Site icon Berita Kota Makassar

Bangunan Kumuh, Jalan Becek dan Sering Terbakar

BKM/CHAIRIL TAK TERURUS-Pasar Pannampu kini tak terurus dengan baik. Sebagai pasar tertua, seharusnya pemerintah memerhatikan kondisi pasar ini.

BKM/CHAIRIL TAK TERURUS-Pasar Pannampu kini tak terurus dengan baik. Sebagai pasar tertua, seharusnya pemerintah memerhatikan kondisi pasar ini.

Pasar ini termasuk satu dari sekian pasar tradisional tertua di Makassar. Karena letaknya yang dinilai tak lagi strategis, membuat kondisi Pasar Pannampu secara fisik terkesan terabaikan serta jauh tertinggal dari pasar tradisonal lain seperti Pasar Terong dan Pasar Pabaengbaeng.

Laporan: Muh Yusuf-Rhryn

Pasar Inpres Pannampu mulai beroperasi sejak tahun 1980 silam. Hingga berusia 35 tahun, pasar tua ini tak pernah tersentuh peremajaan.
Saat ini, kondisi Pasar Pannampu sangatlah memperihatinkan. Kondisi bangunan hampir seluruhnya sudah usang serta tekesan kumuh. Atap lods yang terbuat dari seng sudah banyak yang bocor. Lantai pasar juga sudah pecah hingga ada yang sudah menjadi tanah.
Jalan masuk ke pasar becek serta di sekelliingnya mengeluarkan aroma busuk akibat tumpukan sampah di sana-sini.
Tika, pedagang Pasar Pannampu kepada BKM mengatakan, kondisi pasar yang sudah sangat kotor kemungkinan sulit ditata. “Mungkin karena ini adalah pasar, makanya situasinya begini,” ujarnya, acuh.
Arwan, pedagang pakaian mengaku sangat tergangu berjualan di tempatnya karena aroma tak sedap yang sangat mengganggu pembeli. “Baunya yang tidak bikin tahan,” kata Arwan.
Sejatinya, area Pasar Pannampu awalnya berukuran kurang lebih 2 hektar. Pasar ini dibangun dengan puluhan lods dengan pelindung atap permanen. Pada perkembangannya, di bagian depan, sisi kanan dan kiri, para pedagang lain membuat lapak serta tenda hingga posisinya meluber. Akibatnya, lods inti menjadi sepi. Para pembeli lebih memilih berbelanja di lapak serta tenda pedagang yang berjejer di hampir pintu utama.
Nur, pedagang buah depan pasar mengaku, berjualan di posisi depan sangat menguntungkan dibanding di lods.,
”Disini lebih ramai. Kalau di dalam, pembeli malas masuk,” katanya.
Sesuai sejarah, Pasar Pannampu berada di Kecamatan Bontoala (pasca perjanjian Bongaya 1667-1669). Lokasi ini masuk dalam tanah perdikan (wilayah merdeka, bebas pajak) yang dihadiahkan oleh VOC kepada Arung Palakka – Raja Bone. Pada masa itu, wilayah Bontoala membentang dari Pannampu hingga Mamajang dan menjadi hunian bagi prajurit Bugis Bone yang menetap di Makassar. Namun seiring perkembangan, pada tahun 1905, pemerintahan VOC berakhir.
Pada masa pemerintahan Indonesia, lokasi Pasar Pannampu beralih ke Kecamatan Tallo. Pasar ini pada tahun 1980, di sisi kanan dan kirinya adalah rawa, tambak serta danau.
Sebelumnya, Danau Pannampu pernah menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah kota. Ini berlangsung kira-kira selama 3-5 tahun, pada akhir 1980-an.
Pasar Pannampu dibangun oleh seorang pengusaha properti. Selain pasar, dibangun pula areal perumahan dua lantai yang mengitari bangunan pasar yang berbentuk persegi. Pasar ini kemudian diserahkan pengelola ke PD Pasar Makassar. Kondisi pasar waktu itu masih representatif sebagai pusat belanja di bagian utara Makassar.
Namun pada 1990-an, Pasar Pannampu menjadi tempat penampungan pedagang dari Pasar Terong yang sementara diremajakan. Kondisi pasar pun mulai nampak semakin buruk dan kelihatan kumuh. Tempat pedagang tidak teratur lagi bahkan menimbulkan berbagai problem yang hingga kini belum terselesaikan.
Meski di bawah naungan PD Pasar, namun Pasar Pannampu tak urung mendapat perhatian serius. Bahkan keberadannya malah kerap menjadi ancaman penduduk setempat. Misalnya soal kebakaran. Selama berdiri, Pasar Pannampu tercatat sudah 4 kali terbakar. Yakni pada tahun 1990, 2009, 2011 dan 2012. Musibah beruntun ini tak sampai menelan korban jiwa namun tetap menjadi momok bagi warga sekitar. (/cha/b)

Exit mobile version