MALILI, BKM –Silaturahmi yang digelar mantan Bupati Luwu Timur dua periode, Andi Hatta Marakarma dengan masyarakat Kecamatan Wotu, Minggu (1/11) sore membuat jalan tran Sulawesi didesa Bawalipu mengalami kemacetan.
Akibatnya, ayah dari anggota fraksi Golkar DPR RI, Andi Fauziah Pujiwatie ini melayangkan permohonan maaf kepada pengguna jalan. “Saya, pak Nur dan Pak Esra memohon maaf karena acara silaturahmi ini telah mengganggu arus lalu lintas jalan, ini bukan kesengajaan,”kata Andi Hatta.
Kehadiran Hatta bersama cabup dan cawabup nomor urut 1, Nur Husain-Esra Lamban mendapatkan respon yang luar biasa dari masyarakat setempat.
Hatta mengaku masih mempunyai kewajiban moral terhadap daerahnya sendiri sehingga tidak akan melepaskan daerah yang dijuluki Bumi Batara Guru itu ketangan orang-orang yang tidak paham dengan kondisi tanah kelahirannya. “Sejak 12 tahun saya mengabdikan diri, Alhamdulillah saya sudah mengikuti perintah masyarakat seperti menggratiskan pendidikan hingga SMA, kesehatan dan membangun infrastruktur yang sebelumnya saya tidak pernah janjikan,”ungkapnya.
Hatta menegaskan, pemimpin kedepan harus yang pandai mengucapkan kata ‘Terima Kasih’ kepada masyarakatnya. “Saya juga menyampaikan kepada pasangan Nur Husain dan Esra Lamban untuk tidak menjanjikan kepada masyarakat yang tidak dapat direalisasikan sebab itu pembodohan,”ungkapnya.
Janji tersebut, kata Hatta seperti menggratiskan siswa-siswi hingga perguruan tinggi, memberikan fasilitas Kendaraan Dinas (Randis) kepada seluruh Kepala Desa (Kades), membagikan laptop kepada seluruh tenaga pengajar (Guru), dan menaikkan APBD hingga lima kali lipat.
“Saya tidak menjelek-jelekkan calon lain, kami hanya sedikit mengkritisi supaya masyarakat tidak dibodoh-bodohi dengan sejumlah program yang tujuannya hanya mau meraih simpati saja,”tegas Hatta. Hatta juga menintip pesan pada Nur dan Esra untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinannya itu.
“Saya hanya percaya Nur dan Esra, bukan yang lain. Kalau ada calon yang mengatakan uangnya banyak tanya dulu dari mana,” ungkapnya. Lutim ini, lanjut Hatta, tidak cukup dibangun dengan hanya senyum saja, melainkan pengalaman, ilmu dan ketegasan seorang pemimpin yang diperlukan.
Cabup Nur Husain menambahkan, dirinya maju bukan karena jabatan, tetapi semata-mata untuk mengabdikan diri didaerahnya sendiri. “Jabatan Bupati hanya 10 tahun lamanya setelah itu kita kembali menjadi masyarakat seperti biasanya, saya mau menjadi Bupati untuk masuk surga,”ungkap Nur. (alp/rif/c)