MAKASSAR, BKM — Stigma anarkis kerap menempel pada berbagai aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Makassar.
Di berbagai media, baik cetak maupun elektronik, aksi kekerasan para pendemo selalu ditonjolkan.
Malah, menurut Komjenpol Purnawirawan Ismerda Lebang, perilaku mahasiswa yang dimotori pemuda, dikenal sebagai aksi paling brutal di Indonesia.
“Yang terakhir, pada tahun 2012, bentrok dengan mahasiswa dan polisi dua hari dua malam. Tidak tanggung-tanggung, TNI juga diturunkan,” kata Ismerda saat menjadi keynote speech pada acara
Seminar Sehari Membangun Pandangan Positif tentang Sulawesi Selatan dengan Mengangkat Kearifan Lokal Siri’na Pacce dalam Bingkai Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi, Senin (2/11) di Gedung Manunggal TNI-ABRI.
Seminar itu digelar atas kerjasama Polda Sulselbar dan Universitas Hasanuddin.
Dia melanjutkan, stigma yang muncul dari aksi demo anarkis itu menggambarkan jika Makassar kota yang tidak aman.
Perilaku anarkis di Makassar itu dinilai menghilangkan siri na pacce yang dianut sebagian besar warga Sulsel.”Menggerus dekadensi moral. Bagaimana seseorang menempatkan rasa malu tidak pada tempatnya,” jelas Ismerda.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Drs Pudji Hartanto MM, mengatakan, sebagai pengemban tugas Kamtibmas, harus ada aksi untuk menghilangkan stigma negatif terkait karakter orang Sulsel. Karena itulah, digelar seminar untuk mencari solusi atau jalan keluar agar aksi demonstrasi yang dilakukan tidak berujung anarkis.
“Saya berharap seminar ini tak sebatas seremoni belaka. Harus ada aksi untuk menghilangkan stigma anarkis itu,” tegasnya.
Aksi unjuk rasa tidak dilarang, apalagi memperjuangkan kepentingan orang banyak. Tapi, jika perjuangan dinodai aksi melanggar hukum dan mengganggu kepentingan umum, itu sangat tidak diharapkan.
Budayawan Alwy Rahman mengatakan, pekerjaan rumah bersama, bagaimana menyeimbangman kebudayaan dan peradaban. Pemuda harus diatasi dengan kebudayaan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang, menjelaskan, stigma Sulsel tidak aman dan sering rusuh harus dihilangkan. Begitu juga dengan demo berujung anarkis.
?Kata-kata bijak siri’ na pacce dalam bingkai
Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi harus dipergunakan dalam konteks positif. Bukan dalam perbuatan yang kurang terpuji.
Satuan yang paling penting diperbaiki untuk membangun moral anak bangsa adalah keluarga.
Agus juga percaya jika pola pikir mahasiswa masih bisa diubah dengan pendekatan siri’ na pacce.
Lebih jauh, Chairman Fajar Grup, HM Alwi Hamu juga menjelaskan, dalam memberitakan setiap peristiwa, termasuk aksi unjuk rasa, seharusnya media radio, televisi dan media cetak selalu berpegang pada undang-undang dan kode etik. Itu ditekankan agar tidak ada pemberitaan yang diblow up terkesan settingan.”Wartawan yang tidak paham UU dan kode etiklah yang terkadang membuat gaduh negeri ini,” ungkap Alwi Hamu.
Dia melanjutkan, media-media harus disertifikasi agar tidak menulis serampangan. Sekitar 200-an media pun diarahkannya agar menulis berita secara bijak. Seburuk apa pun informasi harus diberitakan dengan cara yang bijak.
Alwi menekankan, paradigma media saat ini harus mengubah mindset dari bad news is the best news, menjadi good news is the best news. Kuncinya ada pada how to spell atau bagaimana menyampaikan pemberitaan itu.
Berita yang diturunkan meski pun heboh namun ditulis dengan bijak dan tidak menghasut. Jadikanlah media sesuatu yang baik bagi Indonesia.
Dia memaparkan orang Bugis-Makassar punya jiwa rantau yang luar biasa. Mereka jadi tokoh di tempat rantaunya. Itu karena membawa tiga ujung. Ujung lidah (informasi dan diplomasi), ujung badik (pertahanan diri), dan ujung kemaluan (kehormatan diri).
Seminar sehari itu diikuti berbagai stakeholder diantaranya Ketua DPRD Sulsel HM Roem, Rektor Unhas Dwia Ariestina Pulubuhu, Akbar Faisal, Alwi Rahman, Ishal Ngeljeratan, dan berbagai elemen masyarakat. (rhm/war/b)