MAKASSAR, BKM — Kepala Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Sulsel, Rachmat Prio Sutardjo menyayangkan tawuran antarimigran asal Afgahnistan dan Sudang di Wisma Bugis I, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar dua malam lalu. Menurut Rachmat, ini adalah yang kedua kalinya.
“Jumlah mereka semakin banyak, kita dibikin repot. Apalagi dengan adanya kejadian perkelahian seperti ini. Kejadian seperti ini sudah kedua kalinya terjadi di Makassar,” ujar Rachmat saat dihubungi BKM terkait tawuran antarimigran ini, Kamis (10/9).
Rachmat mengatakan, jumlah imigran asal Timur Tengah di Makassar kurang lebih hampir 2.000 orang. Menurutnya, para imigran ini adalah pelarian dari negaranya yang mengalami konflik. “Mereka kabur dan ke Indonesia dan dilindungi oleh PBB. Karena mereka orang asing, makanya harus didata,” katanya.
Pada kesempatan itu, Rachmat juga mengklarifikasi soal lokasi tawuran. “Bentrok terjadi di ruang makan pada saat makan malam. Jadi bukan di rumah makan seperti yang diberitakan sejumlah media,” katanya.
Mereka, kata Rachmat, berkelahi menggunakan alat yang ada di sekitar ruang makan. “Karena ini menyangkut tindak pidana, maka kita melibatkan aparat kepolisian,” tegas Rachmat Prio Sutardjo.
Sementara itu, tujuh imigran dari dua kubu bertikai yang terluka beberapa diantaranya menjalani perawatan di beberapa rumah sakit, kemarin.
Pascabentrokan, sejumlah korban menjalani perawatan di RS Awal Bros. Sejumlah petugas medis terkesan menyembunyikan kondisi pasien asal Afganistan bernama Barat Ali yang diduga kondisinya memprihatinkan akibat terkena sabetan parang.
Salah seorang staf Bagian Informasi RS Awal Bros yang enggan menyebutkan namanya membenarkan jika Barat Ali, mengalami luka robek pada bagian kepala dan lengan.
“Saya lihat di buku catatan, sekarang pasien dipindahkan ke lantai 8,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas RS Awal Bros, Elsye yang ditemui BKM menyembunyikan keberadaan pasien yang sudah berada di lantai 8. Dia mengaku, kalau pasien tidak bisa mengerti Bahasa Indonesia. “Kita ke kantor Imigrasi saja untuk cari informas,” katanya.
Terpisah, di RSUD Daya Makassar, pasien asal Sudan yang telah dirawat telah dipulangkan karena kondisinya telah membaik.
“Dia (imigran Afghanistan, red) foto-foto kami, terus dia bilang kalau kami ini mirip monyet,” ungkap Abdul Azim (31) asal Sudan menjelaskan penyebab mereka berkelahi dengan imigran Afghanistan.
Sementara tim medis rumah sakit yang dikonfirmasi mengatakan, pasien asal Sudan kondisinya membaik setelah mendapatkan perawatan.
“Kalau untuk informasi medis lainnya terkait pasien kami tidak bisa jelaskan, karena dokter yang tangani pasien kemarin malam itu sudah pulang sedangkan kami ini perawat yang masuk sore,” katanya.
Diketahui, dua kelompok Imgran asal Sudan dan Afganistan terlibat bentrokan kelompok. Pemicunya, kelompok Imigran Sudan tidak terima difoto oleh kelompok Imigran asal Afganistan.
Salah seorang imigran asal Afganistan, yakni Yasin menegur namun tidak diterima baik oleh para imigran Sudan. “Salah seorang imigran asal Sudan yakni Yusuf mengambil pisau dapur dan menikam Yasin,” ungkap Hikmatullah salah seorang imigran. Akibatnya, terjadi tawuran kelompok.
Aparat Polsek Tamalarea setelah menerima informasi lansung melakukan pengamanan. Mereka yang terluka masing-masing Idris Hamid Alnur Jummah, Yousif, Hafiz Ismail, Mohidin Adam, Ahmed Abduelkreem, Muhiddin Altahir Abdel Azim, dan Muh Yasin Jafari (25) .
Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Frans Barung Mangera kepada BKM mengatakan, proses hukum kepada kelompok imigran yang saling keroyok itu akan dilakukan di Indonesia.
“Meski mereka adalah warga imigran namun peristiwa terjadi di Makassar. Maka tentunya proses hukum yang akan diberlakukan adalah proses hukum Indonesia,”ujar F Barung.
F Barung mengungkapkan, aparat Polrestabes Makassar akan melakukan koordinasi kepada pihak kantor Duta Imigran. (ish-jun-arf/cha/b)