Di era modern saat ini, nilai-nilai hidup terasa sekali mengalami pergeresen. Terutama pergaulan anak muda. Jika dulu, agama, adat dan budaya masih diagungkan menjadi tuntunan, saat ini, nilai-nilai itu kian tergerus.
Laporan : Rahma Amri
Persoalan tabu dan tidak tabu kian diabaikan. Akibatnya, pergaulan bebas di kalangan remaja kian memprihatinkan.
Hamil di luar nikah, tinggal seatap tanpa ikatan perkawinan, menjamurnya PSK di bawah umur, merupakan fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Di kos-kosan mahasiswa misalnya, bisa dengan mudah dijumpai, lelaki dan perempuan muda tinggal serumah tanpa buku nikah. Atau, mahasiswi yang kerap membiarkan pacarnya nginap di rumah kontrakan.
Di sekitar kos-kosan atau biasa juga di sebut pondokan yang banyak menjamur di sekitar perguruan tinggi, kehidupan seks bebas kerap tumbuh subur.
Salah seorang pemilik rumah kos di kawasan pusat kota, Nur, mengaku, kendati cukup ekstra melakukan pengawasan, tetap saja ada yang lolos memasukkan pacar di rumah kos. Ada juga yang beralasan lelaki yang bermalam di kosan sang wanita adalah saudara dari kampung.
Bukan hanya di kalangan mahasiswa, perilaku seks bebas juga sudah merambah hingga ke kalangan anak baru gede alias ABG atau remaja yang masih duduk di bangku SMA, SMP, malah ada juga murid SD.
Di usia yang masih labil, dengan rasa penasaran yang tinggi, ditambah bujukan pacar, seorang ABG bisa dengan mudah memberikan kesucian tanpa memikirkan dampak dari perbuatannya itu. Bukan hal asing lagi kita mendengar ada anak ABG yang terpaksa dikawinkan di usia dini karena hamil. Atau pasangan ABG yang berkonspirasi menggugurkan kandungan alias kebablasan hamil, sementara sang lelaki tidak mau bertanggung jawab. Ujung-ujungnya, jika diberhasil diketahui, pasangan mesum yang aborsi harus mendekam dibalik penjara dan memutus masa depan cerah mereka.
Banyak fakor yang membuat kehidupan seks bebas di kalangan remaja kian meningkat. Bukan hanya itu, di tempat-tempat ini, para penikmat narkoba pun kian merajalela. Awalnya, hanya coba-coba karena mau dibilang anak gaul, namun lama kelamaan akhirnya kecanduan.
Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik) ada beberapa persoalan yang menyebabkan perilaku seks bebas kian meningkat.
Seperti yang dituturkan Direktur LBH Apik, Rosmiati Sain. Salah satu faktor adalah kurangnya pengawasan dari orang tua.
Jauh dari orang tua, seperti yang dialami mahasiswa dan mahasiswi yang menuntut ilmu di kota misalnya, menjadi peluang besar untuk menjalani seks bebas. Apalagi, jika lingkungan sekitar mendukung perilaku itu. Seperti, aparat setempat dan pemilik kos atau kontrakan tidak terlalu peduli dengan aktifitas yang dilakukan.
“Itu membuat kehidupan seks bebas tumbuh subur,” ungkap Rosmiati.
Selain itu, kecanggihan teknologi juga menjadi salah satu pemicu. Mudahnya masyarakat mendapat akses video atau gambar porno, hingga ke kalangan anak kecil sekalipun, menumbuhkan perilaku hidup bebas.
“Bayangkan saja, anak-anak, remaja, orang tua dengan mudah mengakses video mesum melalui HP. Setelah nonton, pasti ada yang penasaran untuk menyalurkan hasrat,” ungkap wanita berjilbab itu.
Selain itu, pergaulan atau faktor lingkungan juga bisa menyokong lahirnya seks bebas. Di kalangan remaja misalnya, karena ingin dikatakan gaul, keren, hidup kebarat-baratan, dihalalkan lah free sex. Malah, yang paling parah, ada remaja putri yang sengaja menjual diri dan berperilaku seks bebas karena ingin memenuhi gaya hidup yang higj class. (b)
