MAKASSAR, BKM — Lima lurah finalis Lurah Penggerak Makassar Majukan Lorong (Majurong) mempresentasikan makalahnya di depan tim juri di lantai 8 Balaikota Makassar, Kamis (5/11).
Adapun tema makalah yang dipresentasikan oleh kelima lurah adalah “Peluang dan Tantangan Lurah Dalam Menggerakkan Partisipasi Masyarakat di Majurong”.
Lurah pertama yang tampil di depan tim juri yang terdiri dari M Iskandar, Muh Yusuf dan Muh Arsan Fitri adalah Lurah Paccerakang, Ekayani Prativi.
Dalam pemaparannya, Ekayani mengatakan, untuk melakukan perubahan di tengah-tengah masyarakat yang utama adalah mengubah mindset atau cara berpikir masyarakat. Misalnya soal hidup bersih dan menjaga kebersihan lingkungan. “Kadang kalau masyarakat tidak diajak komunikasi, mereka cuek,” kata Ekayani.
Makanya, ada beberapa strategi yang dilakukan Ekayani untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memajukan lorong. Diantaranya adalah melakukan pendekatan sentuhan hati. Dimana, ia sebagai lurah aktif turun ke masyarakat dan berkomunikasi dengan menyentuh hati mereka.
“Misalnya, apakah mereka tidak tersinggung ketika lorong lain bersih, sementara lorongnya kotor,” katanya.
Strategi lain, kata Ekayani, adalah menggelar tudang sipulung secara rutin, kerja bakti dan membangun lorong yang indah yang diharapkan bisa menjadi virus untuk lorong-lorong yang lain.
Makalah Ekayani mendapat respons positif dari tim juri. Muh Yusuf dan Muh Arsan Fitri menilai pendekatan sentuhan hati adalah hal yang baru dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Hanya saja, program ini harus dibuat secara detail.
“Mungkin perlu dijelaskan secara teknis bagaimana konsep pendekatan sentuhan hati. Bisa saja konsep ini diadopsi oleh kelurahan yang lain,” kata Yusuf, salah satu tim juri.
Yusuf juga menilai butuh kerja keras untuk melaksanakan tudang sipulung menemui 8.000 warga Kelurahan Paccerakang. “Tapi Lurah Paccerakang ini telah membuat terobosan luar biasa di wilayahnya,” kata Yusuf. Tim juri yang lain, Iskandar juga memuji apa yang dilakukan Ekayani.
Usai Ekayani, giliran Lurah Pisang Selatan, A Rina Pallawagau memaparkan makalahnya. A Rina pun tak mau kalah. Ia juga menampilkan lorong-lorong yang ia telah benahi bersama warganya.
Menurut A Rina, lantaran space yang terbatas, warganya memilih memanfaatkan tembok vertikal untuk menanam sayuran dan bunga. “Alahmdulillah sekarang sudah banyak lorong yang kami benahi,” katanya.
Untuk meningkatkan partisipasi warga, selain mengaktifkan kerja bakti, A Rina juga rutin melakukan senam lorong. Dengan senam lorong ini, kata A Rina, masyarakat yang tadinya tidak saling kenal, jadi saling kenal. “Dengan begitu mereka bisa diajak untuk bersama-sama membersihkan lorong,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, A Rina juga mengungkapkan bahwa di Pisang Selatan ada sekitar 90 orang janda. Para janda ini, katanya, ia berdayakan dengan mengelola bank sampah, membuat kerajinan tangan dan menanam tanaman produktif. “Hasilnya lumayan, mereka sudah bisa produktif,” katanya.
Sementara, bagi warganya yang sehari-hari memiliki usaha besar, partisipasi mereka dalam bentuk barang dan uang. “Ini digunakan untuk memberdayakan masyarakat lorong,” katanya.
Sama seperti Ekayani, A Rina juga mendapat apresiasi dari tim juri. Utamanya soal strategi meningkatkan partisipasi warga dengan senam lorong. “Ini juga adalah hal yang baru. Saya selalu senang dengan hal-hal yang baru untuk mengatasi setiap masalah,” kata tim juri Muh Yusuf.
Sementara itu, Lurah Untia, Andi Patiroy yang tampil di urutan ketiga tidak mau kalah. Yang pertama ia tampilkan ada desain logo Kelurahan Untia. Dimana, pada logo tersebut terdapat kapal layar dimana kapalnya terbuat dari pisang dengan lima ombak (lima RW) dan delapan arah mata angin.
Andi Patiroy menjelaskan, untuk meningkatkan partisipasi warganya dalam Majurong, ia melakukan jalan santai, dan aktif turun ke masyarakat. “Selain itu kami juga memfasilitasi warga kami menjadi pengupas kulit mente dari pabrik di kawasan KIMA. Dimana, biji-biji mente tersebut dibawa ke rumah warga lalu dikupas. Setelah itu biji mente tersebut dibawa kembali ke pabrik. Warga saya akan mendapatkan upah dari hasil kerjanya,” kata Patiroy.
Dengan model ini, maka masyarakat merasa diperhatikan. Makanya, ketika mereka diajak menjaga kebersihan dan kerja bakti, mereka pasti beramai-ramai turun.
“Wilayah saya mayoritas penduduk bekerja sebagai nelayan. Makanya pendekatan ke warga nelayan agak berbeda dengan warga yang lain,” katanya.
Soal karakteristik penduduk, juga dirasakan Lurah Buloa, Iraman dan Lurah Tanjung Merdeka, Jamaluddin. Mereka pun di wilayahnya cukup banyak berprofesi sebagai nelayan.
“Untuk mengajak masyarakat berpartisipasi saya melakukan pendekatan berbeda antara para nelayan dan warga yang bermukim di kompleks. Para nelayan saya dekati hari Senin hingga Jumat karena saat Sabtu dan Minggu mereka menjaga pondok-pondok di Tanjung Bayang,” kata Jamaluddin. (man-arf/b)
Perkenalkan Pendekatan Sentuhan Hati, Ada juga Berdayakan Janda

BKM/CHAIRILPRESENTASI - Lima lurah yang masuk lima besar Lurah Penggerak Majurong mempresentasikan makalahnya di depan tim juri di lantai 8 Balaikota Makassar, Kamis (5/11).