MAROS, BKM — Seorang pengusaha berinisial AI dituding melakukan aksi penipuan terhadap Ketua DPRD Maros Chaidir Syam. Selain Chaidir, AI juga diduga terlibat aksi penipuan terhadap salah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah.
Ketua DPRD Maros Chaidir Syam kepada BKM, Senin (31/8) mengaku telah ditipu AI terkait pembelian tiket pesawat. Hal ini terjadi beberapa waktu lalu, saat dirinya mengetahui kalau AI memiliki hutang tiket pada sejumlah travel.
“AI menawarkan jasa memfasilitasi saya dan rekan-rekan untuk pembelian tiket. Belakangan ternyata tiket tersebut belum dibayarkan ke pihak travel sedangkan uang sudah kami serahkan ke Al. Saya sementara melacak keberadaannya,” beber Chaidir.
Chaidir mengaku kerugian yang dialaminya mencapai Rp 50 juta. Namun ia memprediksi aksi penipuan ini sudah mencapai ratusan juta jika dikalikan dengan jumlah uang yang disetorkan rekan-rekannya kepada AI.
Nasib sama dialami, Supandoyo, seorang PNS di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Maros. Kali ini modus yang dilakukan AI berbeda dengan yang dilakukan terhadap Chaidir. Supondo mengaku menyerahkan uang Rp150 juta dengan iming-iming agar anaknya dapat lulus dalam proses penerimaan siswa sekolah bintara (Seba) polisi.
Supandoyo menambahkan, AI pernah menjanjikan panjar itu kembali sejak tiga bulan terakhir, namun hingga kemarin tidak terealisasi. “Kami belum laporkan ke polisi karena masih menunggu itikad baik dari AI,” ujarnya.
Menanggapi kasus yang dialami Supandoyo, Kepala Bagian (Kabag) Pengendali Oprasi (Ops) Polres Maros, Kompol Ahmad mengatakan, kepolisian membuka pendaftaran penerimaan polisi mulai dari tingkat Tantama, Bintara dan Perwira sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis.
“Bila ada oknum yang menjanjikan untuk meloloskan jangan cepat percaya karena itu hanya penipuan. Polisi membuka seleksi penerimaan Tamtama, Bintara dan Perwira dengan cara tbersih, transparan dan humanis. Jangan percaya kalau ada oknum yang menjanjikan dengan meminta bayar bayaran karena itu hanya tipuan belaka,”tegas Ahmad Mariadi.
Ditambahkan Ahmad Mariadi, jika masyarakat yang ingin menjadi Polisi sebaiknya dipersiapkan diri mulai dari pendidikan ditingkat SMP dan SMA. Karena tidak hanya kemampuan ilmu yang menjadi pendukun, tapi juga segi kesehatan yang menjadi penunjang keberhasilan anak utuk lolos seleksi menjadi Polisi.
“Sebaiknya jauh sebelum pendaftaran polisi anak anak meman sudah siap untuk ikut bersaian agar dapat lolos menjadi polisi,” jelas Ahmad Mariadi.
Untuk itu, jika ada masyarakat yang merasa tertipu sebaiknya langsung melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisi, agar kasusnya segera diusut karena kasus ini masuk dalam kategori penipuan dan penggelapan. “Laporkan segerah agar kami memprosesnya dengan tuntas,” janji Ahmad Mariadi. (ari-ril/b)