MAMASA, BKM – Proyek peningkatan jalan ruas Tabone-Malabo Segmen IV Bussu-Sumarorong yang dikerjakan PT Majusetia Nusasentosa, kondisinya sangat memprihatinkan. Proyek ini menggunakan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) dengan nilai kontrak Rp11.445.706.000. Betapa tidak, jalan yang sudah selesai dibeton dan belum cukup lima jam, sudah mengalami retak-retak.
Bahkan, ada di antaranya yang telah patah. Kondisi jalan yang patah dan retak ini terletak di Kecamatan Sumarorong. Untuk mengelabui agar patahannya tidak kentara, salah seorang buruh dari rekanan tersebut berusaha menutupinya dengan jalan ditempeli menggunakan semen cair. Kondisi jalan yang retak ini lokasinya berbeda-beda, mulai dari kota Sumarorong sampai ke Bussu, Kecamatan Tandukkalua.
D Pallu, salah seorang warga Mamasa yang ditemui di Mamasa, kemarin, menuturkan, penyebab retaknya pekerjaan jalan beton Sumarorong-Bussu dikarenakan tidak adanya pengawasan. Ditambah lagi kontraktor pelaksananya tidak punya pengalaman karena termasuk kontraktor baru. Dimana, pengecoran dilakukan pada malam hari tanpa ada penerangan memadai dan hanya menggunakan lampu mobil.
”Bagaimana tidak retak, corannya ada yang tidak menggunakan batu pecah. Kita mau pihak kontraktor yang mengerjakan jalan ini tidak asal kerja. Pekerjaannya terkesan terburu-buru. Buruh hanya dibiarkan bekerja sendiri tanpa ada pengawasan. Begitu pula kontraktornya, tidak lagi melihat pada kualitas. Tapi lebih pada hanya mengejar keuntungan,” tegasnya.
Sorotan serupa juga dilontarkan Nurhadi Lake Pulio SH, seorang tokoh pemuda asal Mamasa. Ketika dimintai tanggapannya BKM, kemarin, mengatakan, proyek jalan yang belum difungsikan namun sudah rusak dan patah, itu dikarenakan campuran yang digunakan tidak sesuai dengan standar pekerjaan yang sebenarnya.
Misalnya, campuran tidak menggunakan batu pecah atau batu cipping. Ditambah lagi tidak ada pengawasan dan pihak kontraktor tidak menguasai bidang pekerjaannya. Olehnya itu, Nurhadi Lake Pulio yang akrab disapa Lake mengharapkan kepada pihak kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan ini.
Kalau ditutupi dengan menggunakan semen cair, tambah Lake, itu tidak maksimal. Dan ketika semen tipis yang menutupi jalan yang retak itu habis, maka air akan masuk ke celah-celah. Dan ini bisa fatal. Ketika beban berat melewati jalan ini, maka jalannya akan hancur. Solusinya, pihak kontraktor harus membongkar jalan yang retak tersebut.
”Kalau hal ini tidak dilakukan, maka jalan poros Sumarorong yang dikerjakan pihak rekanan ini, tidak sampai setahun akan hancur. Olehnya itu, kita imbau rekanan meninjau pekerjaannya. Sebab kalau tidak, bisa saja LSM atau masyarakat atau masyarakat Mamasa akan melaporkan hal ini ke penegak hukum. Karena proyek ini telah merugikan masyarakat Mamasa. Kami masyarakat Mamasa memang sangat mendambakan perbaikan jalan. Tapi kalau asal jadi, buat apa,” kata Lake dengan nada tanya. (dar/mir/b)
Proyek Peningkatan Jalan Ruas Tabone-Malabo Memprihatinkan

Ketgam: BKM/DARMAN ARDI TUTUPI RETAKAN -- Salah seorang buruh sedang menutupi coran yang retak. Proyek peningkatan jalan yang baru dikerjakan selama lima jam ini, beberapa bagiannya mulai dari Sumarorong ke Bussu telah retak. Bahkan ada yang patah. Papan proyek yang berdiri tidak jauh dari lokasi proyek.