MAROS, BKM — Film dokumenter yang mengangkat tentang gugusan karst di wilayah Kabupaten Maros, “Pejuang Dari Gua Purbakala” masuk nominasi lima besar Antologi Film Dokumenter Eagle Awards ke-11 bertema ‘Merajut Indonesia’, Kamis (16/10) kemarin.
Sutradara film, Nurtaqdir Anugrah menyebut prestasi ini dapat diraih karena keseriusan mereka menggarap film yang sekaligus mencerminkan keprihatinan mereka tentang kondisi alam di Kabupaten Maros.
“Film ini memang dibuat secara kreatif namun kritis menceritakan perjuangan pemuda lokal melindungi karts dari keserakahan indutrial. Penambangan karst yang semakin meluas tanpa memperhatikan situs pra-sejarah membuat kami tergerak membuat film ini, syukurlah mendapat apresiasi tinggi,” katanya.
Dia mencontohkan, kondisi Bulu Barakka yang hampir saja ditambang perusahaan marmer, padahal di tempat tersebut terdapat situs pra-sejarah. Sehingga diharapkan pemerintah dalam mengeluarkan izin penambangan agar memperhatikan pelestarian alam dan situs tersebut.
Nurtaqdir berharap, warga Maros dan Sulsel mensupport film itu dengan memberi penilaian lewat www.eagleawards-doc.com. Saat ini “Pejuang dari Gua Purbakala” menampati posisi keempat dan akan terus dievaluasi hingga pengumuman pemenang, Desember nanti.
Film itu akan diputar di lima tempat, yaitu di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada 20 Oktober, Aula Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 22 Oktober, Universitas Negeri Semarang pada 27 Oktober, Universitas Tadaluko Palu pada 29 Oktober, dan Institut Francis Indonesia pada 29 Oktober. (ari-ril/c)