberadaan BRT yang tidak berfungsi maksimal karena dipengaruhi berbagai faktor seperti rute yang tidak jelas, jalur kendaraan angkutan umum (petepete) yang berhimpitan sehingga jalur BRT juga difungsikan oleh petepete. Untuk itu, jalur BRT harus dikaji ulang,”terang Nur Ali.
Nur Ali juga meminta pengelola BRT dalam hal ini Perum Damri mesti memperbaiki pelayanan, agar masyarakat meminati jasa angkutan tersebut.(arf-ucu/b)

Exit mobile version