Site icon Berita Kota Makassar

Aku Dihamili Pria Broken Home

Namaku Dahlia (32 tahun). Saya berasal dari latar belakang keluarga yang cukup agamis. Sejak kecil hingga tumbuh remaja, orang tua menanamkan nilai-nilai agama yang cukup kuat padaku. Apa yang baik dan tidak baik, apa itu dosa, semua tertanam dalam otakku.

Masa kecil dan remaja saya habiskan di rumah orang tua yang berada di pemukiman padat penduduk, di salah satu gang sudut Kota Makassar.
Kondisi lingkungan tempatku dibesarkan sebenarnya kurang mendukung untuk tumbuh kembang anak. Setiap hari, hampir terdengar perkelahian dan percekcokan antartetangga. Laki-laki dan perempuan bukan muhrim bisa bergaul secara bebas
Selain itu, di mulut gang, ada tempat kontrakan yang banyak dihuni wanita penghibur. Banyak orang yang suka nongkrong di sana. Utamanya anak muda memang posisinya yang cukup strategis, jika ingin mendapatkan rokok gratis, dengan mudah diperoleh disana. Perempuan-perempuan molek yang ngontrak di sana dengan senang hati memberikan rokok. Bukan tanpa alasan, namun agar kos-kosannya aman dari pencurian.
Menginjak usia remaja, saya dan beberapa teman perempuan kerap nongkrong di rumah kontrakan para PSK itu. Biasanya kami kerap disuruh beli makanan atau barang kebutuhan para PSK dengan upah yang saya anggap lumayan bagi anak seusia saya yang uang jajan dari orang tua memang sangat terbatas.
Orang tua kerap memarahi namun saya mengabaikan. Sikap perlawanan pada orang tua mulai muncul kalau saya dicari ke sana dan dimarahi di depan umum.
Karena kerap nongkrong di sana, saya tahu kalau para wanita penghibur itu kerap memasukkan tamu lelaki ke kontrakannya berganti-ganti. Malah, saya secara tidak sengaja pernah mendapati seorang wanita penghibur melayani tamunya di tempat tidur. Aksi itu terus membekas di dalam ingatan saya. Waktu itu, saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP.
Di tempat nongkrong itu, ada seorang anak muda yang juga teman main saya, Abi yang juga kerap menghabiskan waktunya disana. Usianya sebaya dengan saya. Berbeda dengan yang lain, dia kerap bergaul dengan akan muda yang nongkrong disana bukan untuk dapat rokok gratis. Namun murni untuk mencari teman. Orang tuanya cukup kaya namun, namun Abi termasuk anak broken home.
Saya suka dan jatuh cinta padanya. Diapun sepertinya punya perasaan yang sama. Hingga pada akhirnya, ketika kenaikan kelas 3 SMP, diapun menyatakan cintanya. Gayungpun bersambut. Dengan senang hati, saya menerima Abi sebagai pacarku. Berpacaran dengan Abi dalam suasana bebas, membuat saya kebablasan. Ketika menginjak semester akhir kelas 3 SMP, saya hamil. Tidak mau ketahuan orang tua yang pastinya akan murka, saya dan Abi pergi menggugurkan kandungan di salah satu kampung yang berbatasan dengan Makassar atas saran dari salah seorang wanita penghibur. Aksi itu berjalan mulus. Dengan alasan nginap di rumah teman untuk belajar persiapan ujian, dua hari saya tidak pulang ke rumah. Saya dititipkan di sebuah penginapan oleh Abi untuk memulihkan kondisi.
Hubunganku dengan Abi terus berlanjut. Namun, untuk berhubungan badan, kami mulai hati-hati dengan menggunakan alat pengaman jangan sampai kebablasan.
Tamat SMP, karena nilai rendah, aku dimasukkan ke SMA swasta yang kurang populer. Disana, kegilaan dan kebebasanku kian menjadi-jadi. Dengan menggunakan motor besar, Abi kerap menjemputku untuk bolos dan pergi jalan. Akibatnya, sekolahku terbengkalai. Orang tuaku beberapa kali dipanggil ke sekolah karena perbuatanku. Mereka mengaku kewalahan mendidikku. (rhm/cha/b)

Exit mobile version