MAMUJU, BKM — Para petani sawit di Provinsi Sulbar saat ini mulai dilanda keresahan. Menyusul makin merosotnya harga Tandan Buah Segar (TBS) di pasaran. Hal ini terungkap dalam pertemuan rutin antara perusahaan sawit dengan masyarakat petani sawit yang dimediasi Dinas Perkebunan Sulbar di aula Hotel Srikandi Mamuju, Selasa (8/9).
Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Ir Supriyatno, di sela-sela kegiatan tersebut menyampaikan keheranannya dengan makin merosotnya harga TBS di wilayah Sulbar. Begitu pula dengan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) yang tidak menentu dalam beberapa waktu terakhir. ”Saya juga heran dengan kondisi harga kurang maksimal CPO sekarang. Nilai tukar dollar AS naik tapi harga CPO tidak menentu. Harganya cenderung naik turun,” tuturnya.
Supriyatno mengatakan, dirinya selaku Kepala Dinas Perkebunan Sulbar harus mengambil langkah dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat petani sawit yang ada di Sulbar ini. ”Yang jelas, ketika kami selaku pemerintah hadir di hadapan masyarakat petani sawit, tentunya kami tetap mau melihat masyarakat petani sawit dapat lebih meningkat dalam tarap ekonominya. Sehingga peningkatan kesejahteraan petani sawit dapat membawa berkah yang lebih maksimal lagi,” ujarnya kepada BKM di sela-sela kegiatan tersebut.
Para petani sawit pun menyampaikan keluh kesahnya soal harga yang dihadapi. Baik itu masalah indeks K maupun masalah yang bisa mempengaruhi infes K. Selain itu, mereka juga mengeluhkan masalah pengangkutan. Mereka pun meminta agar masalah ongkos pengangkutan buah ini dapat ditanggung pihak perusahaan.
”Jangan masalah ongkos atau biaya pengangkutan ini dibebankan kepada petani sawit. Karena kami masyarakat petani sawit, kehidupan kami sudah terseok-seok. Sementara pihak perusahaan tidak pernah melihat kondisi yang kami hadapi selaku masyarakat petani sawit. Kalau masalah biaya pengangkutan ini terus dibebankan kepada kami para petani sawit, maka tentu akan membuat beban hidup kami akan semakin berat,” tutur salah seorang petani di hadapan Kepala Dinas Perkebunan Sulbar.
Salah seorang petani sawit lainnya juga meminta kepada pihak perusahaan sawit untuk mengambil keputusan terkait harga TBS dan melakukan penetapan harga setiap bulannya. ”Kami juga berharap kepada pihak perusahaan sawit agar dapat membantu transportasi kami saat datang menghadiri pertemuan seperti ini. Karena transportasi ke kota Mamuju ini jauh. Jadi biayanya tentu tinggi juga. Kami berharap harus ada pertimbangan secara rasional kepada kami,” katanya. (ala/mir/c)