Site icon Berita Kota Makassar

Disnakkan Razia Pusat Penjualan Hewan Kurban

SIDRAP, BKM — Sejumlah pusat penjualan hewan kurban di Sidrap, dirazia oleh petugas Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sidrap, Kamis (17/9). Di hari pertama pemantauan dan pemeriksaan, petugas Disnakkan belum menemukan adanya hewan kurban yang berpenyakit berbahaya.
“Anggota kami masih sedang berada di lapangan. Hingga saat ini belum ada laporan dari anggota kami terkait adanya hewan kurban yang tidak layak jual. Semuanya masih aman-aman saja,” kata Kepala Bidang Peternakan Disnakkan Sidrap Sadalia, kemarin.
Dalam razia hewan kurban itu, sebut Sadalia, pihaknya melibatkan dokter hewan. Mereka terjun langsung meneliti dan memeriksa satu per satu hewan kurban, seperti mulut, gigi, dubur, dan mata.
Terpisah, Kepala Disnakkan Sidrap Patahangi mengatakan, razia hewan kurban tersebut akan berlangsung hingga menjelang hari raya Idul Adha nanti. Tujuannya, untuk memastikan agar hewan kurban yang akan dijual di di Sidrap kondisinya sehat dan layak disembelih.
Sebelumnya, hewan yang akan menjadi kurban lebaran ini paling diminati masyarakat Sidrap adalah jenis sapi Bali. Selain mudah mendapatkan, harganya yang relatif murah dibandingkan dengan harga sapi jenis lainnya, menjadi alasan utama sapi bali ini laris terjual.
“Iya pak, harganya relatif murah. Di Sidrap, sapi Bali hanya Rp13 juta per ekornya. Beratnya pun lumayan, bisa hingga 250 kilogram,” ujar Rasman di Pangkajene, kemarin.
Banyaknya umat muslim yang mengincar sapi bali di Sidrap, diakui seorang pedagang sapi Mansyur, di Kelurahan Arawa, Kecamatan Watang Pulu.
“Iya betul, saya sudah banyak menerima pesanan. Hampir semua yang diorder adalah sapi-sapi Bali,” aku Ancu, sapaan akrab Mansyur.
Menurutnya, sapi Bali memang memiliki banyak keunggulan dibandingkan jenis sapi lainnya. Salah satunya, tulangnya yang berukuran kecil namun dagingnya banyak.
“Rata-rata sapi Bali begitu, posturnya memang tampak kecil, tapi setelah dipotong beratnya sangat lumayan. Lebih banyak dagingnya dibanding tulangnya,” kata Ancu. (ady/rus/c)

Exit mobile version