BARRU, BKM — Musim kemarau yang tengah berlangsung saat ini telah berdampak terhadap banyak sektor. Salah satunya pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Barru.
Pasien di rumah sakit ini diresahkan dengan krisis air bersih yang tengah terjadi. Untuk memenuhi kebutuhan air, manajemen rumah sakit ini harus mengeluarkan biaya sebesar Rp3 juta sehari, dengan perhitungan volume air yang dibutuhkan sebanyak 10 mobil tangki.
Kondisi memprihatinkan ini semakin lengkap, karena pihak rumah sakit terpaksa menambah biaya operasional saat melakukan bedah terhadap pasien, karena harus menggunakan air galon.
Sebenarnya, persoalan krisis air bersih yang dihadapi manajemen RSUD Barru sudah berlangsung bertahun-tahun. Apalagi jika musim kemarau tiba. Air menjadi barang langka.
Pihak RS mengklaim sudah berusaha melakukan pengeboran sumur hingga kedalaman 165 meter. Seperti diakui Direktur RSUD Barru dr Lukman S Wahid yang didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Alimuddin ketika ditemui, Sabtu (29/8).
Dikatakan, air sumur bor yang muncul terkadang terasa asin dan agak payau. “Kualitas air yang jauh dari layak membuat kami harus membeli air bersih setiap hari,” kata Lukman.
Beberapa keluarga pasien yang ditemui di ruang perawatan mengeluhkan kondisi krisis air di RS. Setiap hari jika ingin menggunakan air, mereka harus menarik selang dari tempat penampungan ke setiap ruangan. Itupun tidak selamanya bisa mendapatkan air secaramaksimal.
“Semestinya pihak RS serius memperhatikan ketersediaan air, karena ini merupakan kebutuhan pokok,” kata salah seorang keluarga pasien di ruang perawatan. (udi/rus/b)