Site icon Berita Kota Makassar

Caretaker Bupati Harus Tuntaskan Bandara

MAKASSAR, BKM – Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo melantik dua pelaksana tugas (caretaker) bupati di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel, Jumat (9/10).
Caretaker yang dilantik adalah Jufri Rahman sebagai pelaksana Tugas di Kabupaten Tana Toraja dan Samsibar sebagai pelaksana tugas di Kabupaten Selayar.
Kepada dua caretaker yang dilantik, sejumlah pesan dan amanah disampaikan gubernur. Salah satu poin penting adalah caretaker bupati harus erkonsentrasi pada perekonomian rakyat.
Caretaker bupati, khususnya Bupati Tana Toraja dan Bupati Kepulauan Selayar, diharapkan bisa menjadi pimpinan yang mampu mengenergizer di daerahnya.
“Bupati harus memastikan sembako dan kebutuhan dasar lainnya tetap tersedia. Jadi paling lambat dalam seminggu para bupati harus melaporkan stoknya,” kata Syahrul.
Syahrul juga mewanti-wanti, dalam dys bulan ini, bersama wakil gubernur dan sekretaris daerah provinsi (sekprov) akan berkunjung ke berbagai kabupaten secara bergantian, untuk melihat langsung kondisi yang ada di lapangan.
Caretaker terpilih juga diminta mengendalikan situasi keamanan di wilayah kerja masing-masing, apalagi menjelang pemilihan kepala daerah.
“Jika caretaker merasa tidak mampu mengendalikan situasi di daerahnya, segera sampaikan ke atas agar pemprov ambil alih,” ungkap Syahrul.
Syahrul juga berencana mencanangkan program baru di sektor kemaritiman, berupa mothership atau kapal induk penangkap ikan, untuk menjaga agar sumber daya laut Sulsel dapat dimaksimalkan perolehannya.
“Saya mau program baru itu bisa ditandatangani pada November, ini untuk semua daerah yang potensi perikanan bagus,” jelas Syahrul.
Dan yang paling menjadi penekanan adalah persoala airport atau bandara karena Toraja dan Selayar adalah daerah pariwisata.
Sementara Caretaker Bupati Tana Toraja, Jufri Rahman, menyatakan kesiapannya melaksanakan instruksi gubernur tersebut. Bahkan untuk sektor pariwisata, ia menjanjikan pelaksanaan event Lovely Toraja yang jauh lebih bagus daripada tahun-tahun sebelumnya.
Mengenai pembangunan bandara Toraja, ia berpendapat yang dimaksudkan oleh gubernur adalah kendala pada pembebasan lahan. Apalagi anggaran untuk itu disebutnya sudah siap.
“Tentu maksudnya pak gubernur itu dipicu penyelesaian pembebasan lahan karena anggarannya sudah siap. Hanya sedikit terhambat karena banyak tanah adat,” jelasnya.
Ia menyatakan, untuk menyelesaikan kendala yang ada tersebut, dibutuhkan waktu dan pendekatan informal persuasif, sehingga pada saatnya nanti seluruh lahan untuk pembangunan bandara itu siap. (rhm/war/c)

Exit mobile version