MAKASSAR, BKM–Sejumlah pengusaha pemotongan hewan mulai mengeluhkan kondisi Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Tamanggapa yang terlihat jorok dan fasilitasnya sudah tidak layak lagi.
Keluhan pengusaha sangat beralasan. Sebab, RPH yang seharusnya dalam kondisi bersih ternyata terlihat kumuh dan tak terawat. Kesan tidak terawat paling tidak terlihat dari menumpuknya limbah dari kotoran hewan yang telah dipotong.
Selain itu, pada beberapa sudut tampak potongan organ dan bagian tubuh dari hewan yang sudah di potong berserakan dimana-mana.
Tidak itu saja, sanitasi disekitar RPH juga buruk. Karena saluran pembuangan limbah belum dimiliki RPH. Belum lagi, akses jalan masuk RPH sudah rusak.
Salah seorang pengusaha hewan, Ahmad Dg Lala yang juga Koordinator Pengusaha Pemotongan Hewan di RPH mengatakan, RPH sudah perlu dibenahi. Alasannya, fasilitas seperti tempat memotong sapi sudah tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Cotohnya kata Ahmad, untuk perlakuan hewan harus ada kandang peristirahatan sebelum dipotong, dan setelah dipotong dimasukkan di ruang untuk melayukan.
“Ini yang harus diperhatikan pengelola RPH sebelum daging tersebut dijual ke konsumen,” ujarnya.
Selain itu, RPH juga tidak memiliki instalasi pengolah air limbah (IPAL). Padahal IPAL wajib ada, agar limbah yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan sekitar.
“Perusda selaku penyedia sarana dan prasarana di RPH seharusnya melengkapi sarana tersebut, termasuk menjaga RPH selalu bersih. Namun, sejak keberadaan RPH Tamangapa selama 26 tahun ini tidak ada lagi pembenahan. Tolong akses jalan masuk RPH agar dibenahi, sarana pemotongan hewan juga dibenahi, dengan pertimbangan adanya iuran yang ditarik RPH ke pengusaha hewan,” ujarnya.
Terpisah, anggota DPRD Kota Makassar juga prihatin melihat kondisi Rumah Pemotongan Hewan (RTH) yang tampak jorok.
Menurut anggota Komisi D DPRD Makassar, Iqbal Djalil, seharusnya wali kota sudah menetapkan Direktur Utama Perusda RTH agar pembenahan RPH bisa segera dilakukan. Apalagi, saat ini menjelang Idul Adha, mata tertuju pada RPH sebagai lokasi membeli dan memotong hewan kurban.
“Bagaimana tidak jorok, sampai saat ini saja Dirut RPH belum berganti, sehingga tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Apalagi, sudah mendekat lebaran jangan sampai gara-gara RPHnya jorok, hewan kurbannya juga ikut berpenyakitan,” ungkapnya saat di DPRD Makassar, kemarin.
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD Makassar, Mudzakkir Ali Djamil hanya menegaskan, agar pihak kecamatan, Dinas Peternakan harus menanggapai hal tersebut sebagai kondisi yang serius.
Menyikapi hal itu, Direktur Utama RPH, Sudirman Lanurung, mengatakan, menjelang Idul Adha sejumlah pengusaha sudah memasukkan sapi kurbannya. Dari pihak RPH menyiapkan tiga lahan untuk tempat kandang sapi agar para pengusaha tidak menjual sapinya di luar selain di tempat RPH.
Pengiriman sapi terdiri dari berbagai daerah di Sulsel seperti Bone, Sinjai, Bulukumba, dan dari luar Sulsel diantaranya NTT, Kendari, NTB dan Flores.
Kebersihan RPH sendiri sudah ditangani dengan cukup baik oleh para karyawan, baik di kandang maupun di tempat pemotongan. Pembersihan dilakukan dua kali sehari, dan untuk kotoran hewan sudah dibuatkan empat buah tipal sebagai penampung kotoran agar tidak tercemar keluar di pemukiman warga. Kemudian diolah kembali menjadi pupuk organik. Sementara akses jalan masuk akan di beton.(jun-ita-kkn1-kkn2/b)