SIDRAP, BKM — Hanya karena hal kecil yang disepelekan, kerusakan besar akibat kebakaran terjadi di Kabupaten Sidrap. Kelalaian seorang peternak yang membuang puntung rokok sembarangan, Sabtu (22/8) akhir pekan, berbuah petaka.
Kebakaran di tengah musim kemarau berkepanjangan terjadi di Kampung Malloci, Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap sekitar pukul 15.00 Wita. Api dari puntung rokok yang dilemparkan di rerumputan kering langsung menjadi api.
Kencangnya tiupan angin saat itu membuat si jago merah cepat membesar dan membakar hampir tiga hektare lahan kebun jagung dan bambu milik dua warga setempat bernama Lantahan (46) dan Latepu (52).
Besarnya kobaran api bahkan nyaris menyambar rumah-rumah penduduk yang kebetulan dekat dengan lokasi yang terbakar. Warga yang panik langsung berusaha memadamkan api, sehingga tidak sempat merembet ke rumah-rumah panggung warga setempat.
Api baru bisa dikuasai setelah tiga unit mobil pemadam kebakaran (damkar) milik pemerintah kabupaten diturunkan ke lokasi kejadian. Kondisi jagung yang mulai mengering akibat musim kemarau berkepanjangan membuat lahan itu mudah terbakar. Kedua pemilik kebun itupun mengaku merugi puluhan juta, karena sebagian besar hasil kebunnya belum sempat dipanen.
“Semuanya habis terbakar, Pak. Baru beberapa are kami panen jagung karena dikhawatirkan mati karena kekeringan, tapi justru belum sempat kita kelseuruhan sudah ludes terbakar,” keluh Lantahan di lokasi kebakaran, kemarin.
Sementara Latepu yang lahannya juga jadi korban, mengatakan sebelum kebakaran, beberapa peternak melintas di sekitar lokasi kejadian. Kuat dugaan, kebakaran disebabkan puntung rokok yang dibuang sembarang. Apalagi cukup banyak tumpukan rumput dan batang jagung yang sudah mengering.
“Kemungkinan memang itu, Pak penyebabnya. Ada peternak sapi kemarin melintas di kebun kami. Setelah beberapa menit asap dan api sudah membumbung tinggi,” lontar Latepu dalam bahasa Bugis.
Kebakaran di Desa Buae ini merupakan yang kedua kalinya melanda kebun milik warga setempat. Dua pekan sebelumnya juga terjadi hal serupa.
Lahan rumput di bukit-bukit kebun warga sempat terbakar, namun api tidak melebar luas karena rerumputan di lokasi itu sudah mati mengering. Warga pemilik lahan juga enggan menanam jagung atau jenis sayuran lainnya karena kemarau.
Camat Maritengngae Abdul Waris Sadik, menegaskan wilayah Watang pulu memang sangat rentan terjadinya kebakaran. Seperti di Desa Buae yang didominasi lahan pegunungan bebatuan.
Hal ini sudah sering diingatkan kepada warga setempat setiap musim kemarau tiba. Mereka diminta berhati-hati, dan petani diharap tidak menumpuk bekas hasil panennya untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
“Kalaupun warga membakar lahan bekas panen itu diharap tetap diikontrol dan diawasi, agar apinya tidak melebar ke wilayah sekitarnya. Tapi yang tidak bisa dijaga kalau ada masyarakat yang lalai membuang api sembarangan. Apalagi di musim kemarau berkepanjangan seperti saat ini,” ungkap Waris yang dikonfirmasi, kemarin. (ady/rus/b)