Nama saya Putri (nama samaran). Usiaku tahun ini genap 25 tahun atau seperempat abad. Saya adalah single parent yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Anak saya lahir ke dunia akibat sebuah tragedi. Sebut saja namanya Aco. Saat ini umurnya 7 tahun.Diusia 17 tahun, saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA, saya jadi korban perkosaan dilakukan tetangga yang sudah beristri.
Midun (nama samaran), meniduri saya sebanyak tiga kali dibawah ancaman. Karena takut akan dibunuh, sayapun menutup rapat-rapat aib tersebut. Namun, karena tidak tahan dengan perlakuannya, ketika lelaki sangar yang punya banyak tatto itu ingin memperkosa saya yang keempat kalinya, saya berteriak minta pertolongan. Tetangga berdatangan. Diapun dilaporkan ke polisi. Sang istri yang tidak terima perlakuan suaminya langsung minta cerai. Namun, yang membuat saya sakit hati karena tuduhan mantan isterinya yang mengatakan saya menjebak suaminya dan perbuatan bejat yang dilakukan Midun atas dasar suka sama suka.
Midun pun akhirnya dipenjara. Namun ternyata, lelaki bejat itu meninggalkan jejak dalam rahim saya. Ternyata saya hamil. Tidak terima kondisi itu, sayapun minum sejumlah obat dengan niat ingin menggugurkan kandungan. Namun sayang, takdir berkehendak lain. Janin dalam kandunganku terlalu kuat untuk dimusnahkan. Orang tuaku juga melarang untuk menghilangkan nyawa janin yang tidak berdosa itu. Akibatnya, masa remaja saya diharus dilalui dengan kegetiran. Karena hamil, sayapun tidak diperkenankan untuk melanjutkan sekolah. Padahal tinggal beberapa bulan lagi saya sudah akan ujian.
Ternyata, nasib baik belum mau berpihak pada diriku. Aku melahirkan bayi perempuan yang lucu. Antara benci dan kasihan dengan sang bayi, akupun enggan untuk merawatnya. Bayi itupun dipelihara ibuku. Beberapa bulan setelah melahirkan, ternyata terlihat ada sesuatu yang tidak beres terhadap bayi itu. Ternyata, kata dokter, bayi yang diberi nama Mutiara (bukan nama sebenarnya), menderita gangguan mental.
Tak tega melihat ibuku menderita karena harus merawat cucunya yang cacat mental, hatikupun terketuk untuk ikut membantu merawat darag dagingku itu. Bagaimana pun, bayi mungil itu tidak berdosa. Dia tidak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia. Untuk membiayai kebutuhan Mutiara, sayapun bekerja sebagai penjaga toko. Meski gajinya tidak terlalu besar, namun cukuplah untuk memenuhi kebutuhan Mutiara. (b)