SIDRAP, BKM — Pihak Jasa Raharja akan memberikan santunan kepala seluruh korban pesawat Aviastar yang dinyatakan meninggal dunia dalam insiden pesawat jenis PKBRM/DHC6 dengan nomor penerbangan MV 7503. Setiap korban yang meninggal dunia, keluarganya akan diberi santunan Rp50 juta.
Pesawat milik Aviastar yang dinakhodai Capten Iri Afriadi dengan Co Pilot Yudhistira serta teknisi Sukris mengangkut tujuh penumpang. Mereka adalah Nurul Fatimah, Lisa Falentin, Riza Arman, Sakhi Arqam, M. Natsir, Afif (bayi 1 tahun), Raya Adawiah (3 tahun).
Kepala Perwakilan Jasa Raharja Parepare yang membawahi wilayah Kabupaten Luwu Raya, Ajjatappareng (Sidrap, Barru, Pinrang, Enrekang dan Tana Toraja) serta wilayah Sulbar, Hermanus Haurissa saat berkunjung di posko Transit Basarnas, Stadion Ganggawa, Sidrap, Selasa (6/10) menegaskan, santunan akan diberikan kepada seluruh korban pesawat Aviastar setelah data manifes penumpang dari Basarnas dan pihak manajemen Aviastar dinyatakan rampung.
“Kita akan langsung bayar melalui rekening ahli waris korban. Total klaim dana asuransi disiapkan Rp500 juta masing-masing Rp50 juta perorang baik dewasa maupun anak kecil, termasuk diberikan santunan yakni 2 orang bayi dan satu anak-anak. Totalnya 10 orang sesuai data penumpang Aviastar yang jadi korban,” ungkap Hermanus, di Pangkajenen, kemarin.
Menurutnya, tak hanya biaya santunan diberikan pihak Jasa Raharja, kata dia, juga diberikan fasilitas untuk para korban biaya tambahan seperti semua pengurusan penguburan jenazah.
“Biaya penguburan juga diberikan bila korban tidak memiliki ahli warisnya,” tukasnya.
Tunggu Hasil Identifikasi
Rumah kediaman, Muhajir, orang tua serta kakek dari tiga korban kecelakaan maut Aviastar, Nurul Fatimah dan dua bayinya, Raya serta Afif diselimuti duka mendalam
pascaditemukannya pesawat Aviastar di Lembah Gunung Bajaja, Desa Ulu Salu, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, dalam kondisi hancur.
Masih tampak terlihat keluarga berkumpul, menanti kedatangan jenazah yang sementara tengah dievakuasi.
“Kita masih terus menerima informasi dan saling berkomunikasi dengan tim evakuasi dari Basarnas dan pihak Aviastar,” kata Muhajir sambil menangis, Selasa (6/10).
Muhajir mengatakan, rencananya korban akan diterbangkan langsung dari bandara Masamba menuju Makassar.
Informasi terakhir yang diperoleh keluarga, kata Muhajir, bahwa semua jenazah korban sudah dimasukkan ke dalam kantong jenazah, untuk diterbangkan ke Makassar.
Sejauh ini tim evakuasi belum bisa melakukan identifikasi, menurut muhajir rencana jenazah akan dibawa langsung ke RS Bhayangkara untuk diidentifikasi.
“Semua korban yang sudah ditemukan langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk diidentifikasi, ” ujarnya.
Menurut dia, informasi yang diperoleh keluarga, kata Muhajir, masih ada salah satu jenazah korban Aviastar yang masih utuh, ” katanya jenazah yang masih utuh itu adalah anak kecil, mudah-mudahan jenazah yang masih utuh itu adalah cucu saya, ” harapnya dengan nada sedih.
Menurut Muhajir, rencana korban ke Makassar ada urusan kantor, sekaligus untuk menjenguknya. Sekalian juga rencananya korban akan menghadiri pesta pernikahan sepupunya.
Menurut pengakuan rekan kerja korban, ada tanda-tanda sebelum korban berangkat, korban terlihat sering menangis saat hendak naik ke atas pesawat, bahkan anaknya juga enggan naik ke atas pesawat.
“Biasanya juga kalau mau naik pesawat korban selalu menggunakan nama Nunung, tapi waktu akan menaiki pesawat Aviastar korban justru meminta mengganti nama Nunung dengan nama aslinya di tiket, ” ujar sahabat korban, Aksa yang kebetulan satu tempat kerja di Kementerian Perhubungan Udara.
Aksa merasa heran, karena tidak biasanya korban memakai nama asli sesuai KTP jika hendak naik pesawat, dan sempat menanyakan hal tersebut kepada korban sebelum berangkat.
“Korban hanya bilang jangan sampai ada apa-apanya, kan gampang ka didapat, ” ujar Aksa seraya menirukan perkataan korban. Aksa mengatakan bahwa selain menganggap korban sebagai sahabat, Aksa juga sudah menganggap korban seperti saudara sendiri. (mat/cha/b)