PANGKEP, BKM — Taman Wisata Bahari Pulau Cambangcambang, Desa Mattiro Baji, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Minggu (13/9) sekitar pukul 08.00 Wita tiba-tiba panik. Seorang ibu berteriak minta tolong karena dua ponakannya tenggelem setelah terseret arus saat berenang di zona berbahaya.
Pagi itu, Hj Jumriah minta tolong karena dua ponakannya, Syahri (11) dan Sartini (10) kelihatan melambaikan tangan di tengah ombak besar. Warga yang juga sedang menikmati pantai pun melakukan pertolongan. Namun, saat ditemukan, Syahri sudah tidak bernyawa lagi. Sedangkan Nurtini dalam kondisi kritis. Warga beserta keluarga korban langsung melarikan Sartini yang tak sadarkan diri ke RSUD Pangkep untuk mendapatkan pertolongan tim medis.
Setelah mendapat pertolongan tim medis, kondisi Sartini mulai membaik dan masih dirawat di rumah sakit. Sementara korban Syahri telah dimakamkan di pekuburan keluarga di Kampung Mandar, Kelurahan Labakang, Kecamatan Labakang, Pangkep, kemarin.
Informasi yang berhasil dihimpun BKM menyebutkan, Hj Jumriah beserta keluarganya adalah warga asal Kampung Mandar, Kelurahan Labbakang, Pangkep. Mereka ke Pulau Cambangcambang untuk berwisata sambil berenang di laut.
Saat itu, Syahri dan Sartini berenang tidak jauh di tepi pantai. Namun, ternyata mereka berada di zona berbahaya yang lautnya dalam dengan kuat arus yang tinggi. Akibatnya, kedua anak ini tertarik hingga ke tengah laut dan tenggelam.
Kepala Dinas Pariwita Kabupaten Pangkep, Drs HM Rivai Dolo didampingi Sekdis Drs Ahmad kepada BKM di lokasi kejadian mengaku bahwa pengunjung di tempat wisata tersebut cukup ramai kemarin. Banyak anak-anak yang datang bersama orang tuanya. Mereka datang berlibur ke pulau tersebut untuk berwisata.
”Laut dimana korban berenang memang sangat dalam. Jarang anak-anak berenang di lokasi itu selain orang dewasa. Apalagi yang tidak pintar berenang,” kata Rivai, kemarin.
Rivai mengungkapkan, di pulau tersebut sudah ada beberapa petugas dari SKPD yang berjaga-jaga. Bahkan baru dua hari lalu dibentuk tim penyelamat pantai oleh Dinas Pariwisata.
“Kejadian ini murni kelalaian dari keluarga korban. Apalagi di lokasi kejadian kondisi cuaca dalam keadaan normal, tidak ada ombak yang besar,” katanya.
Malahan, kata Rivai, di lokai tersebut sudah dipasang tanda larangan berenang pada jarak tertentu karena berada dalam kedalaman yang kadang-kadang arus keras. ”Makanya ada tanda peringatan di lokasi kejadian,” tambahnya.
Di tempat yang sama Sekdis Pariwisata Pangkep, Drs Ahmad mengetahui kejadian ini sekitar pukul 10.00 Wita atau dua jam setelah kejadian.
Ia mengatakan, pagi itu, kedua korban berenang di lokasi berbahaya. ”Keluarga korban baru tahu ketika melihat keduanya sudah tenggelam berada di tengah laut,” katanya.
Kasatpol Air Polres Pangkep, AKP Darwis Akib yang dihubungi melaui ponselnya membenarkan kasus tenggelamnya dua orang anak ini. Ia mengatakan, satu orang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa lagi, dan satu lagi dalam kondisi kritis.
”Kami dari Polair masih di TKP bersama anggota. Peristiwa ini menjadi perhatian pengunjung,”tandas Darwis. (leo/b)
Berenang di Zona Berbahaya, Satu Anak Tewas Tenggelam

Berenang di Zona Berbahaya, Satu Anak Tewas Tenggelam