ENREKANG, BKM — Bentrok antara mahasiswa dan polisi terjadi di Enrekang. Aksi saling pukul berawal dari unjukrasa oleh sedikitnya 20-an mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Pelajar dan Mahasiswa Maiwa (APMM) Maiwa di depan gedung DPRD Enrekang, Jalan Sultan Hasanuddin, Kamis (15/10).
Demo mahasiswa digelar sebagai protes atas lemahnya pengawasan terhadap pendidikan akibat kepentingan kelompok ataupun politik yang ada. Khususnya kebijakan mutasi yang telah dilakukan oleh pemerintah setempat baru-baru ini, khususnya di SMAN 1 Maiwa.
Para pendemo bermaksud menemui anggota dewan menyampaikan aspirasinya. Namun baru sekitar 20 menit menyampaikan orasinya, unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai, tiba-tiba ricuh.
Saat itu seorang mahasiswa mencoba menahan sebuah mobil boks yang melintas. Mereka berencana akan menggunakan mobil boks tersebut sebagai panggung orasi.
Namun aksi itu dihentikan aparat kepolisian,karena dianggap mengganggu pengguna jalan. Kericuhanpun tak terhindarkan, saat Kasat Intel Polres Enrekang AKP Asdar, bersama sejumlah aparat lainnya mencegah dan meminta mahasiswa untuk tidak menaiki mobil boks. Akhirnya, aksi saling pukul diantara kedua pihak tak terhindarkan.
”Hari ini adalah bukti kemunduran Pemkab Enrekang. Tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum-oknum aparat penegak hukum yang tidak bertanggung jawab. Padahal kami sudah menyurat sesuai dengan prosedur. Pemukulan ini sengaja disetting supaya kami tidak ketemu dengan pejabat,” kata Hardiman, Jenderal Lapangan APMM yang ditemui usai ricuh di TKP.
Terpisah, Maswar, salah seorang mahasiswa yang ikut demo juga menyesalkan tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan oknum aparat kepolisian. Mestinya, kata dia, polisi mengamankan aksi demo yang dilakukan mahasiswa. Bukan justru memukul.
”Kami ada bukti foto dan rekaman videonya. Polisi yang memukuli kami duluan supaya meninggalkan lokasi aksi. Kami akan menyurat kepada Polda Suselbar atas tindakan anarkis aparat terhadap kami. Kami akan melakukan unjuk rasa yang lebih besar lagi di Makassar,” tegas Maswar.
Kasat Sabhara Polres Enrekang AKP I Made Untung membantah jika ada pemukulan yang dilakukan oleh anggotanyan seperti yang dituduhkan oleh mahasiswa.
”Tidak ada yang memukul mahasiswa. Anggota hanya melarang naik ke mobil boks untuk orasi. Namun mereka berontak. Padahal anggota DPRD sudah mau menerima untuk diskusi,” jelas I Made Untung.
Anggota DPRD Enrekang dari Partai Golkar Idris Sadik sangat menyayangkan kejadian tersebut. ”Yang begini harus ditangani secara presuasif. Jangan dihadapi dengan cara kekerasan, karena mereka datang tentu ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan,” ujar Ketua Bandan Kehormatan (BK) ini.
Dalam aksinya, mahasiswa mendesak Kepala Dinas Pendidikan Enrekang untuk mundur dari jabatanya karena dianggap gagal dalam mengelolah sistem pendidikan dengan baik. Selain itu, mereka juga mendesak Ketua DPRD Enrekang sebagai respresentatif untuk mempertanyakan keputusan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Enrekang yang melakukan mutasi kepala SMAN 1 Maiwa.
Mahasiswa juga meminta Bupati Enrekang untuk bertanggung jawab atas kebijakan mutasi yang bertentangan dengan paraturan perundang-undangan Permendiknas No.28 Tahun 2010 tentang pejabat kepsek. (her/rus/b)