Site icon Berita Kota Makassar

Relawan Kasih Ibu Bergerilya

GOWA, BKM–Satu lagi relawan paslon Tenri Olle-Hairil Muin mulai bergerilya yakni Relawan Kasih Ibu (RKI). Gerakan penguatan Sayang Ibu yang dikibarkan RKI guna menjadi kekuatan besar dalam mengantar paslon bertagline PastikanMI pada Pemilukada 9 Desember nanti.
H Rusman Naba, selaku koordinator RKI di gedung Adijaya, Minggu (6/9) sore mengatakan apa yang menjadi dasar perjuangan RKI ini merupakan tanda sayang dan kasih mereka kepada Tenri Olle menuju kompetisi. “Dengan kekuatan besar di akar rumput, kami relawan kasih ibu sudah menyatakan diri siap lahir batin untuk bekerja dan berjuang mengantar kemenangan untuk Ibu Tenri Olle,” kata Rusman.
Diakuinya, pondasi kokoh yang dimiliki Tenri-Hairil justru memberikan kekuatan tersendiri dalam diri para relawan yang berjumlah ratusan orang dan menyebar di wilayah Pallangga dan Barombong ini.
Usai menyambangi sejumlah titik di Pallangga dan Somba Opu, Tenri-Hairil berpencar memanasi mesin politiknya di masyarakat. Kemarin usai melakukan kegiatan barengan, Tenri menyusuri sejumlah wilayah di dataran rendah, sementara Hairil berdialog dengan berbagai kalangan masyarakat di dataran tinggi.
Untuk program, Tenri-Hairil juga siap mengantar rakyat Gowa memasuki era baru dari kegiatan pertanian menjadi daerah swasembada beras dengan melipat duakan produktivitas.
Saat berkampanye di posko “Sayang Ibu” di Biringala, Kecamatan Barombong, paslon nomor urut 4 ini menyatakan kesiapannya, jika warga Gowa memilih pendekatan kemakmuran melalui pengelolaan SDA, restrukturisasi pengairan dan bidang keciptakaryaan agar menghasilkan produksi swasembada beras. Menurut Ketua Komisi E DPRD Sulsel ini, Gowa memiliki potensi air baku pada DAM Bili-bili yang dapat mengairi sawah dan ladang sekitar 34.000 Ha dengan produksi 208 ton lebih.
Menurut Tenri, konsep restrukturisasi dengan peningkatan produktivitas, maka lahar pertanian tidak berharap lagi sawah tadah hujan, sawah ladang non PU. “Karena itu segala penghambat tumbuhnya produktivitas, pola pikir lama yang alergi terhadap teknologi, kebijakan yang berasumsi hanya pada kondisi masa kini tanpa memperhitungkan kepentingan masa depan harus ditinggalkan,”pungkasnya.(zai-sar/rif)

Exit mobile version