Kehadiran flyover di Makassar sangat urgen untuk mengurai kemacetan di persimpangan Jalan AP Pettarani-Jalan Urip Sumoharjo dan Tol Reformasi. Tapi di sisi lain, kini flyover meninggalkan masalah dan kisah lain.
Laporan: Muh Yusuf- Rahma Amri
Bentangan jembatan sekitar 1 kilometer yang dibangun tahun 2006 silam ini, berdiri kokoh dengan tiang-tiang penyangga raksasa. Namun seiring perkembangan, posisi flyover yang strategis, mulai banyak memiliki fungsi. Diantaranya kerap dijadikan pusat aksi unjuk rasa mahasiswa dan ormas, tempat berteduh warga dari terik matahari dan hujan, hingga tempat mejeng serta memadu kasih para muda-muda yang sedang kasmaran.
Terlepas dari segala fungsinya, flyover kini menyimpan banyak kisah tragis. Sederet kasus kecelakaan maut yang mengakibatkan pengendara tewas mengenaskan, mulai memantik sisi seram flyover.
Flyover pun mulai diidentikkan dengan Jembatan Ancol di Jakarta. Kisah mistis yang terus memantik kontroversi menjadi dasar para seniman mengangkat kisah Jembatan Ancol hingga ke film layar lebar.
Di Makassar, Flyover juga kerap disebut sebagai jembatan maut pencabut nyawa. Dalam kurun waktu 2010 hingga tahun 2015 ini, sudah ada enam korban yang meninggal dunia di flyover. Ada yang tewas dipanah orang tak dikenal, terjatuh saat nongkrong dan sisanya tewas karena kecelakaan dan terjungkal dari jembatan setinggi 15 meter.
Terakhir, seorang gadis cantik, Dewi Sartika (21) pada Selasa 1 September lalu meninggal setelah terjungkal dari flyover. Selasa, 22 Juli 2015, seorang mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) bernama Abdi Firman Thaha (22) juga tewas dipanah orang tak dikenal. Rentetan kasus ini memicu adanya cerita hantu di sebagian kalangan. Meski terbilang mistis, namun cerita ini tetap menjadi topik menarik bagian sebagian kalangan.
“Sudah banyak jatuh korban di flyover Pak. Selain kecelakaan lalulintas, flyover juga rawan tindak kriminal seperti jambret dan sebagainya. Yang bikin saya heran, kenapa kalau malam masih banyak anak muda yang pacaran di tempat itu. Apa mereka tidak takut. Saya kadang berpikir, kalau lokasi itu jangan-jangan berhantu,” kata Syamsuddin, warga Jalan Urip Sumoharjo.
Sementara itu, Kepala Satker Balai Besar Pelaksanaan Pembangunan Jalan Metropolitan, Rahman Jamil, mengatakan untuk konstruksi badan jalan jembatan tengan masih sangat kokoh. Hanya saja pada bagian kuping jembatan harus dilakukan sedikit pembenahan. Untuk pengamanan, selain dipasangi perboden atau tanda patahan, juga bagian tepinya dipasangi pagar besi.
“Kalau konstruksi jembatan sangat kuat. Kecuali yang berada pada oprit jalan masuk Flyover. Saat ini memang terjadi penurunan, itu karena struktur tanah terjadi konsolidasi, itu tentu akan kita dibenahi,”katanya.
Terkait banyaknya, kecelakaan, menurut Rahman, masih butuh pengkajian serta pembenahan.
“Saya belum tahu pasti, apakah kondisi jembatan saat ini menjadi penyebab lakalantas atau tidak. Yang pasti apa yang menjadi kekurang di Flyover akan kami benahi,” katanya.
Soal kuping flyover, sesuai rencana disambung memutar ke bawah hingga tembus Jl AP Pettarani. “Dari arah kantor PU ke Pettarani belok kiri atau mutar ke bawah dan masuk ke Pettarani. Begitu rencananya,” terangnya. (b)