Site icon Berita Kota Makassar

Soal Truk, Pemprov akan Koordinasi

MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar belum secara tegas memberlakukan larangan operasional truk siang hari di Kota Makassar. Akibatnya, cukup banyak korban berjatuhan akibat kecelakaan lalu lintas oleh truk. Terakhir, seorang jurnalis Harian Fajar yang tewas karena truk lalu lalang di Kota Makassar saat jam sibuk.
Persoalan truk tersebut turut menimbulkan keprihatinan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.
Dia menjelaskan, terkait waktu operasional truk, memang menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota.
Namun dia berjanji akan berkoordinasi ke kabupaten/kota, khususnya di Kota Makassar, dicarikan jalan terhadap persoalan ini untuk meminimalisir accident di jalan.
“Saya akan tanyakan apa masalahnya di kabupaten/kota,” kata Syahrul di Ruang Pola Kantor Gubernur usai melantik empat caretaker, Kamis (27/8).
Dia menegaskan, persoalan truk bukan lagi masalah sepele.
Harus menjadi perhatian seluruh stakholder terkait.
Sementara itu, secara terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Darat Dishubkominfo Sulsel, Ilyas Iskandar mengatakan butuh diinisiasi ulang soal pengaturan jam operasi truk. Sebelumnya, memang telah ada pengaturan. Namun antara Gowa dan Makassar berbenturan. Gowa tak ingin mengoperasikan truk malam hari, sebaliknya Makassar ingin truk beroperasi di malam hari saja.
Dia melanjutkan, persoalannya para pimpinan daerah sudah diganti. Memang perlu diinisiasi ulang.
“Namun saya tidak punya kewenangan karena itu harus datang dari pimpinan,” katanya.
Soal data truk, Ilyas mengaku jika izin trayek memang ditangani Dishub Sulsel khusus untuk operasi lintas daerah. Meski begitu, datanya ada pada UPTD Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).
Dikonfirmasi terpisah Kepala UPTD LLAJ Wilayah I (Makassar, Gowa, dan Takalar), Jamaluddin mengaku jika truk yang ditangani pengurusan izin trayeknya hanya yang memiliki STNK. Sementara truk DD 9770 AM, penabrak wartawan tidak terdaftar di Samsat sehingga bisa dipastikan jika truk tersebut juga tak memiliki izin trayek.
Ia mengakui, selama ini memang masih banyak truk yang nakal. Utamanya truk-truk yang dari kampung.
“Kita layani sesuai data STNK. KIR-nya juga harus masih aktif. Jadi ketika ada plat yang tidak terdaftar di samsat, jelas itu pelat gantung sehingga bisa dipastikan juga kalau truk itu tak miliki izin trayek,” jelasnya.
Kendati begitu, ia janji akan memaksimalkan segala upaya untuk ikut mencari truk pembunuh tersebut. Kemarin, Jamaluddin langsung mengistruksikan kepada seluruh stafnya di lapangan untuk ikut bantu melakukan pencarian. (rhm/war/c)

Exit mobile version