MAKALE, BKM — Kondisi jalan poros Mappak-Makale terus menuai protes dari warga. Sebab akses ini berlumpur dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat, kecuali mobil dobel gardan.
Ketua Komisi III DPRD Tana Toraja Kristian Lambe meneruh perhatian serius terhadap kerusakan jalan ini. Politisi Partai Demokrat ini bersuara keras dengan menagih janji pemerintah kabupaten.
Menurutnya, Pemkab Tator pernah berjanji bahwa jalan poros ke kecamatan terjauh sudah tuntas dalam lima tahun. Namun kenyatannya, sangat jauh dari harapan. Kerusakan jalan masih banyak ditemukan di wilayah terpencil.
”Dari kunjungan kerja Komisi III ke wilayah Mappak baru-baru ini, ditemukan kondisi jalan yang rusak parah,” terang Kristian Lambe, kemarin.
Menurutnya, uang dari APBN yang dikucur ke Tana Toraja untuk proyek infrastruktur, mencapai ratusan miliaran. Meski begitu, masih banyak jalan yang rusak berat. ”Jadi wajar kalau kami pertanyakan, kemana anggaran itu dipakai,” cetusnya.
Tidak meratanya pembangunan antarkecamatan, diakui Kristian, membuat kecamatan di Toraja bagian Barat (Tobar) masih masuk kategori wilayah terpencil. Seperti Kecamatan Simbuang, Mappak, Bongkar, Rano, Malimbong Balepe, Bittuang, Masanda, Ulusalu dan Rembon.
Tidak salah jika mahasiswa dari sembilan kecamatan di Toraja Barat itu sering menggelar aksi demo ke DPRD dan pemkab meminta perhatian agar jalan poros ke wilayahnya ditingkatkan, sekaligus menagih janji pemkab.
”Tuntutan mahasiswa sangat wajar, karena begitu melimpahnya produksi pertanian masyarakat yang harus dijual ke pasar. Tapi karena jalannya rusak parah, akhirnya hasil bumi dijual murah. Sebab biaya angkut hasil pertanian ke pasar sangat mahal,” jelas Kristian Lambe.
Akibat kerusakan jalan ini, untuk ke Mappak harus melalui Kabupaten Enrekang, Pinrang, Polmas, dan Mamasa. Padahal apabila akses jalan ke Mappak sudah baik, dapat perpendek waktu jarak tempuh. (gus/rus/c)