SINJAI, BKM — Aktivis dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Sinjai mendesak agar Kepala Puskesmas Lappadata, Kelurahan Samaenre, Kecamatan Sinjai Tengah dicopot dari jabatannya. Sebab pelayanan di puskesmas tersebut sering dikeluhkan warga.
Yang terbaru adanya jenazah warga Dusun Bontopenno, Desa Mattunre Tellue yang terpaksa dibonceng menggunakan sepeda motor oleh sekdesnya setelah meninggal di puskesmas tersebut. Penyebabnya, pihak keluarga tidak mampu membayar biaya ambulance sebesar Rp800 ribu yang dibebankan pihak puskesmas kepada keluarganya.
Ketua Masyarakat Transparansi Sinjai (Matris) Kamal Yahya, mengecam kejadian memalukan tersebut, akibat adanya jenazah yang terpaksa dibonceng dengan sepeda motor hanya karena keluarganya tidak bisa membayar biaya ambulance.
“Pelayanan di puskesmas tersebut dipertanyakan. Jika ini terus dibiarkan akan menjadi citra buruk pemerintahan Bupati Sinjai. Karena itu kami mendesak agar Bupati segera mencopot Kepala Puskesmas karena tidak mendukung visi dan misi pemerintah daerah yang terdepan dalam pelayanan publik,” tandasnya, Minggu (27/9).
Izhar, salah seorang aktivis dan tokoh pemuda Kabupaten Sinjai juga menyesalkan kejadian itu. “Saya sudah konfirmasi kepada keluarga almarhum. Mereka sangat menyayangkan perlakuan pihak puskesmas. Ini sangat miris, kenapa masih ada kasus penelantaran mayat di Puskesmas. Padahal Bupati telah memberikan bantuan kepada puskesmas berupa mobil ambulance untuk warga, dan itu gratis,” jelasnya.
Mencuatnya kasus mayat dibonceng dengan motor oleh sekdes setempat, lantaran Puskesmas Lappadata Sinjai Tengah membebankan biaya kepada keluarga almarhum. Hal ini patut dipertanyakan.
“Kami meminta puskesmas harus bertanggung jawab atas kejadian memalukan itu. Selain itu, kami mendesak DPRD untuk memanggil Kepala Puskesmas,” tandas Izhar.
Terpisah, Kepala Puskesmas Lappadata Sinjai Tengah Suherlan yang dikonfirmasi, membantah jika pihak puskesmas membebankan biaya Rp800 ribu kepada keluarga almarhum yang meninggal di Puskesmas Lappadata.
“Tidak ada itu dinda, karena tidak ada memang mobil ambulance Puskesmas Lappadata yang dipakai untuk mengangkut mayat. Jadi sekali lagi saya luruskan bahwa tidak ada dari pihak kami yang membebankan biaya kepada keluarga almarhum untuk membayar biaya ambulance Rp800 ribu. Kalaupun keluarganya mau, kami juga tidak bisa karena memang tidak ada mobil ambulance untuk jenazah,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada Kamis (24/09), seorang siswi salah satu Sekolah Dasar di Desa Mattunre Tellue, Kecamatan Sinjai Tengah Masra Nurhidayah (7) dirawat di Puskesmas Lappadata karena mengeluh susah baung air besar. Diapun akhirnya meninggal di puskesmas tersebut.
Mayatnya terpaksa dibonceng sepeda motor oleh Sekretaris Desanya, Ambo Enre menuju rumah duka di Desa Mattunre Tellue. Hal itu dilakukan pihak puskesmas membebankan biaya ambulance sebesar Rp800 ribu kepada keluarga almarhumah. Padahal orang tuanya tidak mampu membayar biaya yang dibebankan tersebut karena keterbatasan ekonomi.
Ridwan, orang tua Almarhumah sangat menyayangkan pelayanan Puskesmas Lappadata. “Iye, dibonceng kasian pulang anakku sama Sekdesku karena tidak ada biaya untuk bayar ambulance Rp800 ribu,” ujarnya dengan nada sedih
Anggota Fraksi Gerindra DPRD Sinjai Muh Saleng juga menyayangkan kejadian itu. “Betul ndi’, aspirasi warga sudah sampai ke saya. Mayat, kata keluarga almarhum, terpaksa dibonceng pulang karena puskesmas beralasan tidak ada ambulance jenazah. Karena pihak keluarga mendengar jawaban itu, Sekretaris Desa membonceng mayat tersebut ke rumah duka,” bebernya.
Kejadian ini, menurutnya, sangat disayangkan. Karenanya, dewan berencana memanggil Kepala Puskesmas Lappadata ke DPRD Sinjai untuk menjelaskan persoalan ini. (din/rus/b)