Site icon Berita Kota Makassar

Investor Gunakan Teknologi PVD Reklamasi

INVESTOR dari JO Ciputra Yasmin Bumi Asri, memaksimalkan pembangunan mega proyek Center Point of Indonesia (CoI) yang saat ini dalam tahap reklamasi.
Saat ini progress reklamasi sangat signifikan, khususnya mengerjakan reklamasi rawa laut seluas 12 hektar di pinggir pantai Tanjung Bunga. Investor Yasmin Bumi Asri juga melibatkan beberapa kontraktor lokal untuk mengerjakan reklamasi rawa laut tersebut.
Reklamasi CoI dibagi dua, reklamasi rawa laut dan reklamasi laut yang arusnya sedang. Reklamasi rawa laut inilah yang ditangani sendiri oleh JO Ciputra Yasmin Bumi Asri dengan melibatkan kontraktor lokal.
Terdapat sekitar 12 hektar area reklamasi rawa laut, dan ditargetkan rampung akhir tahun ini. Sementara reklamasi laut lepas dikerjakan kontraktor internasional akan dikerjakan mulai di awal tahun 2016.
Menurut Toni Kustono, General Manager CitraLand City Losari, meskipun tidak memerlukan teknologi tinggi, seperti dilakukan direklamasi laut lepas, namun reklamasi di area rawa laut ini juga dilaksanakan dengan perhitungan cemat dan hati-hati.
“Pada prinsipnya, seluruh reklamasi CoI (157 hektar), kita kerjakan dengan menggunakan teknologi terkini yang paling aman. Kita ingin mega proyek ini berdiri di atas lahan kokoh yang tahan hingga ratusan tahun,” kata Toni Kustono di Makassar, Selasa (15/9).
Karena sifat dasar tanah di rawa laut lunak dan berlumpur, jelas Toni, pihaknya menggunakan teknologi Prefabricated Vertical Drain (PVD). PVD adalah metode perbaikan kedapatan tanah yang mempercepat terjadinya proses konsolidasi, serta memperpendek proses memadatkan lahan dalam lapisan tanah lunak, sehingga air dan lumpur dapat keluar dengan cepat.
“Penggunaan PVD memaksimalkan konsolidasi lahan secara lebih radikal (cepat). Pada lahan hasil reklamasi terutama yang dasarnya tanah lunak, konsolidasi lahan menjadi isu penting, karena proses konsolidasi yang tidak baik akan menciptakan penurunan tanah. Nah, salah satu metode terbaik perbaikan tanah reklamasi saat ini adalah teknologi PVD,” ujar Toni.
Toni menambahkan, saat ini teknologi PVD menjadi cara ampuh untuk mengkonsolidasi dan mengatasi penurunan tanah pasca penimbunan. Sebelum urug dengan pasir, lahan reklamasi rawa laut terlebih dahulu di lapisi dengan geotekstil yang berfungsi untuk memisahkan lumpur dan material yang ada di atasnya.
“Setelah lahan diurug, langkah berikutnya, dilakukan ‘penyuntikan’ pipa PVD yang berbentuk pipih sedalam 20 meter. Jarak antara PVD satu dengan yang lain adalah 1,2 meter, dimana setiap 1 hektar ada 12 ribu titik PVD yang berfungsi menyedot air atau lumpur yang terjebak di antara pasir urug dan dasar tanah. Untuk Makassar sistem ini baru pertama kali diterapkan,” kata Toni.
Di negara-negara maju yang melakukan reklamasi, lanjut Toni, sistem PVD merupakan standar internasional. Meski biayanya cukup besar, tapi teknologi ini terbukti sangat efektif. Biaya per satu hektarnya ditaksir mencapai Rp.3 – 4 miliar.
JO Ciputra Yasmin Bumi Asri, imbuh Toni, tidak ingin main-main dalam reklamasi CoI. Pihaknya sangat konservatif dalam hal ini. Artinya JO Ciputra Yasmin Bumi Asri semaksimal mungkin menggunakan teknologi terbaik dan teraman.
“Dengan PVD diperkirakan dalam 6 bulan konsolidasi tanah dapat mencapai 80 persen, atau setara 50 tahun bila menggunakan cara konvensional. Teknologi PVD ini juga akan diaplikasikan direklamasi laut laut dalam,” tutur Toni dengan yakin.(*)

Exit mobile version