MAKASSAR, BKM — Sejalan makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, telah berimbas pada berbagai segmen bisnis di daerah ini. Tidak hanya barang elektronik tapi juga termasuk di antaranya bahan bangunan. Dalam beberapa hari terakhir, harga sejumlah jenis bahan bangunan telah mengalami kenaikan hingga sepuluh persen.
Sabir Sakka, salah seorang pemilik toko bahan bangunan yang berada di poros Jalan Hertasning Makassar, ketika ditemui BKM di tempat usahanya, kemarin, mengakui, kalau kenaikan itu mulai terjadi sejak nilai tukar dollar AS terhadap rupiah terus naik. Karena banyak di antara bahan bangunan yang dijualnya merupakan produk impor, seperti grendel dan ember cor.
”Kebanyakan yang naik itu bahan campuran yang merupakan produksi luar negeri, seperti grendel dan ember cor. Yang paling naik itu plastik,” jelasnya.
Kenaikan harga bahan bangunan ini juga telah membuat daya beli masyarakat jadi menurun. ”Masyarakat sepertinya mulai membatasi diri untuk membeli bahan bangunan. Karena pasaran lagi sepi, kami terpaksa menunda dulu kenaikan bahan bangunan di tempat kami. Salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan mengurangi jumlah persediaan. Takutnya, nanti kami sudah stok banyak tapi pembeli kurang. Jadi ada beberapa bahan bangunan yang kami jual stoknya kosong,” katanya.
Diakui, kenaikan harga bahan bangunan ini tidak terlalu signifikan. Besaran kenaikannya sekitar sepuluh persen. Harga bahan bangunan yang dijualnya Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu. Begitu pula dengan besi yang dulunya dijual seharga Rp30 ribu menjadi Rp32 ribu. ”Tapi kalau untuk saat sekarang saya belum kasi naik. Masih tetap harga dulu. Karena kita juga menjaga kelangsungan dengan costumer. Kalau tiba-tiba naik, nanti pelanggan jadi kaget,” pungkasnya.
Kenaikan harga sejumlah bahan bangunan yang berdampak pada menurunnya animo masyarakat untuk membeli, juga dirasakan pemilik toko bahan bangunan Mamminasata. ”Animo masyarakat membeli bahan bangunan menurun atau bahkan terbilang kecil. Mereka yang sudah telanjur membangun rumah, mau tidak mau pasti terus dilanjutkan. Pasaran sepi, tentu proyek-proyek juga tidak jalan. Untuk sisa stok yang saat ini kami jual masih dengan harga lama. Kecuali barang yang baru datang, sudah pasti kami mematok dengan harga yang baru,” jelasnya. (kkn3-kkn5/mir)