Site icon Berita Kota Makassar

Selingkuhan Hamil, Suamiku Kugugat Cerai

Selingkuhan Hamil, Suamiku Kugugat Cerai

Selingkuhan Hamil, Suamiku Kugugat Cerai

Usai kejadian baby sitterku mengundurkan diri dengan alasan kerap dicolek, kepercayaan terhadap suamiku mulai berkurang. Namun karena pertimbangan anak dan sikapnya yang baik serta rajin ibadah, saya pun secara perlahan mulai melupakan persoalan itu.

Karena pembantuku cukup kewalahan bekerja di rumah menjaga anak, akhirnya kuputuskan untuk kembali menggunakan jasa baby sitter. Kali ini, saya memilih baby sitter yang sudah berusia 35 tahun dengan body yang biasa-biasa saja, kalau tidak bisa dibilang kurus.
Rumah tanggaku pun mulai adem. Saya kembali fokus bekerja untuk mengejar karir. Suamiku pun kuwanti-wanti agar tidak jelalatan. Harus kuakui, peran suamiku mengawasi pertumbuhan buah hatiku sangat besar. Itu juga yang membuatku tenang karena bisa mengawasi anakku dari penjagaan baby sitter.
Apalagi, suamiku bukan tipikal orang yang sering nongkrong atau jalan. Dia lebih betah di rumah.
Tahun ketiga perkawinan, akupun kembali hamil. Dan dianugerahkan putri yang cantik. Baby sitterku kuminta menjaga anak keduaku dengan gaji yang bertambah. Diapun menyanggupi. Sehingga tidak ada persoalan. Karirku semakin menanjak. Karena pekerjaan, aku kerap rapat hingga tengah malam. Kadang harus keluar kota. Suamiku pun tidak pernah protes dengan aktifitasku yang padat. Malah, dia mendukung karirku sepenuhnya.
Pulang ke rumah, kadang anak dan suamiku sudah tidur.
Prahara kembali muncul ketika aku pulang ke rumah tengah malam. Karena membawa kunci sendiri, saya tidak pernah membangunkan orang di rumah. Ketika masuk rumah, saya terkejut melihat suamiku belum tidur dan berjalan dari arah belakang, kamar pembantuku.
Ketika aku tanya apa yang dilakukannya, dengan sigap, dia berkata, habis mengecek pintu belakang yang ternyata belum terkunci.
Namun, saya tidak percaya begitu saja. Keesokan harinya, pengasuh anakku saya interogasi soal suamiku. Diapun mengeluarkan keterangan yang cukup mengejutkan. Sang baby sitter mengatakan, dia kerap melihat suamiku berduaan dengan sang pembantu.
Akupun memanggil pembantuku dan mengorek keterangan darinya dengan sedikit mengancam. Akhirnya pembantuku pun mengaku jika kerap tidur dengan suamiku. Malah, secara mengejutkan dia mengatakan pernah hamil dan disuruh menggugurkan bayi dalam kandungannya. Hatiku hancur mendengarnya. Saya pun minta cuti dari kantor dan minta agar perceraian segera diurus.
Namun, suamiku bersikukuh tidak mau menceraikanku. Dia pun berjanji akan menyelesaikan persoalannya dengan sang pembantu. Namun saya lebih memilih untuk bercerai ketimbang hidup dengan lelaki seperti itu. Saya lebih memilih jadi single parent. (b)

Exit mobile version