PERJALANAN SMPN 2 Barombong dalam kurun waktu setahun terakhir cukup membanggakan. Berbagai prestasi berhasil ditorehkan sekolah ini dibawa kendali Kepsekl Adnan, S.Pd, M.Pd.
Sejak bulan Januari 2015, pihak sekolah terus meningkatkan keahlian anak didiknya dalam berbagai ajang kompetisi yang diikutinya. Alhasil, berbagai even yang diikuti hingga tingkat nasional berbuah prestasi.
Kepsek Adnan mengakui torehan prestasi yang dicapai dalam setahun terakhir diakuinya tak diumbar ke publik. Pihaknya memilih fokus meningkatkan prestasi anak didiknya agar bisa memberikan hasil maksimal pada setiap ajang yang diikuti.
”Prestasi yang kami capai saat ini bisa membawa sekolah yang dipimpinnya bisa membawanya masuk Sekolah Berstandar Nasional (SSN),” harap Adnan saat didampingi Wakasek Drs Rustam Efendy bersama Kasi TU Abdul Wahid, Sabtu (12/9) di ruang kerjanya. Adnan menambahkan kemenangan dari status sekolah potensial menjadi sekolah berstandar nasional (SSN) merupakan salah satu langkah maju. Dengan bantuan Rp 150 juta guna memenuhi pengembangan manajemen operasional anggaran 2015/2016 dikucur dulu sebesar Rp 25 juta. Peruntukannya sepuluh juta pengembangan fisik pustaka, lima belas juta untuk pengembangan proses pembelajaran (PBM).
Dalam nuansa SSN yang semakin kental itu, para pendidik selaku inkubator dari 54 guru (PNS dan Non-PNS) pun semakin aktif membina 1.064 peserta didik. Tentunya semua prestasi yang menjadi rujukan kedalam konteks SSN itu, tidak datang secara tiba-tiba. Banyak hal yang bisa dipetik dari berbagai ajang lomba kompetensi guru dan siswa yang diraih. Manajemen administrasi guru dicapai 97 persen dari standar capaian 90 persen. Termasuk potensial pengembangan profesi, sekolah ini miliki 8 guru golongan IV/b dari standar lima orang untuk 31 PNS.
Dalam ajang yang seperti ini, tambah Rustam dan Abdul Wahid, SSos, banyak pembenahann yang dilakukan dengan cepat, dan masih ada yang mendesak dibenahi sebagai progranm lanjutan dalam memperkuat posisi SSN yang lebih signifikan dan akuntabel, misalnya rencana membangun enam RKB (ruang kelas baru). Infrastruktur pembelajaran itu untuk memenuhi kondisi yang ideal dan yang aktual bagi “SSN” maksimal 36 anak didik/kelas. Kondisi yang ada saat ini, masih 36 siswa/kelas. (zai/C)