MAKASSAR, BKM — Jumlah penderita virus mematikan HIV/AIDS di Kota Makassar telah mencapai 7.106 penderita.
Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Makassar ini, karena kesadaran masyarakat untuk memeriksakan dirinya semakin tinggi. Angka ini diketahui, tidak terlepas dari kesadaran masyarakat untuk bersedia diperiksa apakah terjangkit virus HIV/AIDS atau tidak.
Namun disisi lain, perilaku seks menyimpang dari masyarakat menjadi pemicu utama meningkatnya penyebaran virus mematikan ini.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto saat menjadi pembicara di Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS V yang digelar di Hotel Sahid Jaya Makassar, Rabu (28/10) menyatakan, Pemkot Makassar akan selalu menanamkan kepercayaan banhwa Kota Makassar adalah wilayah yang nyaman ditinggali oleh semua pihak termasuk penderita HIV/AIDS.
“Tidak boleh ada diskriminasi termasuk ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Kota Makassar adalah wilayah untuk semua orang,” tegas Danny sapaan akrabnya.
Danny menambahkan, saat ini terdata sebanyak 7.106 lebih kasus HIV/AIDS di Makassar, dan tercatat ada sebanyak 9.000 lebih di Sulawesi Selatan. Untuk itu, dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah dalam penanggulangannya.
“Penanganan terhadap ODHA sendiri telah lama menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar melalui layanan di 48 Puskesmas yang menjangkau pengidap HIV/AIDS hingga ke level terendah. Dua persoalan yang menjadi perhatian Pemkot Makassar terkait isu HIV/AIDS, bagaimana pengidap HIV/AIDS dapat ditangani dengan baik tanpa diskriminasi, dan bagaimana mencegah penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia itu,” ujar Danny.
Pencegahan, dan pengobatan HIV/AIDS ke depan, tambah Danny, diupayakan dengan melibatkan layanan home care, sekaligus memberikan penyadaran kepada pengidap HIV/AIDS untuk kembali berobat di Puskesmas. Home Care dimobilisasi untuk mencegah dan pengobatan, jelasnya.
Bukan hanya itu, kampanye terhadap pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS juga bakal dimulai di sekolah-sekolah dengan memberikan pengetahuan mengenai HIV/AIDS bagi guru-guru, dan kepala sekolah.
“Upaya penyadaran itu kita mulai dari sekolah karena ada tiga pintu yang paling baik untuk masuknya ilmu yaitu melalui sekolah, rumah ibadah, dan keluarga. Sebagai pemerintah kami akan mengawalinya di sekolah,” pungkasnya.(arf/war/c)