Namaku mawar (samaran). Usiaku 32 tahun. Saya seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Usia pernikahanku tahun ini sudah memasuki 10 tahun. Suamiku, Idris (samaran, 35 tahun), seorang kontraktor yang waktunya nyaris dihabiskan di luar rumah. Kami menikah atas dasar suka sama suka setelah berpacaran selama satu tahun. Memulai rumah tangga dari nol.
Waktu itu saya masih menjadi mahasiswa manajemen di salah satu universitas di kota kelahiranku, Makassar. Sementara suami, sudah bekerja di salah satu perusahaan kontraktor cukup terkenal.
Selama dua tahun pertama setelah menikah, kami numpang di rumah orang tuaku. Waktu itu, pernikahan kami belum dikaruniai momongan. Kendati begitu, saya dan suami tidak mempersoalkannya. Mungkin Tuhan belum memberikan amanahnya untuk kami.
Keluarga kecil yang kami bangun dipenuhi kebahagiaan. Suamiku sangat menyayangiku. Begitu lepas tugas, dia langsung akan ke rumah. Jika lembur, sehari sebelumnya diinformasikannya. Walau sedang sibuk bekerja, dia tak pernah lupa menelpon untuk mengetahui keadaan istrinya.
Tahun ketiga pernikahan, aku hamil. Suamiku mendapat promosi jabatan yang baik di perusahaannya. Kami menganggap itu adalah rejeki jabang bayi. Kuliah ku pun sudah kelar.
Suamiku tidak pernah melarang untuk bekerja dengan alasan sayang jika ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak diaplikasikan. Namun, karena sedang hamil anak pertama, keinginan untuk bekerja pun tertunda.
Kami berhasil membeli rumah mungil di pinggiran kota dengan cara kredit. Sebelum melahirkan, kami pindah ke sana. Pekerjaan suami menjadi kian sibuk. Sebagai orang yang sering ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek, suamiku kerap ke luar daerah. Sehingga saya memutuskan untuk meminta salah seorang tante yang belum berkeluarga untuk menemaniku di rumah.
Walau sering ke luar daerah, namun suamiku kerap menelpon. Dalam sehari bisa sampai lima hingga tujuh kali.
Apalagi menjelang waktu akan melahirkan.
Anak pertama kami lahir ketika suami tugas di salah satu kota sebelah selatan Makassar. Dia tidak sempat menemaniku melahirkan. Beruntung ibu dan bapak serta mertua mendampingi.
Tak terasa, anak kami sudah berusia du tahun. Saya pun hamil anak kedua. Hubunganku dengan suami berjalan sangat harmonis kendati dia jarang di rumah. Tak pernah sebersit pun dalam pikiranku untuk mencurigai suami berbuat seorang di luar karena sikap dan perilakunya sangat baik.
Hingga pada suatu ketika, saat usia kandunganku lima bulan, saya menemukan pesan singkat (SMS) melalui HP mesra seorang wanita di ponselnya. Bunyinya, sayang…. kapan kita ketemu lagi?…
Sms ku sontak membuatku marah dan meradang. Suamiku yang tertidur pulas kubangunkan untuk menjelaskan maksud SMS itu. Awalnya dia mengelak dan mengatakan SMS itu salam sambung. Namun setelah saya desak, dia mengaku jika SMS itu dari salah seorang sales promotion girl (SPG) salah satu merek rokok yang dikenalnya saat menawarkan barang.
Hatiku hancur. Jika tidak ingat sedang mengandung, ingin rasanya bercerai darinya. Aku minggat dari rumah. Selama seminggu nginap di rumah orang tuaku. Jika suami bersama mertuaku tidak datang menjemput, aku tidak akan pulang. Suamiku meminta maaf dan bersumpah tidak akan mengulang perbuatannya. (b)