MAKASSAR, BKM — Rencana menghadirkan moda transportasi kereta api di Sulawesi Selatan terus digenjot. Kontraktor pemenang tender pembangunan kereta api bekerja hingga 16 jam setiap hari untuk memastikan perkembangan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Perkeretaapian Sulawesi, Henry Hidayat mengatakan semua pelaksana kegiatan bekerja hingga pukul 24.00 wita malam untuk memacu pekerjaan.
Menurut rencana, tambah Henry, rel kereta api dari China sepanjang 30 km sudah akan tiba di Pelabuhan Garongkong, Kabupaten Barru pada 20 Oktober mendatang.
Namun ada sedikit kendala dalam proses bongkar muatnya. Karena urusan bea cukai belum bisa dilakukan di Pelabuhan Garongkong, butuh waktu sekitar dua hari untuk pengurusan di Makassar.
“Sehingga proses bongkar muatnya mungkin baru bisa dilakukan sekitar tanggal 22 Oktober,” jelas Henry di sela-sela Sosialisasi Keselamatan Transportasi Perkeretaapian di Hotel Horison Makassar, Rabu (7/10).
Dia melanjutkan, jumlah rel sepanjang 30 km yang tiba sebanyak 2400 batang.
Selanjutnya, pada minggu kedua November, kembali akan tiba rel kereta api dari Jepang dan akhir November, ada lagi di China.
Henry menjamin spesifikasi dan kualitas re kereta api dari Jepang maupun China sama persis, tidak ada perbedaan.
Dia melanjutkan, sejauh ini, pengerjaan proyek fisik kereta api tidak ada kendala. Yang masih menjadi persoalan adalah terkait pembebasan lahan fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum/fasus) di Kabupaten Barru yakni dua lahan kuburan dan satu sekolah.
Henry mengatakan, pihaknya masih menunggu penyelesaian proses pembebasan lahan fasum dan fasos itu.
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Keselamatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono menjelaskan, berbeda di Pulau Jawa dan Sumatera, ada tiga komponen yang menjadi unggulan perkeretaapian di Sulsel untuk lebih menjamin keselamatan.
“Karena kereta api di daerah ini kita bangun dari awal, tidak tambal sulam seperti yang ada di Jawa dan Sumatera, tentunya kita bisa merancang yang lebih baik,” kata Prasetyo.
Keunggula itu adalah lebar spur atau lebar rel lebih besar dibanding yang ada di Jawa dan Sumatera.
“Jika Jawa dan Sumatera lebarnya 1067 mm, maka di Sulawesi lebarnua 1435 mm. Tentunya itu akan berpengaruh pada kestabilan,” jelas Prasetyo.
Selain itu, lanjutnya, kondisi rel di Jawa dan Sumater adalah R54, artinya per satu meter, beratnya 53 kg. Sementara yang di Sulawesi R60, setiap rel beratnya 60 kg.
Keunggulan lain adalah sistem perlintasan kereta api di Sulawesi Selatan dibuat sebidang. Artinya, tidak ada pertemuan lintasan kereta api dengan jalan seperti yang banyak ditemukan di Jawa maupun Sumatera. Jika ada pertemuan lintasan, maka dibuatkan fly over atau underpass sehingga kendaraan bermotor tidak akan bertemu dengan kereta api.(rhm/war/c)