SIDRAP, BKM — Sejumlah proyek Penyedia Air Minum dan Sanitasi Masyarakat (Pamsimas) di Kabupaten Sidrap kini bermasalah. Kegiatan yang dilaksanakan sejak 2008 hingga 2015 ini banyak yang pekerjaannya tidak rampung dan terbengkalai.
Dari 72 desa/kelurahan sebagai penerima proyek Pamsimas, tercatat 42 diantaranya bermasalah dan tidak selesai pengerjaannya. Hanya 30 proyek yang rampung dan sudah dinikmati masyarakat.
Salah satu yang bermasalah itu adalah Pamsimas di Desa Wanio Timoreng, Kecamatan Panca Lautang. Pengelola proyek meninggalkan setumpuk persoalan dan membiarkan pekerjaannya terbengkalai sampai sekarang.
Proyek yang sumber dananya dari HIK (hibah intensif kabupaten) tahun 2014 sebesar Rp275 juta itu, tidak selesai hingga tahun anggaran menyeberang di 2015 ini. Padahal sejatinya, proyek untuk kebutuhan air minum warga masyarakat Wanio itu sudah bisa dinikmati saat ini.
Direktur Eksekutif LSM Jaringan Informasi Masyarakat Transfaransi (Jimat) Sidrap H Aris Asnawi, Kamis (9/9) membenarkan banyaknya proyek Pamsimas di Sidrap yang bermasalah. Bahkan dia menyebut, hampir 60 persen proyek swadaya masyarakat itu tidak selesai pengerjaannya sejak tahun 2008 hingga 2015.
“Data itu sesuai temuan kami. Dari 72 penerima Pamsimas di Sidrap, 42 diantaranya bermasalah. Ini yang akan kita telusuri untuk kemudian kita laporkan ke Kejaksaan,” ungkap Aris Asnawi, kemarin.
Menurut dia, proyek berbanderol Rp275 juta itu sebagian instalasi pipanya sudah mulai rusak. Kondisi tersebut terlihat ketika BKM melihat dari dekat proyek tersebut, kemarin.
Nampak kondisi bak penampungan Pamsimas sudah mulai berjamur dan retak. Belum ada mesin penyedot, sementara sebagian instalasi pipa masih berada di atas tanah dan sebagian lainnya sudah rusak.
Beberapa warga sekitar yang ditemui, tidak menampik jika proyek Pamsimas tersebut terbengkalai. Menurut mereka, ada sejumlah kendala teknis yang hingga kini masih diselesaikan oleh pengelola proyek tersebut.
Saat diwawancarai, salah seorang warga mengungkapkan bahwa hingga kini Pansimas yang dibangun belum dimanfaatkan. Padahal masyarakat Desa Wanio sangat membutuhkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan. Apalagi di musim kemarau seperti saat ini.
”Memang proyek Pamsimas itu tidak selesai dan difungsikan sampai saat ini. Bahkan terkesan terbengkalai. Pipanya sudah ada yang mulai rusak,” tutur La Rahing, warga setempat.
Ketua Asosiasi Pamsimas Sidrap La Hati yang dihubungi terpisah, kemarin mengakui kalau Pamsimas Desa Wanio belum beroperasi. Ia juga mengiyakan jika ada 42 dari 72 penerima Pamsimas di Sidrap yang bermasalah.
“Banyak keluhan dan laporan yang kami terima keluhan dari warga, bahwa proyek Pamsimas di desanya bermasalah dan tidak rampung. Salah satunya di Desa Wanio,” ungkap La Hati.
Dia kemudian menjelaskan data penerima Pamsimas di Sidrap. Tahun 2015 tercatat lima desa menerima bantuan. Masing-masing Desa Lagading yang dialokasikan sebesar Rp214 juta, Desa Betao Riawa Rp200 juta. Sementara untuk kelurahan, yakni Baula Rp70 juta dan Kanyuara Rp50 juta.
Selain itu, ada beberapa desa dan kelurahan yang juga menerima dana pemeliharaan, seperti Desa Buae dan Kelurahan Uluale. “Kalau dana reguler yang turun rata-rata setiap desa dikucur Rp232 juta. Seperti Pamsimas Desa Lagading 2008 sebesar Rp315 juta, Desa Betao Riawa tahun 2009, Kelurahan Baula, dan Kelurahan Kanyuara 2009 masing-masing Rp315 juta,” bebernya.
La Hati juga berjanji akan melaporkan kasus ini ke kejaksaan untuk ditelusuri. Diapun bersedia membantu memberikan data-data terkait semua proyek Pamsimas di Sidrap mulai 2008 hingga tahun ini.
“Kalau penyidik membutuhkan data dari kami, tentu kami siap memberikannya,” janjinya. (ady/rus/b)