Site icon Berita Kota Makassar

Usai Minta Maaf, Perbuatan Suamiku Terulang Lagi

Pascakejadian yang nyaris menghancurkan rumah tanggaku, suamiku, Idris (samaran) tidak neko-neko lagi. Dia kembali seperti sedia kali. Malah, perhatiannya semakin dalam terhadap saya dan anak-anak. Namun, kejadian yang telah menggores dan menyayat hatiku masih menyisakan pedih.

Kepercayaan kepada lelaki yang telah memberiku dua anak itu mulai memudar. Suamiku menyadari itu. Namun dia memahami itu.
“Biarlah waktu yang menghapus kepedihanmu,” jelas Idris pada suatu malam ketika saya bersikap dingin kepadanya.
Dua tahun berlalu, akupun mulai berani menerima suami apa adanya secara total. Kecintaan terhadap lelaki yang telah menafkahiku itupun sudah kembali seperti dulu.
Akupun kembali dinyatakan hamil anak ketiga oleh dokter kandunganku. Betapa gembiranya kami. Namun, kejadian memilukan kembali terjadi saat usia kandunganku menginjak lima bulan.
Secara tak sengaja, saya menemukan chat atau percakapan via BBM suamiku dengan seorang wanita bernama Melati (nama samaran). Kata-kata mesra yang diumbar dari percakapan keduanya sangat mengiris hati. Hingga hal-hal vulgar diungkapkan melalui chat mesra itu.
Percakapan keduanya di chat secara tak sengaja terbaca ketika suamiku lupa membawa ponselnya. Sebenarnya, aku orang yang tidak pernah mengorek-orek ponsel suami. Namun karena ponselnya ketinggalan dan kebetulan ingin menelepon ibu mertua sementara pulsaku habis, akupun mengambil ponsel suami. Belum sempat menelpon ibu mertua, kenyataan pahit pun kutemukan dari chat atau percakapan suamiku dengan wanita bernama Melati.
Amarah, sedih, dan putus asapun menyeruak di hatiku. Tanpa pikir panjang, aku mencari obat pembasmi nyamuk dan langsung meneguknya. Tidak lama kemudian, pandangan menjadi kabur. Aku sempat melihat bayangan suamiku di pintu yang datang tergesa-gesa. Mungkin ingin mengambil hapenya yang ketinggalan. Setelah itu, tak ada apa-apa lagi yang aku ketahui. Hingga akhirnya saya tersadar dan berada di ruang perawatan sebuah rumah sakit.
Suamiku yang berjaga hingga aku sadar tak kuhiraukan sama sekali. Jika tidak ada botol infus di tanganku, ingin kucakar-cakar wajahnya.
Karena kejadian itu, saya harus dikuret karena karena anak dalam kandunganku tidak bernyawa lagi. Betapa pedihnya hati ini.
Saya mengancam suami akan mengurus surat cerai setelah keluar dari rumah sakit. Namun, lagi-lagi niat itu dicegah keluargaku dan keluarga suamiku. Dan karena pertimbangan dua anak yang butuh kehangatan dua orang tuanya, niat itupun kuurungkan. Kendati masih satu rumah dengan suami, perasaan cinta sepenuhnya kepada lelaki itu sudah sirna. Yang tersisa hanya sekadar melaksanakan kewajiban belaka. Akupun memutuskan bekerja di salah satu perusahaan untuk mengobati luka hati sekaligus meminimalkan rasa ketergantungan pada suami. Namun lama kelamaan aku akhirnya bersikap. Kugugat cerai suamiku hingga Pengadilan Agama mengabulkannya. Bestatus sebagai janda membuatku malu. Namun demi kebahagianku dengan anak-anak, gugat cerai harus aku lakukan.(b)

Exit mobile version